BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ulau Bengkalis sudah mengkhawatirkan masyarakat. Saat ini wilayah yang terdampak cukup parah dan sedang terjadi karhutla adalah di Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan, Desa Pelkun, Sekodi Kecamatan Bengkalis masih dilakukan pemadaman oleh petugas gabungan pada, Sabtu (4/4).
Bahkan masyarakat Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan sudah merasakan dampaknya, yakni udara bercampur asap. Masyarakat juga berharap adanya bantuan cepat dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat, untuk mengatasi karhutla yang terjadi di wilayah mereka dengan menurunkan helikopter water bombing. Masyarakat yang terdampak juga meminta dukungan alat berat dan peralatan pemadam kebakaran, untuk mempercepat penanganan. Hal ini dinilai penting mengingat kondisi kebakaran yang sudah memasuki tahap darurat. Selama ini, masyarakat bersama satgas gabungan hanya mengandalkan kemampuan sendiri untuk memadamkan api. Mereka bekerja tanpa henti meski kondisi fisik mulai menurun akibat kelelahan.
“Karena luas area kebakaran serta kondisi cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat upaya pemadaman semakin sulit dilakukan,” jelas Ismail, salah seorang warga Teluk Lancar, Sabtu (4/4).
Ia mengharapkan, agar pemerintah segera turun tangan sebelum api semakin meluas. Sebagai masyarakat Desa Teluk Lancar meminta perhatian dan tindakan cepat dari pemerintah daerah serta instansi terkait untuk segera menurunkan bantuan, khususnya alat berat yang sangat dibutuhkan untuk membuka sekat kanal atau membuat pembatas lahan guna menghentikan penyebaran api lebih meluas.
Sedangkan rombongan Kapolda Riau yang turun ke lapangan pada, Jumat (3/4) sore, sudah memberikan semangat kepada petugas. Karena kondisi lahan gambut dan pepohonan yang sudah mengering, serta sulitnya sumber air membuat petugas kewalahan memadamkan api.
Bahkan karhutla di Pulau Bengkalis semakin meluas, sempat menimbulkan dampak hingga ke negara tetangga Malaysia. Asap dari kebakaran dilaporkan telah menyebar melintasi perbatasan. Salah seorang warga Desa Teluk Lancar, Syarifah Aini, menyebutkan informasi tersebut, diperoleh dari keluarganya yang berada di Malaysia. Mereka merasakan dampak kabut asap akibat kebakaran yang terjadi di wilayah Bengkalis.
“Informasi dari keluarga kami di Malaysia, asap dari kebakaran di Bengkalis sudah sampai ke sana dan cukup mengganggu aktivitas,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi kebakaran di Desa Teluk Lancar saat ini semakin mengkhawatirkan. Api telah meluas hingga mendekati bahkan masuk ke area pekarangan rumah warga. Luas kebakaran diperkirakan mencapai ratusan hektare. Warga berharap adanya penanganan cepat dari pemerintah dan pihak terkait agar kebakaran tidak semakin meluas serta dampaknya tidak kian meluas hingga ke wilayah lain.
Di sisi lain, sjak pagi sampai sore (Sabtu) langit di pulau Bengkalis diselimuti asap tipis. Bahkan partikel debu dari karhutla mulai bertebaran ke udara dan bertebaran di atap rumah serta kendaraan roda empat yang terparkir di depan rumah warga di Desa Senggoro.
Dari pantauan di lapangan, bau menyengat asap karhutla sudah terasa di hidung dan terlihat juga partikel debu yang menempel di mobil, yang bertebaran di udara. Kondisi cuaca panas membuat gerah tubuh, ditambah ada pemadaman listrik PLN sejak pukul 10.00 WIB sampai tengah hari tak kunjung menyala.
“Panas luar biasa. Listrik padam pula, malah membuat kondisi panas menjadi parah, karena tak bisa menghidupkan kipas angin atau pun AC. Mau udara bercampur asap karhutla juga sudah dirasakan masyarakat,” ujar Yeni, salah seorang warga Desa Senggoro, Bengkalis, Sabtu (4/4).
Ia mengaku, karhutla terjadi di pinggiran kota dan sangat jauh dari kota Bengkalis. Tapi udaranya sangat terasa bau asap dan partikel debu karhutla sudah bertebaran ke udara. Ini terlihat menempel di kendaraan.
“Seperti cuaca mau hujan dan mendung. Tapi sejak pagi sampai sore tak kunjung hujan. Malah udara panas sangat terasa,” ucapnya.
Di sisi lain kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah satu bulan belakangan melanda Kabupaten Bengkalis, diprediksi akan makin memburuk. Kondisi ini dibarengi dengan potensi munculnya fenomena alam, yakni iklim ekstrem berupa el nino super.
Peringatan ini disampaikan Guru Besar IPB University bidang perlindungan hutan, Prof Dr Bambang Hero Taharjo, saat meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, bersama Kapolda Riau Irjen Pol Heri Heriawan dan Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, Jumat (3/4) sore.
Ia menyebutkan, kondisi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari prediksi ilmiah dampak perubahan iklim global, yang telah lama diperingatkan para ahli. Ia mengungkapkan, peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik hingga sekitar 2,7 derajat Celsius menjadi indikator kuat munculnya el nino kategori ekstrem.
“Ya, ini bukan lagi sekadar prediksi, tapi sudah mulai menjadi kenyataan. Dampaknya bisa menyerupai kebakaran hutan besar seperti tahun 1997–1998 yang meluas hingga jutaan hektare,” jelas Bambang.
Menurutnya, fenomena el nino menyebabkan kondisi lahan menjadi lebih kering dan sangat rentan terbakar. Jika tidak diantisipasi sejak dini, api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan. Dalam peninjauan tersebut, ia juga menyoroti mulai turunnya tinggi muka air di kanal dan parit yang mendekati batas kritis, sebagai indikator awal meningkatnya potensi kebakaran.
“Kalau dilihat di sejumlah kanak dan parit adanya penurunan muka air dan ini menjadi tanda bahaya. Jika tidak segera ditangani, potensi karhutla akan semakin besar,” ucapnya.
Selain ancaman kebakaran, Bambang turut mengingatkan bahaya asap karhutla yang kerap dianggap sepele oleh masyarakat. Dirinya menegaskan bahwa asap mengandung berbagai zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan.
“Jangan hanya melihat asap sebagai gangguan biasa. Di dalamnya terdapat gas beracun seperti hidrogen sianida yang bisa berdampak serius, bahkan mematikan,” jelasnya.
Ia pun menekankan, pentingnya langkah cepat dan kolaboratif dari semua pihak, termasuk masyarakat, dalam mencegah meluasnya kebakaran. “Tindakan paling penting adalah deteksi dini dan respon cepat. Begitu ada indikasi kebakaran, segera laporkan. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Pol Heri Heriawan juga menegaskan, komitmen jajarannya dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla melalui patroli intensif serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
“Kami terus meningkatkan patroli dan tidak akan ragu menindak tegas pelaku pembakaran lahan. Pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla tahun ini,” tegas Kapolda.
Peninjauan ini menjadi bagian dari langkah antisipatif menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, seiring meningkatnya risiko karhutla di wilayah Riau, khususnya Kabupaten Bengkalis.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang turun langsung memberikan dukungan moril kepada tim gabungan yang tengah berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.
Di sana, Irjen Herry memberikan semangat serta dukungan moril kepada unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA), yang melakukan pemadaman. Kapolda menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril dan memastikan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujar Irjen Herry.
Ia menyebut, langkah strategis yang dilakukan saat ini adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau.
“Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit,” tegasnya.
Selain upaya pemadaman, Kapolda juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 pihaknya telah menangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama.
“Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun yang berlindung di balik alasan kelalaian,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama stakeholder telah memasang ratusan papan imbauan (plang) di lokasi rawan karhutla. Plang tersebut berisi peringatan ancaman pidana bagi pelaku pembakaran, sekaligus larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar untuk kegiatan perkebunan.
“Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit. Ini bagian dari upaya moratorium agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.
Tersisa di Bengkalis
Tim gabungan dari BPBD, Manggala Agni, TNI/Polri dan masyarakat peduli api terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Dari beberapa titik karhutla yang sebelumnya ditemukan di beberapa daerah, saat ini hanya tersisa di satu daerah saja. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau M Edy Afrizal mengatakan, per hari Sabtu (4/4) di Provinsi Riau dilaporkan terdapat 182 hotspot. Seluruh hotspot tersebut dilaporkan berada di Kabupaten Bengkalis.
“Titik panas (hotspot) di Sumatera per hari Sabtu dilaporkan ada 239 titik, 182 di antaranya berada di Provinsi Riau dan itu semuanya ada di Bengkalis,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, dari ratusan titik panas (hotspot) tersebut, yang teridentifikasi kebakaran hutan dan lahan berada di Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat. Sementara itu untuk daerah lainnya dilaporkan sudah padam.
“Karhutla saat ini hanya tinggal di Bengkalis, yakni di Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat. Tepatnya ada di Desa Titi Akar,” sebutnya.
Untuk upaya yang saat ini sedang dilakukan, selain melakukan pemadaman dengan tim darat, juga sudah dilakukan water bombing di lokasi. Dilakukan juga pengerahan alat berat untuk pembuatan sekat bakar dan embung, serta kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC).
“Untuk lokasi karhutla yang masih ditemukan api sudah dilakukan pengerahan personel pemadaman darat gabungan TNI Polri BPBDPK Provinsi Riau, BPBD Bengkalis, Manggala Agni, MPA, Masyarakat Desa dan Kelompok Tani. Termasuk juga helikopter,” paparnya.
Untuk kegiatan OMC, tim juga terus bergerak bahkan hingga malam hari. Hingga saat ini total sudah 14 ton garam yang disemai di langit Riau utamanya diwilayah pesisir.
“OMC masih terus dilakukan, bahkan hingga malam hari ketika ada awan potensial. Sudah 14 ton garam yang disemai,” ujarnya.
182 Titik Panas Selimuti Bengkalis
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat ratusan titik panas masih terdeteksi di Pulau Sumatera pada Sabtu (4/4). Menurut Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, Yasir, dari ratusan titik panas tersebut provinsi Riau menjadi wilayah paling dominan dengan 182 hotspot yang tersebar di Kabupaten Bengkalis.
Sementara itu, untuk total titik panas di Pulau Sumatera hanya berkisar 239 hotspot Sumatera. Di mana, berdasarkan pemantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru, ratusan titik panas di Pulau Sumatera itu tersebar di beberapa provinsi di Sumatera dengan rincian, Aceh 15 titik, Bengkulu 1 titik, Jambi 2 titik, Sumatera Selatan 14 titik, Kepulauan Riau 12 titik, Kepulauan Bangka Belitung 11 titik, dan Riau 182 titik panas yang kini menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi Riau karena hanya terdeteksi di satu Kabupaten di Riau yaitu Kabupaten Bengkalis.
“Jika sebelumnya beberapa wilayah Riau terdeteksi hotspot, pukul 16.00 wib satelit BMKG Pekanbaru hanya menemukan sebaran titik panas di Kabupaten Bengkalis yang mendominasi hotspot di Pulau Sumatera dengan 182 titik panas,” katanya.(ksm/sol/ayi/muh)
Editor : Bayu Saputra