Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mengenal Budidaya Kepiting Bakau, Prospek Menjanjikan yang Tak Perlu Merusak Lingkungan

Afiat Ananda • Kamis, 30 April 2026 | 21:54 WIB
Diana Syafni Spi Mling. (Istimewa)
Diana Syafni Spi Mling. (Istimewa)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Di tengah maraknya praktik penebangan mangrove untuk produksi arang di wilayah pesisir Riau, budidaya kepiting bakau mulai dilirik sebagai solusi ekonomi yang lebih ramah lingkungan. 

Model usaha ini dinilai mampu menjadi alternatif penghasilan bagi masyarakat tanpa harus merusak ekosistem pesisir.

Ahli lingkungan, Diana Syafni Spi Mling, menyebut budidaya kepiting bakau merupakan jenis usaha low impact yang sangat cocok dikembangkan di kawasan mangrove. Selain bernilai ekonomi tinggi, metode ini juga dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Baca Juga: UIN Suska Riau Launching Ijazah Elektronik dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah

“Budidaya kepiting bakau bisa menjadi solusi konkret bagi masyarakat pesisir. Tidak perlu menebang mangrove, justru ekosistemnya harus dijaga karena menjadi habitat alami kepiting,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Menurut Diana, aktivitas budidaya di kawasan mangrove diperbolehkan selama memenuhi sejumlah ketentuan, di antaranya tidak merusak pohon mangrove, tidak mengganggu aliran pasang surut, berada di zona yang diizinkan, serta mengantongi izin dari instansi terkait, seperti dinas perikanan dan lingkungan hidup.

Ia menekankan bahwa konsep yang paling dianjurkan adalah Silvofishery, yakni sistem budidaya yang mengintegrasikan kegiatan perikanan dengan pelestarian hutan mangrove.

Baca Juga: May Day di Kepulauan Meranti Dikemas Hiburan Rakyat dan Deklarasi Kamtibmas

Dalam metode ini, mangrove tetap dipertahankan, sementara aktivitas budidaya dilakukan di sela atau sekitar kawasan tanpa mengubah fungsi hutan. Model ini telah banyak diterapkan di berbagai daerah di Indonesia karena dinilai lebih ramah lingkungan, produktivitasnya stabil, serta minim konflik dengan regulasi.

“Kalau dikelola dengan benar, hasilnya juga menjanjikan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga peluang ekonomi jangka panjang,” tambahnya.

Secara pasar, kepiting bakau memiliki nilai jual tinggi. Di sejumlah platform perdagangan daring, kepiting hidup ukuran 250 gram per ekor ditawarkan sekitar Rp170 ribu per kilogram. Untuk ukuran lebih besar, yakni 500 gram per ekor, harganya bahkan bisa menembus Rp250 ribu per kilogram.

Baca Juga: Warga Rimbo Panjang Dikejutkan Penemuan Kerangka Manusia di Lahan Kosong

Permintaan terhadap komoditas ini juga terus meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional. Data menunjukkan, ekspor kepiting Indonesia pada 2021 mencapai sekitar USD513 juta atau setara Rp9 triliun, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah.

Keberhasilan budidaya kepiting berbasis mangrove juga telah lebih dulu diterapkan di daerah lain, seperti di kawasan Sungai Nipah, Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Model ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Diana berharap, pemerintah daerah di Riau dapat mulai mendorong pengembangan budidaya kepiting bakau sebagai alternatif utama pengganti aktivitas produksi arang mangrove yang merusak lingkungan.

Baca Juga: Ketua DPRD Riau Dorong Pemda Carikan Solusi Pekerja Arang Bakau di Wilayah Pesisir

“Ini momentum yang tepat untuk beralih. Kita punya sumber daya alam yang sama, tinggal bagaimana dikelola dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor : M. Erizal
#budidaya kepiting bakau #mangrove #wilayah pesisir