PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Cuaca ekstrem yang mencapai 46 derajat celcius menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah calon haji (JCH) asal Riau di Tanah Suci. Meski demikian, aktivitas ibadah dan manasik tetap berjalan sebagaimana mestinya menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Armuzna.
"Cuaca mencapai 46 derajat," sebut Ketua Kloter BTH 03, Faulina Riska dari Makkah.
Menurutnya, di tengah suhu panas yang menyengat, para jemaah masih aktif melaksanakan berbagai kegiatan ibadah dan pembinaan. "Selain kegiatan manasik di masjid hotel, jemaah masih pulang pergi salat berjamaah dimasjidil haram," ujar Faulina Riska.
Baca Juga: Waspada Penipuan, Pengajuan KUR BRI Tidak Ditawarkan secara Online
Ia menambahkan, saat ini fokus pembinaan lebih diarahkan pada persiapan menghadapi rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
"Pengarahan untuk persiapan Armuzna dan manasik haji," tambahnya.
Sementara itu, skema pelayanan khusus juga diterapkan bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti) melalui penerapan murur. Dalam skema tersebut, jemaah lansia dan risti akan langsung diberangkatkan menuju tenda Mina Jadid (Zona 5) yang menjadi lokasi maktab sejumlah kloter BTH lainnya seperti BTH 06, 07, dan 08.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Kampar, BPBD Imbau Masyarakat Siaga
Di Mina Jadid, para jemaah lansia dan risti akan diinapkan, sementara kewajiban lontar jamarat mereka dibadalkan atau diwakilkan. Setelah malam 10 Zulhijjah, mereka akan kembali diantar menggunakan bus menuju hotel yang berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi Jamarat. Sedangkan jemaah yang dalam kondisi sehat dan kuat tetap diarahkan melaksanakan lontar jamarat secara mandiri serta mabit di area sekitar Jamarat.
Petugas Haji Pembimbing Ibadah, Suryandi, juga mengingatkan jemaah agar bijak mengatur tenaga, terutama dalam pelaksanaan Tawaf Ifadhah, Sai, dan Tahallul Tsani.
"Waktu untuk melaksanakan Tawaf Ifadhah itu sangat luas. Jemaah tidak perlu memaksakan diri untuk turun ke Masjidil Haram pada tanggal 10 Zulhijjah, mengingat kondisi lalu lintas dan kepadatan massa yang sangat tinggi pada hari tersebut," pungkasnya.(ilo)
Baca Juga: Komunika Fest 2026, Saat Seni dan Tawa Menjadi Bahasa Generasi Muda
Editor : Edwar Yaman