Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Riau Menuju Strategi Peradaban Islam Dunia

Muhammad Amin • Kamis, 7 Mei 2026 | 09:10 WIB
Adian Husaini PhD melontarkan gagasannya dalam diskusi LPIP di Pondok Profesor, Rabu (6/5/2026). (Muhammad Amin/Riau Pos)
Adian Husaini PhD melontarkan gagasannya dalam diskusi LPIP di Pondok Profesor, Rabu (6/5/2026). (Muhammad Amin/Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pekanbaru menjadi saksi diskusi mendalam mengenai masa depan tatanan global. Dalam diskusi Lembaga Pengkajian Islam dan Peradaban (LPIP) ke-36 bertajuk "Antara Kepentingan dan Kekuatan: Wajah Baru Konflik Geopolitik Global" yang digelar di Pondok Profesor, Rabu (6/5/2026) malam, narasumber utama Adian Husaini PhD melontarkan gagasan besar mengenai peran strategis Riau dalam peta peradaban Islam.

Adian Husaini membedah posisi Riau bukan sekadar sebagai daerah administratif, melainkan sebagai pemegang "hak sejarah" bagi peradaban Nusantara. Ia menegaskan bahwa Riau memiliki kekuatan dasar untuk menjadi model miniatur peradaban Islam dunia.

"Riau harus memiliki strategi peradaban. Kita punya modal besar lewat warisan Raja Ali Haji dan Gurindam 12," ujar Adian.

 Baca Juga: Inilah Nama Korban Teridentifikasi Kecelakaan Maut di Jalinsum, Salah Satunya Kondektur Bus ALS Warga Riau

Ia memaparkan fakta sejarah yang luar biasa: bagaimana bahasa Melayu Riau mampu diterima di seluruh Nusantara—Jawa, Sunda, Kalimantan, Papua, hingga Sulawesi—dan menjadi fondasi bahasa Indonesia.

Adian mencontohkan kedalaman konsep bahasa Melayu yang menyerap nilai Islam. "Masyarakat Jawa, misalnya, baru mengenal padanan kata 'akal' setelah menggunakan bahasa Melayu. Sebelumnya hanya ada kata 'otak'. Akal memiliki nilai lebih karena menyangkut juga dimensi rohani," jelasnya. Bahkan kata "asli" pun merupakan adopsi dari bahasa Arab melalui bahasa Melayu. Hal ini mementahkan argumen mereka yang mengaku orang asli dan ingin agar peradaban nenek moyang yang harus digunakan. Padahal kata “asli” juga tidak asli dari bahasa leluhur itu.

Hal ini membuktikan bahwa peradaban Islam masuk ke Indonesia dengan cara yang sangat cerdas dan damai melalui para pedagang dan pendakwah Melayu.

 Baca Juga: Setelah Tersingkir dari Liga Champions, Kompany Soroti Progres yang Ditunjukkan Bayern Munchen

Karena besarnya pengaruh literasi tersebut, Adian menekankan pentingnya pelestarian Arab Melayu dan pemahaman mendalam terhadap Gurindam 12. Ia bahkan mewajibkan institusi pendidikan yang dipimpinnya untuk mempelajari dan memahami isi Gurindam 12 sebagai pedoman kehidupan.

Langkah Geopolitik dan Pertaruhan di Palestina

Beralih ke panggung global, Adian mengungkap sisi di balik layar kebijakan luar negeri Indonesia. Ia menyebutkan bahwa bergabungnya Indonesia ke dalam BoP (Board of Peace) merupakan pertaruhan besar Presiden Prabowo Subianto. Masuknya Indonesia ke dalam lembaga bentukan Presiden AS Donald Trump itu banyak dikecam di negeri ini. Padahal menurutnya di negara-negara lain, seperti Turki, Arab Saudi atau Mesir, kecaman itu tidak terjadi kendati mereka juga masuk anggota BoP.

"Masalah Palestina tidak akan selesai hanya dengan sekadar demonstrasi, pernyataan, atau sumbangan yang kemudian berulang lagi. Harus ada jalan politik yang konkret," ungkap Adian. Melalui komunikasi intensif dengan pemimpin dunia seperti Erdogan, Presiden Prabowo berupaya mencari celah untuk menghentikan genosida yang dilakukan Israel.

 Baca Juga: PSG Kembali ke Final Liga Champions setelah Singkirkan Bayern Munchen, Luis Enrique Katakan Hal Ini

Adian menilai bahwa saat ini dunia sedang menyaksikan titik nadir zionisme. Meskipun lobi kuat di Amerika Serikat (AS) membuat bantuan terus mengalir ke Israel, namun sentimen anti-Israel justru menguat di dalam negeri AS sendiri. Terpilihnya Zohran sebagai Wali Kota New York yang muslim menjadi salah satu bukti meningkatnya simpati dunia terhadap Islam.

Di belahan negara manapun saat ini Israel selalu mendapat kecaman. Dulu mereka bisa leluasa mengusir 2 juta orang Palestina dan melakukan genosida pelan-pelan. Tapi sekarang seluruh dunia menonton kekejaman itu. Ironisnya, Amerika lewat Donald Trump terus mendukung.

"Peradaban Barat sudah sampai di puncaknya dan kini mulai menurun akibat keserakahan, mirip dengan jatuhnya Romawi. Sekarang adalah momentum bagi kita untuk memperkuat peradaban Islam yang memiliki model kehidupan dan negara yang utuh dari Rasulullah. Gerakan penguatan ini sangat bisa dimulai dari Riau," pungkasnya.

 Baca Juga: Antrean BBM SPBU di Pulau Bengkalis Terus Berlanjut, Disdagprin Minta Masyarakat Tidak Panik

Pentingnya Persatuan dan Ketahanan Nasional

Senada dengan hal tersebut, Ketua LPIP Prof Aladdin Koto dalam pidato pembukaannya mengingatkan umat Islam agar tidak mudah terpecah belah. Ia mempertanyakan mengapa kejayaan Islam di masa lalu seolah memudar di era sekarang.

“Islam itu satu. Jangan mau diadu domba. Sekarang pemimpin dunia Islam sedang diadu, padahal hanya dua kelompok yang bisa diadu: anak-anak dan orang bodoh,” tegas Prof Aladdin. Ia menekankan bahwa persatuan adalah kunci utama jika ingin kembali menguasai peradaban.

Sementara itu, pemerhati kajian geopolitik global, Fahmi Salsabila MSi, melihat konflik Iran-Israel sebagai katalisator pergeseran dunia dari unipolar menuju multipolar. Ia mencontohkan bagaimana Iran mampu bertahan selama 40 tahun meski diisolasi karena memiliki kemandirian ekonomi dan tidak bergantung pada sistem finansial Barat seperti Visa atau Mastercard.

Baca Juga: Antrean BBM SPBU di Pulau Bengkalis Terus Berlanjut, Disdagprin Minta Masyarakat Tidak Panik

Namun, Fahmi memberikan catatan kritis bagi Indonesia. Dengan harga minyak yang melambung dan beban fiskal yang ketat, posisi politik Indonesia saat ini cenderung terkunci. “Apakah tata dunia baru akan tercipta? Bisa jadi ya atau tidak, namun yang pasti ambisi militer yang melebihi daya dukung ekonomi akan menjadi ancaman bagi stabilitas negara,” pungkasnya.

Diskusi yang dipandu oleh Wakil Ketua LPIP Haris Simaremare ini memberikan kesimpulan kuat bahwa penguatan peradaban melalui literasi, kebudayaan, dan keberanian diplomasi adalah jalan mutlak bagi Indonesia untuk kembali disegani di mata dunia.(muh)

Editor : Edwar Yaman
#peradaban islam #Lembaga Pengkajian Islam dan Peradaban #riau