PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Galeri Hang Nadim (GHN), galeri seni di Pekanbaru, kembali menggelar pameran yang resmi dibuka Budayawan dan akademisi Dr Elmustian Rahman MA, Senin (2/2/2026) malam.
Mengusung tema IDENTIC 4, GHN melakukan pameran paling aneh selama eksistensi di Bumi Lancang Kuning ini.
Pameran itu adalah pameran hasil penelitian dan kajian dari seniman Junaidi Syam, namun dipaparkan dalam bentuk visual. Tidak tanggung-tanggung yang diteliti dan dipameran hasilnya adalah Ijazah Jokowi yang telah menghebohkan pemberitaan nasional dan jagad maya setahun terakhir.
Kepala GHN Furqon LW sebelum pembukaan mengatakan, kadang sebuah pameran tidak hadir untuk memberi jawaban.
Melainkan mengajak kita berani berhenti sejenak dan berpikir ulang. Itu, kata dia, tentang apa yang kita lihat, apa yang kita percaya, dan bagaimana sebuah citra bekerja membentuk keyakinan.
''IDENTIC 4 lahir dari proses panjang membaca, membandingkan, dan mengidentifikasi jejak visual secara cermat. Di dalamnya ada ketekunan, kehati-hatian, sekaligus keberanian untuk berdiri pada posisi independen. Karya-karya yang ditampilkan bukan sekadar hasil akhir, tetapi rekam proses tentang bagaimana sebuah gambar diuji, dipertanyakan, dan diletakkan dalam kerangka nalar visual,'' ujarnya.
Furqon LW yang terkenal sebagai kartunis Riau yang kritis dalam hampir semua karyanya ini, menekankan, ameran ini tidak menuntut pengunjung untuk setuju. Melainkan hanya mengajak masyarakat dan penikmat seni hadir, melihat langsung.dan ikut menyimak prosesnya.
''Kami percaya, ruang seni juga bisa menjadi ruang diskusi yang tenang, jujur, dan bertanggung jawab. Tempat di mana visual tidak hanya dinikmati, tapi juga dibaca dan direnungkan bersama,'' ujarnya.
Terkait 'Ijazah' yang menjadi objek dari proses penelitian seni ini, Furqon mengatakan, imej ijazah selama ini memang polemiknya telah memenuhi ruang-ruang media sosial dan kanal pemberitaan saat ini.
''Ini yang jadi pembedanya dan kami berharap ini menjadi sesuatu yang baru bagi pengunjung yang datang nanti,'' ujarnya.
Budayawan dan akademisi Dr Elmustian Rahman MA yang membuka secara resmi pameran IDENTIC yang digelar di Galeri Hang Nadim Bandar Seni Raja Ali Haji, Jalan Sudirman, Pekanbaru ini.
Elmustian mengaku telah lama kenal dengan Junaidi Syam sang peniliti ijazah dalam pameran ini. Ia kenal pria itu dengan nama Jon Kobet.
"Saya dan Jon sudah lama saling kerjasama kerja-kerja kebudayaan. Semisal Ekspedisi Empat Sungai selama empat tahun," ujar dosen di salah satu universitas negeri di Pekanbaru ini.
Sedangkan Junaidi Syam dalam pengantarnya menegaskan bahwa IDENTIC 4 adalah kajian yang mengidentifikasi empat imej ijazah yang beredar di media sosial dan berbagai kanal pemberitaan dengan metode komparasi sederhana.
''Dalam desain grafis ijazah harus ada kategori struktur visual identik dan non identik. Salah satu, atau keduanya tidak boleh bermasalah. Ternyata ada masalah yang teridentifikasi. Seperti misalnya, posisi cap/stempel ijazah yang sama persis posisi dan orientasinya dari beberapa imej ijazah yang dikaji. Atau ditemukan visual garis yang semestinya tidak ada pada imej ijazah. Padahal, ijazah adalah materi cetak 'high quality', bukan cetakan sortiran,'' ujarnya.
Junaidi juga membeberkan, pada pas foto ijazah, diidentifikasi pencahayaan dari sisi kanan objek wajah yang difoto. Padahal pas foto untuk ijazah sudah menjadi standar umum berlaku mestilah pencahayaannya merata pada wajah objek foto.
''Ada beberapa masalah lain yang juga teridentifikasi yang semuanya bisa dilihat di ruang pameran," papar alumnus S1 DKV ISI Jogja dan S2 Antropologi UGM ini.
Pembukaan pameran dihadiri kalangan akademisi, budayawan, seniman, komunitas, aktivis, pers dan masyarakat umum. Tampak budayawan Alang Rizal, Syaiful Anuar, seniman Zuarman Ahmad, Fedli Azis, Ade Greden, Anton, aktivis, pers dan pengunjung dari masyarakat umum.
Pameran IDENTIC 4 tidak lama. Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan, pameran hanya berlangsung sepekan aja, atau hingga Ahad (8/2/2026). Pameran dibuka sekitar 12 jam sehari, mulai pukul 10.00 WIB pagi hingga 22.00 WIB malam setiap harinya.
Editor : M. Erizal