Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

BBM Naik, Jalur Pertamax Turbo Sepi, Bahlil: Mengikuti Harga Pasar

Tim Redaksi • Minggu, 19 April 2026 | 15:17 WIB
Sejumlah kendaraan mulai terlihat antre untuk mengisi BBM subsidi usai terjadi kenaikan harga pada beberapa jenis BBM nonsubsidi di salah satu SPBU di Jalan Lintas Timur dalam wilayah Kabupaten Inhu, Sabtu (18/4/2026). Kasmedi/Riau Pos
Sejumlah kendaraan mulai terlihat antre untuk mengisi BBM subsidi usai terjadi kenaikan harga pada beberapa jenis BBM nonsubsidi di salah satu SPBU di Jalan Lintas Timur dalam wilayah Kabupaten Inhu, Sabtu (18/4/2026). Kasmedi/Riau Pos

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai terasa di lapangan. Salah satunya terlihat di SPBU kawasan Parit 8, Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Di tempat ini, jalur pengisian pertamax turbo kini tampak sepi dari antrean.

Pantauan di lapangan, antrean kendaraan yang biasanya jarang kosong di dispenser BBM beroktan tinggi tersebut kini nyaris tidak terlihat. Berbeda dengan jalur pertalite dan pertamax yang tetap ramai dipadati kendaraan roda dua.

Aulia, salah satu petugas SPBU menyebutkan, pengisian pertamax turbo sejak naik harga terbilang sepi peminat hingga malam hari.

“Kalau sekarang yang isi turbo memang jauh berkurang. Banyak yang pindah ke pertamax biasa,” ujarnya, Sabtu (18/4) malam.

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi per 18 April 2026, Pertamax Turbo Capai Rp19.400 per Liter

Menurutnya, kondisi ini cukup kontras dibandingkan sebelumnya, di mana pengguna pertamax turbo masih tergolong stabil meski tidak seramai BBM jenis lain. Kini, dalam satu jam, hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat mengisi BBM tersebut.

“Paling satu dua kendaraan saja yang mengisi pertamax turbo, kalau pertamax dan pertalite masih normal,” tutupnya.

Baca Juga: Kabar Baik! Stok BBM Indonesia Aman hingga Akhir 2026, Bahlil Bahkan Sebut Berpeluang Tidak Akan Naik Selamanya

Antre Panjang

Pascakenaikan harga sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM), mulai terjadi antrean di beberapa SPBU dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Sabtu (18/4). Sebab, masyarakat yang kadang masih memilih BBM nonsubsidi kini menyerbu BBM yang tidak mengalami naik harga. Seperti di SPBU Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Inhu. Antrean panjang terlihat pada jalur pengisian BBM jenis pertalite. 

Pada jalur itu, tidak saja bagi kendaraan roda dua, tetapi juga juga kendaraan roda empat terjadi antre cukup panjang. Walaupun antrean belum mencapai keluar areal SPBU, namun antrean itu terlihat lebih panjang dari biasanya.

Hal itu juga dibenarkan ketika dikonfirmasi kepada Manager SPBU di Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida, Oxy Maryuanda SE. “Benar sejak siang tadi, antrean agak panjang dari biasanya pada jalur BBM jenis Pertalite,” ujar Oxy Maryuanda, Sabtu (18/4).

Pihaknya juga mengakui bahwa antrean itu terjadi akibat terjadinya penyesuaian harga pada beberapa jenis BBM. Di mana penyesuaian harga BBM itu terjadi pada Sabtu (18/4) jam 00.00 WIB. Selain itu, penyebab terjadinya antrean itu, akibat adanya perubahan kebijakan untuk pembelian BBM oleh warga yang jauh dari SPBU. Sebelumnya, warga yang jauh dari SPBU bisa membeli dengan surat rekomendasi dari Kades. Namun. Sekarang, untuk rekomendasi itu harus dikeluarkan oleh Pemkab Inhu.

“Saat ini belum ada rekomendasi Pemkab Inhu atau barkode xstar sesuai yang dianjurkan,” terang Oxy Maryuanda.

Sementara itu, pantauan Riau Pos di SPBU Jalan Soekarno-Hatta sebelum SMPN 20 Pekanbaru, antrean pengisian BBM masih tampak normal. Meski harga BBM nonsubsidi terjadi kenaikan, pengisian oleh masyarakat di sana masih tampak biasa. 

Meski begitu, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini diakui terasa dan berdampak pada masyarakat penggunanya. Herman, salah satu pengendara mengaku dengan kenaikan harga ini, dia jadi mengisi lebih sedikit BBM nonsubsidi dengan besaran rupiah yang sama.

“Karena kenaikan ini terpaksa beli sesuai kemampuan. Yang biasanya beli Rp30.000 bisa dapat 2 liter sekarang hanya bisa dapat hampir satu setengah liter,” kata dia. 

Pria yang  yang biasa menggunakan pertamax turbo ini berharap, kondisi harga BBM nonsubsidi bisa kembali seperti semula dalam waktu dekat. “Harapan kita harga pertamax turbo bisa kembali normal seperti dulu lagi, karena saya pengguna rutin pertamax turbo,” ujarnya.

Dari pantauan Riau Pos di SPBU Kubang, Lubuk Sakat, antrean panjang truk dan mobil berbahan bakar solar terjadi hingga ke jalan. Mereka menunggu solar masuk. Sementara antrean pertalite tidak terlalu panjang dan tersedia. Adapun di SPBU Koto Baru Kecamatan Singingi Hilir, tidak terlihat antrean kendaraan solar. Begitu juga di SPBU Logas Kecamatan Singingi tidak terlihat antrean pertalite. Namun untuk kendaraan berbahan bakar solar terlihat antre di jalan.

Bahlil: Mengikuti Harga Pasar

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia angkat bicara soal kenaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Dia menjelaskan, penentuan harga BBM nonsubsidi seperti pertamax turbo dan jenis lainnya mengikuti mekanisme pasar sesuai regulasi yang berlaku.

Hal itu disampaikan Bahlil usai menjadi narasumber pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Bahlil mengatakan bahwa pengaturan harga oleh pemerintah hanya diberlakukan pada BBM bersubsidi. Sementara BBM untuk kebutuhan industri dan kalangan mampu menyesuaikan harga pasar.

Sebagaimana diberitakan, harga sejumlah BBM nonsubsidi naik cukup tajam. Harga pertamax turbo misalnya, dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter. Lalu Dexlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter. Bahlil menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri ESDM tahun 2022, BBM dengan nilai oktan tinggi seperti RON 98 atau pertamax turbo tidak termasuk dalam kategori subsidi.

Menurut dia, jenis BBM ini umumnya digunakan oleh konsumen dari kalangan mampu, sehingga pergerakan harganya mengikuti dinamika pasar global. Selain pertamax turbo, bahan bakar jenis solar dengan cetane number (CN) 51 juga dikategorikan sebagai BBM non-subsidi.

Solar jenis ini diperuntukkan bagi sektor industri dan pengguna dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi. Sementara itu, saat disinggung mengenai potensi eksplorasi migas, Bahlil menyatakan prosesnya tetap mengikuti mekanisme yang berlaku. Kegiatan eksplorasi diawali melalui proses tender wilayah kerja (blok migas).

Setelah perusahaan memenangkan tender, barulah dapat melanjutkan ke tahap eksplorasi untuk mengetahui potensi sumber daya yang tersedia. Pemerintah memastikan seluruh proses tersebut dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi guna menjaga keberlanjutan sektor energi nasional.(*2/kas/van/jpg/muh)

 

Editor : Bayu Saputra
#bahlil #pertamina #pertamax turbo #bbm naik #spbu