Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tari Zapin Massal 6 Ribu Peserta Pecahkan Rekor Dunia

Soleh Saputra • Senin, 12 Januari 2026 | 07:44 WIB

Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto didampingi Ketua BKOW Riau Adrias memperlihatkan Piagam Rekor MURI Tari Zapin Massal 6.000 peserta di Pekanbaru, Ahad (11/1/2026).
Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto didampingi Ketua BKOW Riau Adrias memperlihatkan Piagam Rekor MURI Tari Zapin Massal 6.000 peserta di Pekanbaru, Ahad (11/1/2026).


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tari zapin massal yang diikuti oleh 6.000 peserta di Jalan Diponegoro Pekanbaru, Ahad (11/1) berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dan rekor dunia. Tidak hanya menari zapin, para peserta juga kompak mengenakan busana kebaya labuh kekek.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto mengatakan pemecahan rekor MURI ini adalah bukti bahwa Riau tidak pernah goyah meski dihantam badai modernitas yang kian menderu di ufuk zaman. “Riau memilih jalan yang berbeda. Kita memilih untuk maju tanpa tercerabut, berkembang tanpa meninggalkan akar, dan membangun tanpa mengorbankan nilai,” tuturnya, kemarin.

Di matanya, keberhasilan mengumpulkan ribuan penari ini adalah sebuah diktum budaya bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya menenggelamkan pusaka moyang, melainkan harus berjalan beriringan dalam harmoni yang indah. Lebih jauh, ia memaknai tari zapin sebagai sebuah peradaban yang diterjemahkan ke dalam olahraga dan rasa. Baginya, setiap derap langkah yang serempak adalah pengejawantahan dari disiplin, kekompakan, dan adab yang luhur.

“Zapin mengajarkan sebuah filosofi hidup yang mendalam, bahwa kebersamaan adalah fondasi yang jauh lebih utama daripada keinginan untuk menonjolkan diri sendiri, dan kecantikan sejati hanya bisa lahir dari keteraturan batin,” sebutnya.

Keanggunan itu pun terpancar dari busana kebaya labuh kekek yang membalut raga para penari perempuan, menciptakan sebuah narasi tentang kehormatan yang tak lekang oleh waktu.

SF Hariyanto menegaskan, bahwa di saat dunia seakan berlomba-lomba mempertontonkan kebebasan yang tanpa sekat, perempuan Melayu Riau justru berdiri tegak menunjukkan bahwa kesantunan adalah sebuah kekuatan yang menggetarkan. Pakaian tersebut adalah benteng marwah, lambang kemuliaan yang dijaga dengan penuh ketulusan.

“Begitu pula kebaya labuh kekek yang dikenakan hari ini (kemarin, red). Di saat dunia berlomba-lomba menampilkan kebebasan tanpa batas, perempuan Melayu Riau justru menunjukkan bahwa kehormatan adalah kekuatan, bukan kelemahan,” ungkapnya.

“Pemprov Riau tidak akan membiarkan budaya Melayu hanya hidup di panggung seremonial. Komitmen kami jelas dan terukur,” ungkap SF Hariyanto dengan penuh keyakinan.

Ia berjanji bahwa perempuan-perempuan Melayu akan terus didorong untuk menjadi garda terdepan sebagai penjaga nilai-nilai luhur, memastikan bahwa mereka adalah ruh utama dalam pelestarian budaya, bukan sekadar pelengkap hiasan dalam sebuah acara.

Satu hal yang memantik kekaguman adalah kemandirian di balik kemegahan acara ini, di mana seluruh rangkaian kegiatan terselenggara tanpa menyentuh sepeser pun dana APBD.

SF Hariyanto memberikan apresiasi setinggi langit kepada Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau atas dedikasi yang tak terhingga. Baginya, ini adalah kerja konsistensi, sebuah pengabdian yang lahir dari keyakinan batin dan kecintaan yang tulus terhadap tanah tumpah darah, bukan sekadar tugas administratif.

Bagi pemerintah daerah, torehan rekor ini bukanlah garis finish, melainkan sebuah titik mula bagi sebuah gerakan kebudayaan yang lebih masif dan berkesinambungan.

Angka 6.000 penari itu bukanlah sekadar statistik di atas kertas rekor, melainkan sebuah proklamasi kepada seluruh penjuru Indonesia bahwa Riau menjaga warisan leluhurnya dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang bermartabat, dan dalam bingkai kebersamaan yang kokoh.

SF Hariyanto mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus merawat api tradisi ini agar tak padam ditelan masa. Pementasan kolosal di Jalan Gajah Mada itu adalah sebuah monumen hidup tentang jati diri bangsa yang teguh. Zapin akan terus menari di Bumi Lancang Kuning, menjadi pengingat bahwa di setiap langkah yang kita ambil, ada doa dan nilai-nilai leluhur yang senantiasa menuntun jalan menuju masa depan yang gemilang. 

Ketua BKOW Riau Adrias Hariyanto mengatakan, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang terlibat dalam tari zapin masal kali ini. Di mana banyak organisasi kewanitaan yang terlibat dan ikut menyukseskan kegiatan ini.

Kebahagiaan semakin bertambah ketika tarian Zapin ini tidak hanya berhasil memecahkan rekor MURI saja, namun juga rekor dunia. “Alhamdulillah kita sangat bangga sekali, tidak hanya rekor MURI saja tapi juga rekor dunia,’’ uajrnya.

‘’Mungkin kalau tidak ada kerjasama dari semua peserta yang terlibat, kita tidak bisa mendapatkan capaian seperti ini. Terimakasih sekali lagi kami ucapkan kepada seluruh peserta yang terlibat. Mari terus lestarikan budaya Melayu dan wariskan ke generasi penerus,” tambahnya.(adv/sol)

Editor : Arif Oktafian
#rekor muri #tari zapin #riau #massal #pekanbaru