PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Warga di sejumlah kecamatan yang jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) mengeluhkan keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Pasalnya, pembelian BBM subsidi yang sebelumnya menggunakan rekomendasi desa, saat ini tidak lagi dilayani pihak SPBU.
Sulitnya mendapatkan pertalite di daerah pelosok ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut mengakibatkan harga pertalite melambung hingga Rp18 ribu per liter. ‘’Sejak dua pekan ini, di tempat kami sudah mulai terbatas. Kalaupun ada, harganya sudah naik dari biasanya,” ujar salah seorang warga Desa Kilan Kecamatan Batang Cenaku bernama Samsu, Selasa (21/4).
Ia mengatakan, harga pertalite di warung atau pengecer sudah mencapai Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per liter. ‘’Sebelumnya, harga pertalite hanya Rp12.500 per liter. Padahal di SPBU hanya Rp10 ribu per liter,’’ ujarnya.
Bahkan, harga pertalite untuk wilayah bagian arah ke ujung Desa Kilan seperti Desa Sipang Kecamatan Batang Cenaku mencapai Rp 17 ribu hingga Rp18 ribu per liter. Di daerah paling ujung Kecamatan Batang Cenaku tidak tertutup kemungkinan mencapai lebih Rp20 ribu per liter.
Baca Juga: Sulit Ditemukan sejak Idulfitri, Ternyata Ini Penyebab Kelangkaan MinyaKita di Kepulauan Meranti
Kondisi ini hendaknya dapat teratasi dengan cepat sehingga warga tidak lagi sulit dan mengeluhkan mahalnya pertalite. Karena tidak mungkin warga mengisi pertalite ke SPBU dengan waktu tempuh mencapai 30 hingga 45 menit. “Informasinya, saat ini pihak SPBU membutuhkan rekomendasi dari Pemkab Inhu, bukan lagi tingkat desa,’’ katanya.
Sementara itu, Manajer SPBU di Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida, Oxy Maryuanda SE MSI mengatakan pihak tidak melayani rekomendasi desa untuk pembelian BBM subsidi. “Ada pengetatan aturan oleh pemerintah dan BPH Migas untuk memastikan distribusi lebih tepat sasaran,” sebutnya.
Untuk saat ini katanya, pembelian BBM subsidi harus menggunakan aplikasi Xstar, aplikasi berbasis website dari BPH Migas untuk mendigitalisasi penerbitan surat rekomendasi pembelian BBM subsidi dan kompensasi Jenis Bahan Bakar Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Khusus (JBT/JBKP).
“JBT/JBKP itu agar lebih transparan dan tepat sasaran. Aplikasi itu memudahkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengeluarkan XStar dan konsumen pengguna seperti nelayan, petani serta usaha mikro,” ucapnya.
Baca Juga: Antrean BBM di SPBU Sungai Jering Sampai Setengah Kilometer
Di tempat terpisah, Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Inhu, Riswidiantoro SE mengatakan, pihaknya sudah membahas peralihan dari rekomendasi tersebut. “Kemarin kami sudah menggelar sosialisasi sekaligus monitoring dan evaluasi terkait peraturan BPH Migas nomor 4 tahun 2025 tentang perubahan atas peraturan BPH Migas nomor 2 Tahun 2024 mengenai penerbitan surat rekomendasi untuk pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT/minyak solar) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP/minyak pertalite) serta persiapan XStar,” sebutnya.
Ia menyebutkan tentang pentingnya surat rekomendasi sebagai dasar pembelian BBM tertentu dan BBM khusus penugasan yang diterbitkan oleh perangkat daerah sesuai dengan bidang masing-masing. Untuk pengeluaran rekomendasi itu tambahnya, masih dilakukan koordinasi dengan pihak BPH Migas. “Sedang koordinasi dengan pihak BPH Migas untuk percepatan akun penerbitan rekomendasi,” terangnya.
Antre di Kuansing
Antrean kendaraan di SPBU-SPBU di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) masih berlangsung. Ini terlihat di di tiga SPBU dalam kota Telukkuantan. Seperti SPBU Sungai Jering, SPBU Kebun Nenas, dan SPBU Sitorajo Kari Kecamatan Kuantan Tengah.
Di SPBU Sungai Jering, antrean kendaraan roda dua, roda empat dan dum truk terpantau lumayan panjang. Bahkan antrean terpaksa dilakukan dengan dua arah. Sebab, bila dibuat dua lajur atau gandeng dari satu arah yang sama, akan semakin mempersempit ruas jalan lintas Telukkuantan itu.
Pengendara pun terpaksa harus ikut antre berjam-jam di SPBU. “Bagi kami pengelola atau pun petugas SPBU, tentu tidak bisa menolak kendaraan yang ingin mengisi BBM di SPBU kami,” kata Staf Administrasi SPBU Sungai Jering dan Sitorajo Kari, Mega Wahyuna.
Menurutnya, antrean ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ada beberapa SPBU yang terkena sanksi dari Pertamina sehingga pasokan solar atau pertalite mereka dihentikan sementara. Sehingga pemilik kendaraan mau tidak mau antre ke SPBU Sungai Jering atau Sitorajo Kari.
Baca Juga: Cegah Penyalahgunaan BBM dan Gas Bersubsidi, Polda Riau Pasang Spanduk Peringatan di SPBU
Kedua, adanya pemberlakuan harga baru BBM nonsubsidi oleh pemerintah. Beberapa kendaraan pribadi yang biasanya mengisi dexlite atau pertamax, beralih ke solar atau pertalite. Ketiga, pasokan BBM yang berkurang dan ada yang datang tidak setiap hari. Makanya pengendara menyesuaikan dengan jenis BBM yang ada.
“Di SPBU Sungai Jering dan Sitorajo pun seperti itu. Misalnya, dexlite dan pertamax turbo itu masuk sekali dua hari. Ada juga kadang sekali tiga hari. Pertamax 92 juga seperti itu. Dan kadang ada yang datang 8 I kiloliter (kl) bukan 16 kiloliter,” ujarnya.
Dari hasil konfirmasi ke depot, lanjut Mega, pasokan BBM di depot juga jauh berkurang dan kadang kosong. Karena kondisi sekarang sedang terjadi pengurangan energi. Dengan kondisi itu, mereka memperketat sistem pengisian BBM dengan menggunakan barcode MyPertamina.
Barcode itu disesuaikan oleh petugas di SPBU dengan plat nomor kendaraan. “Kalau tidak ada barcode dan tidak sesuai dengan plat nomor kendaraan, maka tidak akan kami isi. Itu sudah disampaikan pada semua petugas. Bila tidak, kami SPBU akan kena sanksi oleh pertamina,” ujarnya.
Baca Juga: BBM Jenis Pertalite Mahal dan Mulai Langka di Sejumlah Daerah Luar SPBU di Inhu, Ini Penyebabnya
SPBU di Rohul Normal
Kenaikan BBM nonsusbidi tidak ada terlihat memunculkan kepanikan masyarakat di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Kondisi itu terlihat di dua SPBU yang beroperasi di Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah yakni SPBU yang berada di Jalan Tuanku Tambusai dan SPBU yang beroeprasi di jalan lingkar Km 4 Pasirpengaraian.
Pantauan Riau Pos, pada Selasa (21/4) siang hingga malam, tidak terjadi antrean di dua SPBU tersebut. Pengendara roda dua dan roda empat maupun dump truk yang mengisi BBM normal seperti biasa, baik pertalite maupun biosolar. Begitu juga BBM nonsubsidi dexlite maupun pertamax di SPBU yang beroperasi di Jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian.
Hal itu dipastikan oleh pihak SPBU, pasokan BBM Subsidi dan Non Subsidi dari PT Pertamina di Pekanbaru lancar dan normal datanya setiap hari. Kenaikan BBM nonsubsidi yang tetap dikeluhkan oleh pengendara roda dua dan roda empat, namun tidak terlihat adanya antrean kendaraan yang berali hmengisi BBM subsidi.
Salah seorang petugas SPBU Pasirpengaraian Amrizal menyebutkan, pasokan BBM yang didistribusikan Pertamina setiap harinya lancar dan normal. ‘’Pasokan kebutuhan BBM di SPBU kita lancar. Sejauh ini kita tidak bisa pastikan, apakah pengendara bermotor yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih menggunakan bersubsidi. Yang jelas pengisian BBM di SPBU lancar dan normal. Kalaupun ada antrean, tidak sampai ke jalan raya,’’ terangnya.
Demikian juga di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Hingga kemarin terpantau relatif stabil. Ketersediaan stok SPBU Batu Empat, Bagansiapiapi masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Aktivitas pengisian BBM oleh masyarakat terlihat berjalan normal seperti biasa.
Antrean kendaraan juga tidak menunjukkan lonjakan signifikan, meskipun sempat beredar informasi terkait kenaikan harga BBM yang menjadi perhatian publik. Riau Pos turut melakukan pengisian di SPBU milik BUMD PT SPRH Rohil tersebut.
Tidak ada antrean berarti, di mana terlihat pengisian di pompa yang ada, berjalan lancar dengan antrian hanya dua-tiga kendaraan saja. Sejumlah warga yang ditemui mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan BBM, baik jenis bensin maupun solar.
Mereka tetap menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti. “Sejauh ini masih aman, isi minyak seperti biasa saja, tidak ada kelangkaan,” Firdaus, warga Jalan Lintas Kecamatan, Bagansiapiapi, Selasa (21/4).
Sementara itu, pihak SPBU di wilayah Bagansiapiapi memastikan bahwa pasokan BBM masih dalam kondisi aman dan terkendali. Distribusi dari pihak pemasok juga berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Direktur SPBU Adharsam menyebutkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga ketersediaan stok, serta mengatur penyaluran agar tetap merata kepada masyarakat. “Kami tetap melakukan pemantauan dan koordinasi agar stok BBM tetap aman. Sampai saat ini tidak ada kendala berarti dalam distribusi,” katanya.
Meski demikian tambahnya, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying, karena hal tersebut justru dapat memicu antrean panjang dan mengganggu distribusi.
“Tentunya pemerintah daerah bersama pihak terkait juga terus memantau perkembangan kondisi BBM di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi, khususnya di tengah harga BBM yang terus berkembang,” katanya.
Ia menambahkan dengan kondisi yang relatif stabil ini, diharapkan aktivitas masyarakat di Kota Bagansiapiapi dapat terus berjalan normal, baik di sektor transportasi, perdagangan, maupun aktivitas lainnya yang bergantung pada ketersediaan BBM.(kas/fad/epp/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian