RIAUPOS.CO - Dari sebuah lomba pacu sampan sederhana pasca-pandemi Covid-19, kawasan Telaga Air Merah di Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, perlahan berkembang menjadi festival wisata berbasis budaya yang mulai menarik perhatian penggiat ekowisata dari berbagai daerah di Riau.
Festival Telaga Air Merah dan Kemah Budaya 2026 yang berlangsung pada 16–17 Mei 2026 itu kini memasuki tahun keenam penyelenggaraan dan diisi berbagai kegiatan budaya masyarakat seperti pacu sampan tradisional, lomba mencucuk atap daun rumbia, lomba edukasi anak-anak, malam apresiasi seni budaya, pertunjukan musik Melayu, api unggun, hingga kemah budaya di kawasan Telaga Air Merah.
Tahun ini, festival juga dirangkai dengan diskusi pengembangan desa wisata berbasis digital yang diikuti penggiat wisata dari Pekanbaru, Kampar, Pelalawan, Dumai, Siak, Rokan Hilir, dan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai tuan rumah.
Ketua BUMDes Desa Tanjung yang juga Ketua Panitia Festival Telaga Air Merah 2026, Selamet Riyadi, mengatakan festival tersebut bermula ketika pengelola wisata berupaya menghidupkan kembali kawasan Telaga Air Merah yang sempat mengalami penurunan kunjungan saat pandemi.
Menurutnya, pada awalnya masyarakat hanya mengadakan lomba pacu sampan tradisional untuk menarik kembali pengunjung ke kawasan wisata desa.
“Awalnya kegiatan ini hanya pacu sampan tradisional untuk menarik kembali pengunjung setelah pandemi. Namun seiring waktu antusiasme masyarakat semakin besar sehingga tahun ini kami mengembangkan konsepnya menjadi Festival Telaga Air Merah,” ujar Selamet.
Ia mengatakan festival tersebut kini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat pesisir kepada pengunjung dari luar daerah.
Menurut Slamet, peningkatan kunjungan wisata selama festival juga mulai memberi dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat desa, terutama bagi pelaku usaha kecil dan UMKM di sekitar kawasan wisata.
“Kami berharap festival ini ke depan bisa berkembang lebih besar dan mendapat dukungan pemerintah sehingga dapat menjadi bagian dari agenda festival nasional,” ujarnya.
Dalam diskusi pengembangan desa wisata, pemateri dari Yayasan Umar Kayam Yogyakarta, Saiful Bakhtiar, mengatakan perkembangan wisata desa saat ini tidak dapat dipisahkan dari promosi digital dan media sosial. Menurutnya, pola perjalanan wisatawan kini banyak dipengaruhi konten visual yang beredar di platform digital.
“Jika desa tidak hadir di media sosial, maka desa tersebut akan sulit masuk dalam pilihan destinasi wisata masyarakat,” ujar Saiful.
Menurut Saiful, pengembangan wisata desa tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga perlu didukung penguatan layanan dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan pola wisata digital.
Ia menyarankan pengelola wisata mulai bekerja sama dengan sektor perbankan untuk mendukung digitalisasi pembayaran karena sebagian besar transaksi UMKM di sekitar kawasan wisata masih dilakukan secara tunai.
Selain itu, Saiful juga mendorong keterlibatan aparat kepolisian dan Badan Nasional Narkotika Kabupaten Kepulauan Meranti untuk melakukan edukasi bahaya penyalahgunaan narkotika di kalangan pemuda, seiring meningkatnya aktivitas wisata dan kunjungan masyarakat dari luar daerah.
Menurutnya, pengembangan desa wisata juga perlu melibatkan Dinas Koperasi dan UMKM dalam meningkatkan kualitas produk masyarakat.
Owner Subayang Festival, Dodi Rasyid Amin, mengatakan festival berbasis alam dan budaya dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila memiliki identitas yang kuat dan dikelola secara konsisten.
Menurutnya, pengalaman pengembangan wisata masyarakat di kawasan Sungai Subayang dan Rimbang Baling menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan wisata.
“Festival bukan hanya soal keramaian acara, tetapi bagaimana masyarakat ikut merasakan dampak ekonomi dan memiliki rasa memiliki terhadap kawasan wisata tersebut,” ujar Dodi.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Belit, Dedi Irawan, mengatakan pengelolaan wisata berbasis masyarakat dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi desa apabila dikelola secara konsisten.
Menurutnya, kawasan wisata Tanjung Belit di Kabupaten Kampar yang berada di sekitar kawasan Sungai Subayang dan Rimbang Baling saat ini mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
“Dari penjualan tiket saja, kami bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp40 juta hingga Rp60 juta per bulan tergantung jumlah pengunjung,” ujar Dedi.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisata turut mendorong tumbuhnya usaha masyarakat seperti penginapan, jasa transportasi sungai, kuliner, hingga produk UMKM desa.
CSR Coordinator PT Imbang Tata Alam (ITA), Arip Hidayatulloh, mengatakan pengembangan kawasan wisata berbasis partisipasi masyarakat memiliki peluang keberlanjutan yang lebih kuat karena tumbuh dari kebutuhan dan keterlibatan langsung warga desa.
“Ketika masyarakat mulai mampu mempromosikan potensi daerahnya sendiri secara mandiri, maka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi desa juga akan semakin besar,” ujar Arip.
CSR & Communication Division Manager EMP, Iman Soerjasantosa, mengatakan pengembangan wisata berbasis masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Menurutnya, promosi digital dan penguatan identitas kawasan wisata dapat membantu membuka akses pasar yang lebih luas bagi masyarakat desa, terutama pada sektor usaha kecil, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis komunitas.
“Pengembangan kawasan wisata saat ini tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga kemampuan masyarakat membangun identitas dan promosi kawasan secara konsisten melalui platform digital,” kata Iman.(ose)
Editor : Rindra Yasin