PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Anggota DPD RI asal Riau, Arief Eka Saputra, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan hutan, khususnya di wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu (GSKBB). Dukungan tersebut disampaikan saat kunjungan ke Sekretariat Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Wilayah Riau, Selasa (24/2/2026).
Menurut Arief, Cagar Biosfer GSKBB yang telah diakui UNESCO sejak 2009 menjadi perhatian dunia internasional, sehingga pengelolaannya harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Salah satu produk UMKM yang telah dikembangkan di kawasan tersebut adalah madu hasil budidaya Kelompok Tani Hutan (KTH) Lebah Petualang, Desa Beringin, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis.
Pengembangan usaha ini diawali melalui pembuatan demplot (plot percontohan) yang dilaksanakan FKKM Wilayah Riau dengan dukungan Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) Kementerian Kehutanan dan ITTO.
Arief menaruh harapan besar agar demplot tersebut dapat terus dikembangkan dengan tetap memperhatikan akses dan komunikasi pasar. Ia menilai, meskipun budidaya lebah madu sudah banyak dilakukan, pengembangan di sekitar kawasan hutan memiliki nilai tambah tersendiri karena sejalan dengan upaya menjaga kelestarian hutan.
"Nilai pelestarian hutan ini bisa menjadi kekuatan promosi produk. Jadi bukan hanya menjual madu, tetapi juga menjual komitmen menjaga hutan," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Wilayah FKKM Riau, Hasan Supriyanto, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan dukungan dari anggota DPD RI tersebut. Ia berharap pengembangan UMKM lebah madu ini dapat disampaikan kepada pihak-pihak terkait untuk mendapatkan dukungan lanjutan, terlebih Arief merupakan anggota komite yang membidangi UMKM.
Menurut Hasan, pengembangan demplot ini bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan sekaligus menjadi model percontohan yang bisa direplikasi di desa lain. Program ini juga merupakan bagian dari pengembangan usaha berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
"Pengembangan demplot ini juga diiringi dengan bimbingan teknis untuk meningkatkan keterampilan praktis masyarakat," tutup Hasan.
Editor : Rinaldi