PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan sebagai upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau telah berakhir. Ironisnya, karhutla di Riau masih terjadi di empat daerah dan titik panas masih terdeteksi, Jumat (13/3). Bahkan terbanyak di Sumatera yakni 244 titik.
Modifikasi cuaca berakhir dengan total sekitar 35 ton garam (NaCl) yang disemai ke awan potensial wilayah Riau. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Jim Gafur mengatakan, Pemerintah Provinsi Riau bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berencana melanjutkan operasi modifikasi cuaca tahap kedua pada April mendatang.
“Namun kami berharap pelaksanaan tahap lanjutan tersebut dapat dipercepat mengingat kondisi karhutla di daerah ini mulai meluas. Langkah modifikasi cuaca sangat diperlukan untuk membantu proses pemadaman kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau tim darat,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, kondisi cuaca yang panas, angin yang cukup kencang, serta karakteristik lahan gambut di Riau membuat api mudah menjalar dan sulit dipadamkan tanpa dukungan hujan.
Sementara itu, hingga saat ini tercatat masih ada empat daerah di Riau yang dilaporkan masih terjadi karhutla. “Karhutla masih terjadi di Kampar tepatnya di Rimbo Panjang, Indragiri Hilir di wilayah Gaung, Pelalawan di Teluk Meranti, dan Bengkalis di Pulau Rupat,” ujar Jim.
Meski demikian, beberapa titik api yang sebelumnya muncul di Pekanbaru berhasil dikendalikan oleh petugas. “Kemarin di Pekanbaru juga ada beberapa titik, tapi sudah berhasil dipadamkan,” jelasnya.
Ya, api masih membara di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Hingga Jumat (13/3), total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 5,5 hektare di dua lokasi berbeda.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita mengatakan, kebakaran pertama terjadi di Jalan Mandiri, Desa Rimba Panjang, sejak Kamis (12/3) sekitar pukul 11.00 WIB.
Kebakaran tersebut terjadi di lahan gambut milik masyarakat dengan vegetasi berupa lahan kosong. “Titik api diduga menjalar dari area sekitar Jalan Niaga. Hingga saat ini luas area yang terbakar mencapai sekitar 3,5 hektare,” ujarnya.
Tim gabungan yang terdiri dari Satgas TRC BPBD Kampar, Damkar Kabupaten Kampar, serta masyarakat langsung melakukan upaya pemadaman dan pemblokiran api. Namun, proses pemadaman mengalami kendala karena keterbatasan sumber air di lokasi kejadian.
Selain itu, kebakaran lahan juga terjadi di titik kedua di Jalan Bhayangkara, Desa Rimbo Panjang, Jumat (13/3) sekitar pukul 14.00 WIB. Kebakaran di lokasi ini menghanguskan sekitar 2 hektare lahan semak belukar di kawasan gambut milik masyarakat.
“Hingga laporan terakhir pada sore ini (kemarin, red), kondisi api di kedua lokasi masih hidup dan menimbulkan asap sehingga petugas masih terus melakukan upaya pemadaman di lapangan,” jelas Adi Candra.
Kabut Asap Menyelimuti Kuansing
Kabut asat tipis terlihat menyelimuti Telukkuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Jumat (13/3) pagi hingga siang. Kabut terlihat berkurang pukul 16.00 WIB. Meski sempat disirami hujan gerimis, tetapi itu tidak berpengaruh pada asap yang menyelimuti kota jalur ini.
Meski belum membahayakan, namun ini menjadi warning akan bahaya karhutla bila terjadi terlalu lama dan luas. Kalaksa BPBD Kuansing H Yulizar melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Koko Mahyudi mengatakan, kabut asap diduga kiriman dari kabupaten tetangga, Pelalawan.
“Kalau kami pantau, ini asap kiriman dari Pelalawan. Pelalawan dan Kuansing saling berdampingan,” ujar Koko. Menurut data pantauan satelit, di Kabupaten Pelalawan terdeteksi titik panas sebanyak 90. Akibatnya, asap karhutla dibawa angin hingga ke Kabupaten Kuansing.
Kuansing sendiri beberapa pekan ini aman dari titik panas. Baru, Jumat (13/3) pagi sekitar pukul 10.00 WIB terpantau terjadi kebakaran lahan kebun sawit tua di Desa Sungai Langsat, Kecamatan Pangean sekitar satu hektare. “Tapi sudah berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WIB. Luas lahan yang terbakar sekitar satu hektare,” ujar Koko.
Menurut Koko, karhutla terjadi di titik koordibat -0.314977,101.578609 diduga disebabkan oleh kelalaian masyarakat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Namun kerugian akibat kebakaran yang menghanguskan kebun sawit tua itu ditaksir sebesar Rp150 juta.
Meski diselimuti asap tipis, Koko menyebutkan masih belum mengganggu jarak pandang kendaraan dan kesehatan. Namun bila setiap hari asap kiriman bertambah tebal, ini akan mengganggu aktivitas masyarakat.
BPBD Kuansing menghimbau agar masyarakat selalu waspada terhadap kondisi dan situasi apapun. Apabila ada indikasi bencana untuk menghubungi segera Callcenter BPBD Kuansing di nomor 08117575755.
Padamkan Api di Teluk Meranti
Minimnya curah hujan yang turun serta kondisi cuaca panas sejak sepekan terakhir menyebabkan sebaran titik panas terus bermunculan di Kabupaten Pelalawan. Jumat (13/3), sebanyak 106 titik panas terdeteksi tersebar di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Teluk Meranti, Kuala Kampar, Pangkalankerinci, dan Bunut. Dari ratusan titik panas itu, sebagian besar menyebar di Teluk Meranti.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui BPBD telah menurunkan tim untuk melakukan pengecekan agar titik panas tersebut tak berubah menjadi titik. “Satu karhutla menimbulkan banyak titik panas yang terdeteksi satelit,’’ terang Kalaksa BPBD Pelalawan Zulfan MSi.
‘’Pasalnya, dalam satu hamparan terdapat beberapa firespot atau tumpukan api yang terpisah-pisah. Sehingga jumlah titik panasnya sangat banyak. Khususnya di Kecamatan Teluk Meranti yang merupakan wilayah yang rentan dilanda Karhutla,” tambahnya.
Mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini menambahkan, titik panas yang sebagian besar telah berubah menjadi titik api mulai meningkat di Pelalawan, setelah kemarau kering melanda dalam sepekan terakhir. Meski potensi hujan masih ada, tapi intensitasnya cukup rendah.
“Untuk itu, kita tentunya tetap terus siaga terhadap potensi karhutla. Dimana tim terus intens melakukan patroli titik panas agar tidak berubah menjadi titik api. Serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran, khususnya membuka lahan untuk berkebun,” paparnya.
Dijelaskan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa,
saat ini titik Karhutla yang belum berhasil dipadamkan dan ditangani oleh tim gabungan yakni di Desa Pulau Muda, Teluk Meranti. Di mana ada dua lokasi kebakaran yang cukup besar dan telah berlangsung sejak pekan lalu.
“Selanjutnya, titik asap di Desa Gambut Mutiara, Teluk Meranti sampai saat ini juga masih belum berhasil dipadamkan. Pihak perusahaan dan warga setempat dibantu tim rayon kecamatan telah mengupayakan pendinginan sejak tiga hari yang lalu, agar tidak menimbulkan api yang bisa menyala kembali,” bebernya.
Dikatakan Zulfan, kondisi karhutla serupa juga terjadi di Desa Merbau Kecamatan Bunut. Operasi pemadaman telah dilakukan tim gabungan, namun api belum terkendali karena sempat membesar dan meluas.
Lahan yang telah hangus dilalap api belum bisa diperhitungkan lantaran petugas masih fokus pemadaman dan pendinginan.
“Alhamdulillah, untuk titik api di Pangkalankerinci sudah padam total pada Kamis (12/3) sore lalu. Dimana pemadaman langsung ditangani tim dari Pangkalan Kerinci sampai tuntas. Intinya, tim gabungan tentunya akan bekerja keras melakukan pemadaman api hingga padam total,” ujarnya.
Berpotensi Hujan
Cuaca panas terik yang berlangsung selama beberapa hari terakhir membuat peningkatan titik panas di Riau kembali terdeteksi. Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir Prayuna menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit, Jumat (13/3), terdekeksi 516 titik panas di Pulau Sumatera dan tertinggi ada di Riau dengan 244 titik. Sisanya ada di Jambi 66, Sumatera Selatan 56, Kepulauan Riau 44, Aceh 36, Bangka Belitung 29, Sumatera Barat 28, Sumatera Utara 11, Lampung 1, dan Bengkulu 1.
Sementara itu, titik panas di Riau terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan 106. Disusul Indragiri Hilir 59, Bengkalis 33, Kampar 18, Rokan Hilir 10, Rokan Hulu 2, Indragiri Hulu 7, Siak 5, Kuantan Singingi 3 , dan Kepulauan Meranti 1. “Hampir seluruh kabupaten dan kota di Riau yang masih terdeteksi sebaran titik panas,” ucapnya.
Diungkapkan Yasir Prayuna, untuk prakirakan cuaca di Provinsi Riau sejak pagi terpantau cerah berawan. Masih terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu.(sol/kom/dac/amn/ayi/das)
Editor : Bayu Saputra