Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Menko Polkam Minta Perusahaan Berperan

Tim Redaksi • Jumat, 6 Maret 2026 | 11:05 WIB

Menko Polkam Djamari Chaniago  bersama Menhut Raja Juli Antoni, Kabasarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Dr Suharyanto, dan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto.
Menko Polkam Djamari Chaniago bersama Menhut Raja Juli Antoni, Kabasarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Dr Suharyanto, dan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Apel Kesiapsiagaan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) Nasional 2026 digelar di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Kamis (5/3). Apel yang dipimpin langsung Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago ini menjadi momentum penting penguatan komitmen pence­gahan karhutla. 

Kegiatan ini juga diikuti Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto, Forkopimda Riau, jajaran TNI/Polri, BPBD, Manggala Agni, Basarnas, serta pihak swasta. Menko Polkam Djamari Chaniago mengatakan, apel ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Riau yang rawan karhutla.

Ia mengingatkan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan alam, serta segala tindakan manusia terhadap lingkungan akan berdampak langsung terhadap kehidupan di masa mendatang. “Kita perlu mengingatkan lagi bahwa alam akan bereaksi sesuai dengan aksi yang kita lakukan. Begitu juga sebaliknya, aksi yang kita lakukan akan menunjukkan bereaksinya alam itu kepada kita, bisakah kita memberikan sesuatu yang baik untuk kepentingan alam,” ujarnya.

Dijelaskannya, kesadaran untuk berbuat baik terhadap alam harus menjadi titik awal dalam setiap kebijakan dan tindakan. Ia menyebutkan, menjaga kelestarian hutan dan lahan bukan hanya soal mencegah kebakaran, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.

“Alam akan memberikan yang baik juga untuk kita. Ini adalah titik awal yang harus kita sadari. Kemudian tanggung jawab kita kepada bangsa dan kewajiban kita untuk menjaga alam yang telah dikaruniakan kepada kita semua dari Allah SWT,” jelasnya.

Diungkapkannya, apel ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, namun menjadi simbol kesiapan nyata seluruh elemen bangsa dalam merawat dan mengawasi sumber daya alam Indonesia. ‘’Apel ini adalah untuk menunjukkan kesiapan kita bahwa kita mampu untuk merawat kekayaan alam ini. Tidak hanya untuk mencegah terjadinya kerusakan alam di sekitar lokasi tempat kebakaran hutan, tapi punya dampak yang sangat luas,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta pihak perusahaan untuk berperan aktif dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla.

“Perusahaan kami minta tidak hanya menyelesaikan masalah karhutla di wilayah kewajibannya saja, namun bila mana kekuatannya masih bisa membantu di luar kawasannya, maka wajib terlibat,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni mengungkapkan angka karhutla tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menegaskan capaian tersebut menjadi modal penting untuk menekan angka karhutla lebih rendah lagi, terutama sebagai persiapan menghadapi potensi El Nino tahun depan.

Raja Juli Antoni mengatakan, pada tahun 2024 luas karhutla tercatat mencapai 376.805 hektare. Namun pada 2025, angka tersebut berhasil ditekan 17.186 hektare menjadi 359.619 hektare. Penurunan ini dinilai sebagai hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

“Alhamdulillah, angka karhutla tahun 2025, tahun pertama kepemimpinan Pak Presiden Prabowo Subianto sudah turun dibanding tahun sebelumnya. Jika di tahun 2024 angkanya itu 376.805 hektare, tahun 2025 bisa ditekan menjadi 359.619 hektare,” katanya.

Dijelaskannya, capaian tersebut bukan hasil kerja satu institusi semata, melainkan buah dari koordinasi lintas sektor yang berjalan efektif. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta pihak swasta.

“Ini semua bisa diwujudkan dengan kerja yang terkoordinasi dan kolaboratif. Tentunya berkat kerja sama semua pihak baik itu di kementerian/lembaga, pusat dan daerah,” jelasnya.

Menhut Raja Juli, juga menyoroti peran strategis BMKG dalam menyediakan data dan prediksi cuaca. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan langkah antisipasi di lapangan.

Dengan data cuaca dari BMKG, dapat dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Strategi ini dinilai cukup efektif dalam mencegah meluasnya titik api di sejumlah wilayah rawan karhutla.

“BMKG membuat data atau prediksi tentang cuaca dan membantu untuk memberikan informasi kepada BNPB untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC), alhamdulillah berjalan dengan efektif,” terangnya.

Selain dukungan teknologi dan analisis cuaca, keberhasilan menekan angka karhutla juga tidak terlepas dari kerja keras pasukan darat. Unsur TNI/Polri, Manggala Agni, hingga masyarakat peduli api dinilai bergerak cepat dan terkoordinasi dalam melakukan patroli serta pemadaman dini.

Menhut Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Ia menargetkan agar angka karhutla tahun ini dapat ditekan lebih rendah lagi. “Karena tahun ini menjadi penting untuk pembelajaran sekaligus persiapan menghadapi El Nino pada tahun depan,” ujarnya.

Sementara itu, Fire Mineral Coordinator RAPP Widi Santoso didampingi Manajer SHR RAPP Wijatmoko Rah Trisno mengatakan, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla. Upaya tersebut pihaknya lakukan melalui berbagai langkah mitigasi secara berkelanjutan, terutama di area yang berpotensi rawan kebakaran.

“Perusahaan secara rutin melakukan patroli darat dan pemantauan udara menggunakan teknologi drone, serta aktif melakukan sosialisasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar mengenai pentingnya pencegahan karhutla. Selain itu, sejumlah posko siaga juga disiapkan di titik-titik rawan sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan,” katanya.

Apabila terjadi kebakaran, tim yang disiagakan untuk melakukan penanganan secara cepat dan terkoordinasi dengan dukungan armada pemadam, helikopter pemantauan, serta berbagai peralatan pemadaman guna memastikan api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.

“Setiap tahun, APRIL secara rutin mengumumkan periode rawan kebakaran sebagai bentuk kesiapsiagaan tim operasi kebakaran untuk memantau dan memadamkan titik panas serta kebakaran di area konsesi. Selain itu, perusahaan berkomitmen untuk membantu pemadaman api yang terjadi dalam radius 3 kilometer dari batas wilayah konsesinya,” paparnya.

Pengumuman ini merupakan bagian penting dari pendekatan terpadu APRIL dalam pengelolaan kebakaran hutan dan lahan, serta mencerminkan komitmen berkelanjutan perusahaan untuk bekerja sama dengan pemerintah, pemegang konsesi lainnya, dan masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran di musim kemarau.

“Pencegahan tetap menjadi pilar utama strategi manajemen karhutla APRIL. Sejak 2014, APRIL telah menjalankan Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Program/FFVP) sebagai inisiatif edukatif dan kolaboratif dengan masyarakat desa untuk meningkatkan kesadaran tentang pengelolaan hutan yang bertanggung jawab. Hingga saat ini, FFVP telah menjangkau 42 desa dengan cakupan area lebih dari 900.000 hektare dan berhasil menurunkan lebih dari 90 persen insiden karhutla sejak program dimulai,” sebutnya.

Baca Juga: Terpantau Aplikasi Sipongi, BPBD Rohil Sebut Dua Peristiwa Karhutla Terjadi

Wawako Pekanbaru Tegaskan Komitmen Cegah Karhutla

Wakil Wali Kota (Wawako) Pekanbaru, Markarius Anwar turut ambil bagian dalam apel ini. Markarius Anwar menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru siap mendukung penuh upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

“Pagi ini (Kamis, red) kita mengikuti apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan nasional tahun 2026. Dari Kota Pekanbaru, kita tentu mendukung penuh kesiapsiagaan dalam penanganan karhutla ini,” ujarnya.

BPBD Pelalawan Tetap Intens Patroli

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan memastikan saat ini nihil titik api (fire spot). Meski demikian pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla susulan. 

Demikian hal ini disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pelalawan, Zulfan, Kamis (5/3). “Ya, kami tetap intens patroli dan sosialisasi kepada masyarakat, meskipun hotspot dan fire spot nihil. Kita upayakan tidak ada kasus karhutla, minimal sampai Idulfitri,” terangnya.(sol/ilo/amn)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#karhutla #Menko Polkam #Djamari Chaniago #SF Hariyanto