PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dua pintu pelimpahan (spillway gate) Waduk PLTA Koto Panjang dibuka setinggi 50 sentimeter (cm) sejak dua pekan lalu. Daerah hilir aliran Sungai Kampar di Pelalawan mulai terdampak. Sejumlah desa dan kelurahan di bantaran sungai daerah ini dilanda banjir, Kamis (8/1).
Warga setempat pun terpaksa melakukan aktivitas menggunakan alat transportasi air. “Ya, tingginya curah hujan, pasang laut yang besar dan efek pembukaan pintu Waduk PLTA Koto Panjang telah menyebabkan elevasi Sungai Kampar terus naik mencapai 2,45 meter di atas batas normal,’’ ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan, kemarin.
“Air Sungai Kampar meluap hingga merendam akses jalan darat warga di sejumlah daerah perairan di Pelalawan. Akibat banjir ini, warga setempat terpaksa harus menjalani aktivitas menggunakan sampan dan pompong,” tambah mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini.
Banjir terparah berada di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalankerinci. Bahkan, akses yang menghubungkan Jalan Koridor PT RAPP ke areal perkampungan desa setempat ini terendam dengan tinggi permukaan air mencapai 40 cm. Jalan sepanjang sekitar 6 kilometer (km) ini putus total dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kondisi ini telah menyebabkan masyarakat setempat menjadi terisolir. “Selain memutus akses jalan, banjir juga mulai merendam sebagian pekarangan permukiman warga yang berada di bantaran Sungai Kampar. Yakni dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 15 sentimeter. Namun, sejauh ini tidak ada rumah warga yang terendam karena mayoritas warga telah membangun rumah panggung dengan ketinggian mencapai 3 meter dari permukaan air Sungai Kampar,” jelasnya.
Selain Desa Rantau Baru, banjir juga mulai menggenangi akses jalan dari simpang Langgam ke Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam. Namun ketinggiannya sekitar 10 sampai 15 cm dan masih bisa dilalui kendaraan masyarakat.
Sementara itu, kondisi di Kelurahan Pelalawan, air masih naik turun akibat pasang. Namun demikian, sejauh ini belum menganggu aktivitas masyarakat dan permukiman. “Sedangkan daerah lain yang rawan terdampak banjir masih aman dan belum terendam. Termasuk Jalan Lintas Timur (Jalintim) kilometer 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras masih bebas dari banjir,” ujarnya.
Berdasarkan data pemantauan Status Indicator Level Air Ferry Langgam, Kamis (8/1), pukul 15.00 WIB, ketinggian muka air berada di angka 2,45 meter. Tercatat terjadi kenaikan elevasi air sekitar 5 cm dibandingkan pagi hari sebelumnya, seiring masuknya periode pasang naik air laut.
Meski demikian, pihaknya memastikan bahwa operasional ponton penyeberangan di Feri Langgam masih dalam kondisi aman dan kondusif, dengan status indikator level air dinyatakan normal. “Aktivitas penyeberangan berjalan normal. Untuk itu, kita berharap air segera surut, sehingga akvitas masyarakat di daerah aliran kembali normal,’’ ujarnya.
“Kami bersama pihak kecamatan terus intens melakukan pemantauan perkembangan debit air sungai, baik Sungai Nilo maupun Sungai Kampar. Kami juga intens berkoordinasi dengan Pemkab Kampar dan pihak Waduk PLTA Koto panjang sehingga jika banjir terjadi dapat dilakukan penggulangan secara cepat agar tidak terjadi korban jiwa,’’ tambahnya.
Masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai juga dimbau tidak melakukan banyak aktivitas. ‘’Tetap waspada terhadap potensi banji akibat kenaikan air susulan. Apalagi kondisi saat ini telah masuk musim penghujan. Diharapkan tidak berdampak negatif yang menelan korban jiwa,” tuturnya.
Elevasi Waduk 80,42 Meter
Dua pintu pelimpahan (spillway gate) Waduk PLTA Koto Panjang dibuka setinggi 50 cm sejak dua pekan lalu. Hingga Kamis (8/1) pukul 19.00 WIB, elevasi waduk tercatat berada pada posisi 80,42 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Manajer PLTA Koto Panjang Dhani Irwansyah, menjelaskan pukul 19.00 WIB, debit air keluar (outflow) melalui turbin mencapai 335,45 meter kubik per detik (m³/s). Sementara outflow dari dua spillway yang masing-masing dibuka 50 sentimeter tercatat sebesar 137,6 m³/s. Dengan inflow waduk mencapai 1.088,19 m³/s, total outflow berada di angka 473,05 m³/s.
Sebelumnya, pukul 13.00 WIB, elevasi waduk berada di posisi 80,28 mdpl. Saat itu, outflow turbin tercatat 333,73 m³/s, outflow spillway 137,6 m³/s, dan inflow waduk 1.088,47 m³/s, dengan total outflow sebesar 473,33 m³/s. Sementara pukul 07.00 WIB, elevasi waduk berada di angka 80,19 mdpl. Outflow turbin mencapai 339,45 m³/s, outflow spillway 137,6 m³/s, inflow waduk 477,05 m³/s, dengan total outflow sebesar 477,05 m³/s.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menyampaikan, kondisi Sungai Subayang, Sungai Kampar, dan Sungai Tapung hingga kini masih terpantau aman. Hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan banjir dari camat maupun kepala desa.
“Kami mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Subayang, Sungai Kampar, dan Sungai Tapung agar tetap waspada, mengingat kondisi cuaca dan potensi hujan,” ujar Adi Candra.
Hal senada disampaikan salah seorang warga Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Iyan. Ia mengatakan, kondisi Sungai Subayang masih aman meskipun hujan gerimis mengguyur wilayah tersebut sejak subuh. “Walaupun hujan turun sejak subuh, kondisi Sungai Subayang masih aman,” ujarnya.
Kuansing Hujan Seharian, Pantau Sungai Kuantan
Sejak Rabu (7/1) malam hingga Kamis (8/1), wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) diguyur hujan lebat secara merata. BPBD Kuansing pun melakukan pemantauan kondisi Sungai Kuantan di bagian hulu hingga hilir, termasuk di daerah Sijunjung Sumatera Barat.
Hasilnya, air debit Sungai Kuantan dalam kondisi normal. “Kita memang hari ini diguyur hujan lebat secara merata. Namun air debit Sungai Kuantan tidak mengalami penambahan yang signifikan dan masih normal,” kata Kalaksa BPBD Kuansing, H Yulizar, kemarin.
Penambahan air Sungai Kuantan juga dipengaruhi hujan dengan intensitas tinggi di daerah Sumatera Barat (Sijunjung). Hasil koordinasi dengan Kalaksa BPBD Sijunjung, saat ini di daerah itu juga hujan tetapi intensitas ringan. “Jadi penambahan air sungai yang menghubungkan dua daerah ini tidak bertambah signifikan,” katanya.
Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD disiagakan untuk mengantisipasi potensi banjir rob yang kembali mengancam sejumlah wilayah pesisir dan bantaran sungai, khususnya di Tembilahan dan sekitarnya, Kamis (8/1).
Kalaksa BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Ari Syuria mengatakan, personel TRC siaga selama 24 jam serta melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan banjir rob. “Kami terus memantau perkembangan pasang surut air laut dan curah hujan, terutama di wilayah yang setiap tahun terdampak banjir rob,” ujarnya.
Menurut Ari, sejumlah kawasan yang berada di dataran rendah dan dekat dengan aliran sungai menjadi prioritas pemantauan. BPBD juga telah menyiapkan peralatan evakuasi, logistik darurat, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa.
“Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama saat pasang puncak. Jika air mulai masuk ke rumah, segera laporkan kepada aparat setempat atau BPBD agar bisa ditindaklanjuti,” tambahnya.
Banjir di Sontang Terus Surut
Kamis (8/1) petang, kondisi banjir dari luapan air Sungai Rokan dan air Sungai Hitam di ruas Jalan Provinsi Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu menuju Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis terus surut.
Namun kendaraan roda empat khususnya mobil pribadi (kecil) masih belum direkomendasikan untuk melintas. Pengguna jalan diminta tetap menggunakan jalur alternatif demi keselamatan. Sekretaris Camat (Sekcam) Bonai Darussalam Suratman SAP menjelaskan, dari empat titik banjir, satu titik kini sudah dapat dilewati kendaraa roda empat kecil. “Kami tetap mengimbau agar pengendara mencari jalan alternatif,” ujarnya.
Dia merincikan, titik pertama dari arah Sontang menuju Duri, kondisi banjir memang sudah mulai surut. Kondisi jembatan kayu darurat di lokasi tersebut untuk kendaraan roda dua sudah tidak terendam air. Bahkan, jembatan darurat di sebelah kanan dari arah Sontang sudah dapat difungsikan.
“Titik kedua berada di sekitar jembatan sebelah kiri dari arah Desa Sontang. Kondisinya hari ini (kemarin, red) air masih cukup tinggi bagi kendaraan kecil. Sehingga belum aman untuk dilintasi. Titik tiga dekat gapura, mobil dari arah Duri menuju Sontang belum disarankan melintas di sana,” tambahnya.
Meski genangan air di beberapa lokasi sudah menurun, Suratman menegaskan titik pertama Dusun I Desa Sontang masih tergolong parah dan belum bisa dilewati kendaraan roda empat, walaupun air telah berangsur surut. Sementara untuk mobil dump truk bisa. Namun tetap ekstrahati-hati karena ada beberapa titik jalan yang terendam struktur tanahnya rendah dan berlubang.
‘’Kami dari Pemerintah Kecamatan Bonai Darussalam terus memantau perkembangan kondisi banjir dan arus lalu lintas di ruas jalan provinsi Sontang menuju Duri. Masyarakat atau pengguna jalan diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi imbauan yang disampaikan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,’’ tambahnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau juga menerima laporan bahwa kondisi debit air Sungai Kampar yang ada di Kabupaten Pelalawan mulai mengalami kenaikan. Di beberapa wilayah, debit air dilaporkan sudah mulai menggenangi jalan koridor milik perusahaan di area tersebut.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, kenaikan debit air ini diprediksi akibat pembukaan pintu Waduk PLTA Koto Panjang. “Debit air di Kerinci yang merupakan aliran sungai Kampar dilaporkan mulai naik. Ada yang sampai menggenangi jalan koridor perusahaan, tapi masih bisa dilintasi kendaraan,” katanya.
Sementara itu, untuk kondisi sungai Kampar yang ada di Kabupaten Kampar juga dilaporkan mengalami kenaikan sekitar 30 cm. Namun kondisi tersebut belum menyebabkan banjir yang hingga menggenangi pemukiman warga. “Kalau untuk di Kampar belum ada laporan banjir. Ada kenaikan muka air tapi belum berdampak banjir,” sebutnya.
Untuk di Indragiri Hilir, pihaknya hingga saat ini belum mendapatkan laporan berapa jumlah masyarakat yang terdampak banjir rob. Pihaknya juga masih menunggu laporan dari pemerintah setempat. “Untuk banjir rob di Tembilahan Indragiri Hilir belum juga ada laporan, kami masih menunggu laporan resminya,” ujarnya.(amn/dac/*2/epp/sol/das)
Editor : Bayu Saputra