Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Karhutla Sudah Melanda 10 Kabupaten dan Kota di Riau

Tim Redaksi • Kamis, 29 Januari 2026 | 14:42 WIB
Tim Reaksi Cepat BPBD Indragiri Hilir berjibaku memadamkan api yang membakar hutan di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, Rabu (28/1/2026).
Tim Reaksi Cepat BPBD Indragiri Hilir berjibaku memadamkan api yang membakar hutan di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, Rabu (28/1/2026).


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi di 10 kabupaten/kota di Riau. Dari 10 daerah tersebut, total luasan karhutla 59,38 hektare (ha).

Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, 10 daerah tersebut adalah Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), Kuantan Singingi (Kuansing), Dumai, dan Pekanbaru. “Hingga saat ini sudah 10 daerah di Riau yang ditemukan terjadi karhutla,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, karhutla di Dumai tercatat seluas 7 hektare, Bengkalis 15,01 hektare, Kepulauan Meranti 2,70 hektare, Siak 5,30 hektare, Pekanbaru 8,43 hektare, Kampar 7,25 hektare, Pelalawan 6 hektare, Inhu 1,30 hektare, Inhil 5 hektare, dan Kuansing 1,50 hektare. “Juga ditemukan 200 hotspot atau titik panas dengan fire spot atau titik api sebanyak 40,” ujarnya.

Namun demikian, saat ini karhutla yang terjadi di beberapa wilayah tersebut dilaporkan sudah berhasil ditangani oleh tim gabungan di lokasi. “Laporan dari masing-masing daerah Karhutla diwilayah sudah bisa ditangani. Sudah ada yang padam total dan ada juga yang masih proses pendinginan,” sebutnya.
Dua Titik Karhutla Muncul di Gaung

Karhutla kembali terjadi di Inhil. Hingga Rabu (28/1), dua titik kebakaran terpantau aktif di Kecamatan Gaung, yakni di Desa Simpang Gaung dan Dusun Siagas Jaya, Desa Belanta Raya. Di Desa Simpang Gaung, penanganan karhutla telah memasuki hari ketiga. Lahan seluas kurang lebih 8 hektare dilaporkan terbakar.

Baca Juga: Tunjangan Profesi 206 Ribu Guru Kemenag Belum Tersedia

Hingga sore hari, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Inhil masih melakukan pemadaman lanjutan dan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala. Pemadaman dipusatkan di titik koordinat 0⁰05’44.3”S 103⁰06’22,3”E. Kondisi angin kencang menjadi salah satu kendala utama di lapangan, sehingga pendinginan harus dilakukan secara berulang.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Ari Syuria menyampaikan, hingga kini kondisi di lokasi belum sepenuhnya aman. “Tim masih melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik rawan,” ujarnya.

Sementara itu, titik karhutla lain terdeteksi di Dusun Siagas Jaya, Desa Belanta Raya. Penanganan di lokasi ini merupakan hari pertama bagi TRC BPBD Tim 2. Hingga kini petugas juga masih melakukan pemadaman, dengan luasan lahan terbakar masih dalam pendataan.

Ari mengatakan, selain angin kencang, jarak sumber air yang cukup jauh serta akses jalan sempit dan jauh menjadi kendala dalam proses pemadaman. “Tim masih melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi,” jelasnya.

Dalam penanganan dua titik karhutla tersebut, BPBD Inhil mengerahkan personel gabungan bersama TNI, Polri, aparat desa, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta masyarakat setempat. BPBD Inhil mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat kondisi cuaca yang masih rawan memicu kebakaran lanjutan.

Baca Juga: ALAMAAAK! Lado bukan Cabai

Api di Rupat dan Mandau, Tim Siaga

Cuaca panas dan angin kencang membuat kobaran api yang membakar lahandi Kecamatan Rupat dan Mandau, Kabupaten Bengkalis masih sulit dipadamkan. Selain masalah sumber air untuk memadamkan api, juga kondisi lahan kering serta terpaan angin kencang membuat petugas harus siaga.

Dari lima kecamatan yang terjadi karhutla sejak pekan lalu, saat ini tinggal dua kecamatan yang masih dilakukan upaya pemadaman dan pendinginan api oleh Tim Satgas Karhutla. “Tinggal di Desa Sukarjo Mesim Kecamatan Rupat dan Kelurahan Pematang Pudu Kecamatan Mandau,” ujar Manajer Pusdalops-PB BPBD Bengkalis Erzansyah, Rabu (28/1).

Ia menyebutkan, kondisi cuaca panas dan luas lahan yang terbakar di Sukarjo Mesim dari 2 haktare menjadi 2,5 hektare. Namun untuk api permukaan sudah berhasil dipadamkan dan masih dalam proses pendinginan oleh petugas di lapangan. Sedangkan di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, luas lahan yang terbakar cukup luas yang mencapai 6 hekrtare dengan kondisi lahan gambut dan semak belukar serta perkebunan sawit masyarakat.

“Memasuki hari ke-6, di lokasi kebakaran masih ada titik asap. Tim gabungan masih berupaya melakukan pendinginan dan kondisi sumber air sangat sulit dan siang hari api hidup kembali. Ini dikarenakan cuaca panas dan angin kencang. Jadi tim masih berupaya melakukan pemadaman api,” jelasnya.

Erzan mengatakan, sampai saat ini terpantau titik panas yang terdeteksi merupakan titik panas areal terbuka dan bisa menjadi firespot, menyesuaikan kondisi di lapangan yang belum turun hujan sehingga memperparah kondisi kebakasannya.

“Ada 8 titik api dengan  8 kejadian. Sedangkan luas lahan yang terbakar mencapai 15,5 hektare. Ini kondisi dan perkembangan titik panas dan sudah berhasil dipadamkan. Kami tetap siaga di lapangan karena sampai saat ini cuaca panas dan angin bertiup cukup kencang serta tidak ada turun hujan selama tiga pekan,” ujar Erzansyah.

Baca Juga: J&T Express Indonesia Sumbang Peningkatan Pengiriman Lebih dari 60 Persen secara Global

Sempat Melonjak, Titik Panas Tersisa 46

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Pekanbaru masih menemukan adanya titik panas di Riau dan Pulau Sumatera. Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Bibin Sulianto menjelaskan, Rabu (28/1) masih ditemukan 433 sebaran titik panas wilayah Sumatera.

‘’Terbanyak di Provinsi Aceh 259. Disusul Provinsi Sumatera Barat 49, Riau 46, Sumatera Utara 43, Bengkulu 15, Lampung 14, Kepulauan Riau 5, Sumatera Selatan 1, dan Kepulauan Bangka Belitung 1. Sedangkan titik panas di Riau tersebar di Kabupaten Bengkalis 13, Kepulauan Meranti 1, Pelalawan 7, Rokan Hilir 4, Rokan Hulu 1, dan terbanyak di Kabupaten Indragiri Hilir 20,’’ jelasnya.

Meksipun begitu, BMKG menegaskan bahwa adanya titik panas, tidak selalu berarti karhutla sedang terjadi di titik tersebut. Pasalnya hotspot merupakan indikator yang mendeteksi lokasi dengan suhu permukaan relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Satelit menangkap anomali panas ini, namun tidak secara langsung membedakan antara api kebakaran atau objek panas lain.

“Adanya peningkatan titik panas bukan berarti hal tersebut merupakan karhutla. Perlu pengecekan lebih lanjut dari sejumlah daerah untuk memastikan titik panas tersebut benar merupakan karhutla yang harus ditangani oleh pihak terkait lainnya,” ucapnya.

“Berdasarkan pantauan BMKG diperkirakan bulan Februari pada umumnya Riau sudah memasuki musim kemarau pertama di tahun 2026. Musim kemarau pertama ini berlangsung satu hingga ua 2 bulan. Waspada peningkatan jumlah titik panas yang dapat menimbulkan bencana asap di wilayah Riau,” imbaunya.(sol/*2/ksm/ayi)

Editor : Arif Oktafian
#BPBD Damkar Riau #karhutla #riau #pemadaman api