PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mencatat, sebagian besar wilayah di Provinsi Riau saat ini mulai memasuki musim kemarau periode pertama.
‘’Bulan Februari ini, sebagian Riau bagian utara, barat, tengah, pesisir, dan timur sudah memasuki musim kemarau periode pertama. Hal ini terlihat berdasarkan pola iklim normal tahunan,’’ jelas Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Bibin Sulianto kepada Riau Pos, Rabu (11/2).
Dengan kondisi ini, BMKG Pekanbaru terus mengingatkan masyarakat dan pihak terkait untuk perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Riau.
“Pada saat musim kemarau ini, masyarakat harus waspada terhadap peningkat jumlah titik panas yang bisa berdampak terhadap bencana asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Bibin Sulianto menambahkan, secara keseluruhan Riau memang memiliki dua musim kemarau dan dua musim hujan dalam satu tahun. Ini menandai bahwa Riau memiliki tipe hujan equatorial.
Hal ini dianggap normal, karena biasanya Provinsi Riau mengalami kemarau pertama pada Februari hingga pertengahan Maret. Sedangkan kemarau kedua terjadi pada Juni hingga September. ‘’Kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu ditingkatkan seiring mulai berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah. Terutama, daerah rawan kebakaran,’’ imbaunya.
Namun jika dilihat dari dinamika atmosfir, Februari hingga Maret dalam kategori la nina lemah sehingga potensi hujan saat kemarau masih bisa terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang. Dijelaskannya lagi, la nina sendiri merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur di bawah rata-rata normalnya.
Kebalikan dari el nino, di mana fenomena ini sering menyebabkan peningkatan curah hujan yang signifikan dan musim hujan yang lebih basah di Indonesia, serta berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
“Walaupun Riau sudah memasuki musim kemarau tapi karena la nina lemah. Artinya dapat memicu angin pasat menguat dan meningkatkan curah hujan di wilayah Riau. Itu sebabnya meskipun cuaca di Riau pada umumnya cerah berawan, namun potensi hujan lokal bisa saja terjadi di daerah Riau,” katanya.
Pelaksana (Plt) Kepala Pelaksanaan (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Ergusfian mengimbau warga untuk waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Pasalnya, sejak beberapa pekan terakhir, cuaca ekstrem yang terjadi meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
“Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada terjadi karhutla dalam wilayah Kabupaten Inhu. Kondisi ini hendaknya terus dijaga dan saling mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas memicu karhutla. Suhu udara pada siang mencapai 32 derajat Celcius hingga 33 derajat Celcius,’’ jelas, Rabu (11/2).
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan,” tambahnya.
Sehari, Empat Karhutla di Inhil
Karhutla kembali terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Rabu (11/2). Dalam sehari, petugas menerima laporan empat titik api yang tersebar di tiga kecamatan. Empat lokasi tersebut berada di Jalan Tanjung Harapan dan Jalan Batang Tuaka, Kecamatan Tembilahan, Parit 4 Kecamatan Tembilahan Hulu serta Desa Pantaian, Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS).
Kalaksa BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kabid Logistik dan Kedaruratan Ari Syuria menyebutkan, begitu menerima informasi, tim langsung melakukan persiapan peralatan dan bergerak ke lokasi. “Petugas piket menerima laporan adanya kebakaran di empat titik,” ujar Ari.
Menurutnya, respons cepat dilakukan guna mengantisipasi api meluas, mengingat kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir cukup panas dan kering. “Untuk di Tembilahan Hulu api sudah berhasil dipadamkan. Saat ini tim masih melakukan pemadaman di tiga lokasi lainnya dengan melibatkan personel gabungan,” jelasnya.
Sementara itu, karhutla yang terjadi di Desa Belantaraya, Kecamatan Gaung, yang sebelumnya diperkirakan mencapai tiga hektare, telah berhasil dipadamkan. Saat ini tim masih melakukan proses pendinginan di lokasi tersebut.
Karhutla di Bengkalis Capai 110 Hektare
Akibat cuaca ekstrem, karhutla di Kabupaten Bengkalis terus meningkat dan belum mampu dikendalikan. Sejak Januari sampai 11 Februari 2026, BPBD Kabupaten Bengkalis mencatat total lahan yang terbakar mencapai 110 hektare.
“Seluruh kecamatan ada titik api. Bahkan luasannya terus meningkat. Ini diakibatkan oleh cuaca ekstrem dan juga panas berkepanjangan. Bahkan terakhir, api makin membesar terjadi di Desa Damai yang sebelumnya terjadi di Desa Kelebuk Kecamatan Bantan yang berbatasan tersebut,” ujar Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bengkalis Erzansyah, Rabu (11/2).
Erzansyah mengatakan, karhutla di Kecamatan Bengkalis, khususnya di Desa Damai masih terus dilakukan pengawasan secara intensif. “Laporan terakhir, luas kebakaran di Desa Damai sekitar 15 hektare,” jelas Erzansyah.
Malam hari petugas tetap melakukan pemantauan dan kegiatan mendinginkan agar bara tidak kembali menjadi api. “Lahan gambut yang kering dengan vegetasi yang sudah sangat kering ini sangat mudah memunculkan titik api baru, apalagi ditambah angin yang kencang,” ungkapnya.
Berdasarkan data BPBD Bengkalis, kebakaran hutan dan lahan lebih banyak terjadi di lahan kosong serta perkebunan, seperti kebun masyarakat karet dan perkebunan sawit. “Terutama di Kecamatan Rupat dan Bandar Laksamana, seperti yang terjadi sebelumnya di Desa Sepahat dan saat ini di Desa Damai,” jelasnya.
Menurutnya, kebakaran terjadi hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bengkalis, mulai dari Kecamatan Rupat, Mandau bagian selatan Talang Mandau, Bandar Laksamana, Siak Kecil, Bengkalis, hingga Kecamatan Bantan. “Dari periode Januari hingga Februari ini, terjadi peningkatan yang sangat signifikan,” ungkapnya.
BPBD Bengkalis mencatat, sejumlah wilayah telah berhasil dipadamkan, seperti Kecamatan Mandau, Bathin Solapan, Bantan, dan Bukit Batu. Namun proses pemadaman dan pendinginan masih berlangsung di Kecamatan Bengkalis, Rupat, dan Bandar Laksamana.
“Saat ini masih tersisa sekitar 80 hektare yang dalam proses penanganan. Di Kecamatan Bengkalis, titik api berada di Desa Air Putih dan Desa Damai, sementara di Bandar Laksamana berada di Desa Tanjung Leban,” ungkap Erzansyah.
Lahan di Telukbatil Sungai Apit Terbakar
Lebih kurang 1 ha lahan warga berisi kebun sawit dan kebun nanas terbakar di Kampung/Desa Telukbatil, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Rabu (11/2) sekitar pukul 14.30 WIB. Kalaksa BPBD Siak Novendra Kasmara mengatakan, masyarakat, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI dan Polri berjibaku memadamkan api.
Asap pekat membatasi pandangan, membuat nafas sesak, dan situasi itu sangat berat bagi semua yang bertugas. “Akses mendapatkan air cukup sulit, hanya ada parit kecil, namun gerak cepat semuanya, api berhasil dipadamkan menjelang senja,” kata Novendra.
Api sudah dilokalisir dengan membuat sekat bakar, sehingga api tidak meluas, dan saat ini tinggal pendinginan. “Kami belum mendapatkan data siapa pemilik lahan, demikian juga penyebab kebakaran masih kami kembangkan,” jelas Novendra.
Disebutkan Novendra, sampai hari ini, sedikitnya sudah 4 hektare lahan di Kabupaten Siak terbakar, dan itu terjadi di Mempura dan Sungai Apit. “Saya sudah mengeluarkan surat edaran secara terpadu mencegah terjadinya karhutla dengan melibatkan semua pihak, tak hanya camat dan Kades, tapi juga pihak perusahaan, dan seluruh masyarakat,” sebutnya.
Polres Pelalawan Tangkap Empat Pelaku Pembakar Lahan
Kepolisian Resort (Polres) Pelalawan terus berkomitmen dalam penegakan hukum terhadap pelaku karhutla. Hal ini terbukti dari keberhasilan mengungkap tiga kasus karhutla di wilayah Teluk Meranti dan Kuala Kampar dengan mengamankan empat orang tersangka.
Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK didampingi Kasi Humas AKP Thomas Bernandes dan Penyidik Unit II mengatakan, modus para pelaku adalah membersihkan dan membuka kebun dengan cara membakar lahan, yang kemudian api sulit dikendalikan hingga meluas.
“Empat tersangka sudah kami amankan. Modus mereka membuka dan membersihkan kebun dengan cara dibakar. Ini perbuatan melanggar hukum dan sangat berbahaya,” terang Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara SIK kepada Riau Pos, Rabu (11/2).
Diungkapkannya bahwa, kasus pertama terjadi di Dusun II Desa Segamai, Kecamatan Teluk Meranti pada 23 Januari 2026. Dua tersangka yakni RZ (19) dan JS (39) membuka lahan dengan cara membakar kayu dan semak belukar. Bara api di lahan gambut yang tidak dipadamkan kemudian kembali menyala dan membakar lahan seluas 1,5 hektare.
Kemudian kasus kedua terjadi di Desa Sungai Upih, Kecamatan Kuala Kampar. Titik api terdeteksi melalui Dashboard Lancang Kuning dan ditindaklanjuti tim gabungan. Polisi mengamankan tersangka AD (57) yang mengakui membuka lahan dengan cara dibakar.
Kapolres menyebut, kebakaran hutan kali ini dengan perkiraan mencapai 30 hektare. “Terakhir, kasus ketiga terjadi di Jalan Lintas Bono, Teluk Meranti pada 29 Januari 2026. Tersangka MS (49) membakar lahan kebun untuk membersihkan dan mengusir hama. Api kemudian membesar hingga menimbulkan asap tebal dan terdeteksi saat patroli karhutla. Luas lahan yang terbakar sekitar 8 x 40 meter,” paparnya.(ayi/kas/*2/ksm/mng/amn)
Editor : Arif Oktafian