Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Luasan Karhutla di Riau Sudah Capai 68,97 Ha 37 Titik Panas, Terbanyak di Bengkalis

Redaksi • Minggu, 1 Februari 2026 | 12:43 WIB
Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK ikut melakukan pemadaman karhutla di Jalan Lintas Timur km 73 Tanjung Raya, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Jumat (30/1/2
Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK ikut melakukan pemadaman karhutla di Jalan Lintas Timur km 73 Tanjung Raya, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Jumat (30/1/2

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, hingga saat ini mencatat sudah ada 10 kabupaten/kota di Riau yang terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada awal tahun ini. Dari 10 daerah tersebut, total luasan karhutla sebanyak 68,97 hektare (ha).

Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, ke-10 daerah yang sudah terjadi karhutla tersebut yakni Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), Kuantan Singingi (Kuansing), Kota Dumai dan Pekanbaru.

“Hingga saat ini sudah 10 daerah di Riau yang ditemukan terjadi karhutla. Total luasan karhutla 68,97 ha,” katanya. Karhutla di Kota Dumai hingga saat ini tercatat seluas 8,50 ha, Bengkalis 15,01 ha, Kepulauan Meranti 2,70 ha, Siak 5,30 ha, Pekanbaru 8,51 ha, Kampar 7,25 ha, Pelalawan 6 ha, Inhu 1,20 ha, Inhil 13 ha dan Kuansing 1,50 ha.

“Dari rincian luasan tersebut, juga ditemukan 245 hotspot atau titik panas dengan jumlah fire spot atau titik api sebanyak 41,” ujarnya.

Namun demikian, saat ini karhutla yang terjadi di beberapa wilayah tersebut dilaporkan sudah berhasil ditangani oleh tim gabungan di lokasi.

“Laporan dari masing-masing daerah karhutla di wilayah sudah bisa ditangani. Sudah ada yang padam total dan ada juga yang masih proses pendinginan,” sebutnya.

Dalam upaya penanganan karhutla, disebutkan M Edy saat ini sudah banyak unsur yang terlibat. Mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan juga pihak-pihak perusahaan.

“Karena Riau belum menetapkan status siaga darurat karhutla, saat ini penanganan masih dilakukan oleh masing-masing daerah. Meskipun demikian, koordinasi tetap dilaksanakan agar pemadaman berjalan efektif,” ujarnya.

37 Titik Panas, Terbanyak di Bengkalis

Memasuki akhir pekan, Provinsi Riau masih ikut menyumbang 37 titik panas di Pulau Sumatera pada Sabtu (31/1). Menurut Prakirawan BMKG Pekanbaru Deby C, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG pukul 16.00 WIB, total ada 110 titik panas (hotspot) wilayah Sumatera. Titik panas itu tersebar di Provinsi Kepulauan Riau 44, disusul Riau 37, Aceh 5, Jambi 3, Sumatera Utara 11, Sumatera Barat 2, dan Bangka Belitung 8.

Sementara itu, untuk wilayah Riau, titik panas terbanyak didominasi Kabupaten Bengkalis 11, Indragiri Hilir 7, Pelalawan 4, Siak 3, Rokan Hilir 2, Rokan Hulu 1, Kepulauan Meranti 5, dan Kota Dumai 4. Sedangkan visibility di wilayah Riau seperti Pekanbaru berkisar 8 km, Rengat 7 km, Pelalawan 8 km, dan Tambang 10 km.

Meskipun BMKG masih menemukan adanya titik panas (hotspot) di wilayah Riau. Namun jumlah tersebut bukan berarti adanya titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang terjadi di titik tersebut. Pasalnya hotspot merupakan indikator yang mendeteksi lokasi dengan suhu permukaan relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Satelit menangkap anomali panas ini, namun tidak secara langsung membedakan antara api kebakaran atau objek panas lain.

“Adanya peningkatan titik panas bukan berarti hal tersebut merupakan karhutla. Perlu pengecekan lebih lanjut dari sejumlah daerah untuk memastikan titik panas tersebut benar merupakan karhutla yang harus ditangani oleh pihak terkait lainnya,” ucapnya. Untuk cuaca di Provinsi Riau, akhir pekan ini Riau masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang berlangsung sejak pagi hari. Di mana kondisi cuaca di Riau umumnya udara kabur hingga cerah berawan.

Hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi. Siang hingga sore hari, cuaca diprakirakan cerah hingga cerah berawan. Namun, hujan ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, dan Siak.

Pada malam hari, cuaca diprakirakan cerah berawan hingga berawan. Hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi. Sedangkan dini hari, kondisi cuaca umumnya udara kabur hingga berawan, dengan potensi hujan ringan hingga sedang di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu.

Secara umum, suhu udara di Provinsi Riau berkisar antara 23 hingga 33 derajat celsius, dengan kelembapan udara 55 hingga 98 persen. Angin bertiup dari arah utara hingga timur dengan kecepatan 10 hingga 30 kilometer per jam. Untuk wilayah perairan, BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut di perairan Provinsi Riau berkisar 0,5 hingga 1,25 meter atau dalam kategori rendah.

Akhir pekan ini BMKG juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

“Masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Kabupaten Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu pada pagi, siang/sore, serta dini hari,” tegasnya.

Akhiri Siaga Banjir, Rohul Belum Tetapkan Siaga Karhutla

Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Pemkab Rohul) resmi mengakhiri status siaga darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor yang berlaku hingga Sabtu (31/1). Status tersebut dipastikan tidak diperpanjang, menyusul kondisi cuaca yang dinilai mulai stabil dan minim curah hujan di lapangan.

Kalaksa BPBD Rohul H Ridarmanto SIP melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Rohul Boy Arta SIP saat dikonfirmasi Riau Pos, Sabtu (31/1) menyebutkan, pemerintah daerah tidak memperpanjang status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor.

Keputusan itu diambil Pemkab Rohul, setelah melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk mencermati peta potensi curah hujan untuk periode Februari hingga Maret 2026. Dari hasil koordinasi tersebut, BMKG tidak merekomendasikan perpanjangan status siaga banjir.

“Berdasarkan peta potensi hujan Februari dan Maret serta kondisi faktual di lapangan, saat ini hampir tidak ada hujan. Karena itu, status siaga darurat banjir tidak direkomendasikan untuk diperpanjang,” ujar Boy.

Meski demikian, lanjutnya, Pemkab Rohul belum serta-merta menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), karena saat ini cuaca di Kabupaten Rohul terkadang dalam sepekan ada hujan. Untuk penetapan status tersebut, Boy mengatakan, BPBD masih menunggu hasil koordinasi lanjutan dengan BPBD Provinsi Riau dan BMKG.

Menurutnya, prakiraan cuaca pada Februari masih menunjukkan potensi turunnya hujan, meski dengan intensitas rendah dan tidak merata. Secara historis, tahun lalu penetapan status siaga darurat karhutla di Kabupaten Rohul biasanya baru ditetapkan pada bulan Maret.

“Untuk penetapan status siaga darurat bencana karhutla, kami masih berkoordinasi dengan BPBD Riau dan BMKG. Prakiraan cuaca Februari masih ada hujan, walaupun hanya sesekali,” jelasnya.

Boy menegaskan, BPBD Rohul akan terus memantau perkembangan cuaca secara intensif. Saat ini, hujan masih terjadi meski jarang, rata-rata sekali dalam empat hingga lima hari. Kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk menetapkan status siaga karhutla.

“Kalau nanti cuaca berkembang menjadi ekstrem panas dan tidak ada hujan sama sekali, tentu akan kami pertimbangkan untuk menaikkan status siaga karhutla. Namun saat ini belum ada keputusan ke arah tersebut,” tegasnya.

Boy mengimbau kepada masyarakat tetap waspada dan berperan aktif dalam pencegahan bencana, khususnya dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar, meski status siaga karhutla belum ditetapkan oleh Pemkab Rohul.

Bakar Lahan, Dua Petani Ditangkap

Kepolisian Resort (Polres) Pelalawan berhasil mengungkap kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dua petani berhasil ditangkap terkait dugaan pembakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Adapun inisial kedua pelaku, yakni Ja (39) dan Ri (19) yang merupakan warga Segamai, Kecamatan Teluk Meranti.

Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK dikonfirmasi Riau Pos, membenarkan telah mengamankan dua orang terduga pelaku karhutla di tempat kejadian perkara (TKP).

“Ya, saat ini kedua pelaku telah diamankan bersama barang bukti setelah keduanya mengakui perbuatannya usai dilakukan pemeriksaan,” terang Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, Sabtu (31/1) kemarin di Pangkalan Kerinci.

Diungkapkannya bahwa kedua pelaku ditangkap saat personel unit II Tipiter Satreskrim Polres Pelalawan, bersama Polsek Teluk Meranti turun melakukan penyelidikan atas karthutla yang terjadi di Dusun II, Desa Segamai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Kebakaran diperkirakan lebih dari 2 hektare pada Jumat (23/1) lalu.

Dari hasil penyelidikan, lahan gambut yang terbakar terkuak untuk dijadikan kebun sawit. Akhirnya terendus pelakunya Ja dan Ri, hingga keduanya langsung diamankan polisi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidikan, tersangka Ja bersama Ri, mendatangi lahan milik Ri yang sebelumnya telah dibersihkan dengan cara menebang kayu dan semak belukar. Kemudian disarankan oleh Ja, sisa kayu dan semak agar dibakar, supaya lahan terlihat bersih dan terang. Sehingga Ri menerima saran dan membakar lahan miliknya tersebut.(sol/ayi/epp/amn/muh)

Editor : Bayu Saputra
#bmkg #karhutla #karhutla riau #bpbd