PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dari Januari hingga April 2026, peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencapai 52 ribu hektare dan terdeteksi 3 ribu titik panas (hot spot) terbanyak di Kalimantan Barat dan Riau.
Hal ini dikatakan Menteri Lingkungan Hidup RI Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq kepada wartawan usai Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Lahan di Lapangan Upacara Rumbai, Sabtu (25/4/2026).
Dikatakan Hanif, terjadinya kebakaran lahan ini dikarenakan berkurangnya cadangan air di lahan gambut yang menyebabkan kekeringan. Di mana secara geografis, lebih setengah wilayah Provinsi Riau terdiri dari lahan gambut. Terdapat 13 ribu kilometer kanal yang membelah lahan gambut. Dan kanal-kanal di lahan gambut ini pada saat musim hujan membuat air lebih banyak mengalir sangat deras dan membuat gambut sangat rawan kebakaran saat musim kemarau.
"Untuk mengantisipasi kekeringan di lahan gambut maka langkah pertama yang dilakukan adalah membuat sekat di kanal sehingga cadangan air di lahan gambut tetap terjaga," ujar Hanif.
Hanif memaparkan, tahun ini Indonesia akan mengalami kemarau panjang dimana masa awal kemarau pada April ini di beberapa daerah sudah memasuki kemarau dan diprediksi puncak kemarau terjadi pada bulan Juni-Juli dan akan berakhir pada bulan Oktober.
Kondisi ini diperburuk dengan El Nino yakni fenomena pemanasan suhu muka laut di atas normal di Samudera Pasifik tengah-timur, memicu penurunan curah hujan signifikan, kemarau panjang, dan potensi kebakaran hutan di Indonesia. Diprediksi terjadi pada 2026, fenomena ini berpotensi menyebabkan kekeringan ekstrem.
"Pada gelar perkara ini, kita telah menyatakan kesiapan untuk mengatisipasi terjadinya karhutla. Semakin banyak daerah rawan terpantau semakin banyak daerah yang terjaga dari bencana karhutla. Kepada BPBD dan seluruh perangkat daerah, kebakaran ini merupakan tanggungjawab kita bersama, mari kita bersama-sama menjaga agar tidak terjadi karhutla," sebut Hanif.
PHR Perkuat Sinergi dalam Mitigasi Karhutla di Riau
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menegaskan kesiagaan penuh dalam mengamankan kelancaran operasional objek vital nasional (Obvitnas) dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Komitmen ini dibuktikan melalui peran aktif perusahaan sebagai tuan rumah Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Lahan di Lapangan Upacara Rumbai, Sabtu (25/4/2026).
General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menyatakan stabilitas ekosistem lingkungan merupakan fondasi penting bagi keandalan produksi migas nasional. Ancaman karhutla merupakan risiko operasional nyata yang berdampak langsung pada keandalan infrastruktur energi nasional dan keselamatan publik.
"Penurunan visibilitas, gangguan kesehatan pekerja, serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat sekitar adalah risiko yang wajib kami mitigasi secara komprehensif sejak fase awal. Kesiagaan personel Fire Brigade dan formasi armada alat berat kami di lapangan hari ini merepresentasikan ketegasan PHR dalam melindungi aset negara sekaligus mengamankan ruang hidup masyarakat," ujar Andre.
Baca Juga: Punya Jurus Baru Genjot PAD, Pemkab Kuansing Kerahkan PPPK Jadi Juru Pungut Pajak
Kesiapan infrastruktur mitigasi di tingkat korporasi ini sejalan dengan strategi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam merespons tantangan hidrometeorologis tahun 2026. Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, yang bertindak langsung sebagai Pembina Apel, menekankan fokus pemerintah pada aktivasi early fire response (respons dini tingkat tapak).
Keterlibatan PHR dalam penanggulangan bencana lingkungan mencakup pelaksanaan protokol preventif ketat di area konsesi dan tindakan responsif pada eskalasi regional. Pada periode siaga Idulfitri 1447 H lalu, tim penanggulangan kebakaran PHR langsung diterjunkan untuk memberikan dukungan taktis pada operasi pemadaman Karhutla di wilayah Dumai. Dalam misi tersebut, PHR mengerahkan bantuan peralatan taktis dan personel guna membantu Satgas Gabungan (TNI, Polri, dan Manggala Agni) melokalisasi titik api di lahan gambut.
Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2026 ini melibatkan lebih dari 500 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta perwakilan lintas korporasi. Kolaborasi masif ini menjadi bentuk validasi kesiapan Provinsi Riau dalam mengamankan ruang wilayahnya dari potensi anomali cuaca ekstrem tahun ini.(hen)
Editor : Edwar Yaman