PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pembayaran dam (denda) bagi jemaah haji tamattu asal Riau telah tuntas dilaksanakan. Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Riau Defizon mengatakan, mayoritas jemaah Riau mempercayakan pembayaran dam melalui lembaga resmi Addahi.
Dari total jemaah haji Provinsi Riau, sebanyak 4.394 orang atau 93,58 persen melaksanakan pembayaran dam melalui Addahi. “Alhamdulillah, pelaksanaan pembayaran dam jemaah haji Provinsi Riau berjalan lancar dan tertib,” ujar Defizon, Rabu (20/5).
Selain itu, terdapat 45 jemaah yang memilih mengganti dam dengan berpuasa sesuai ketentuan syariat. Sementara itu, sebanyak 251 jemaah melaksanakan pembayaran dam secara mandiri. Defizon juga menyebutkan terdapat dua jemaah yang memilih melaksanakan haji ifrad sehingga tidak dikenakan kewajiban dam tamattu.
Di samping itu, tercatat dua jemaah wafat. “Dengan demikian, total sebanyak 4.692 jemaah haji Provinsi Riau telah menyelesaikan kewajiban terkait dam haji tamattu sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Baca Juga: Pidato Prabowo di DPR: 34 Tahun Praktik Kecurangan Ekspor, Negara Rugi hingga Rp15.400 Triliun
Apa itu dam? Dam adalah sanksi atau denda yang harus dibayar saat seseorang menunaikan ibadah haji karena beberapa sebab. Dalam menjalankan ibadah haji dan umrah ada sejumlah larangan yang harus dihindari serta aturan yang wajib ditaati agar tidak terkena dam.
Namun, bagi kebanyakan jemaah haji Indonesia, dam tidak dapat dihindari karena harus mengambil haji tamattu, yaitu dengan melaksanakan umrah dahulu kemudian haji. Dam secara bahasa berarti mengalirkan darah dengan menyembelih hewan kurban yang dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji.
Seorang jemaah haji wajib membayar dam lantaran selama menunaikan ibadah haji dan umrah melanggar larangan haji atau meninggalkan kewajiban haji. Pelanggaran itu misalnya, melakukan larangan-larangan ihram atau tidak dapat menyempurnakan wajib haji seperti mabit di Mina atau Muzdalifah.
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Defizon mengingatkan seluruh JCH Riau agar menjaga kesehatan mengingat cuaca ekstrem di Kota Makkah yang berkisar 45-48 derajat Celsius.
Ia mengimbau jemaah untuk sementara waktu memaksimalkan ibadah di mushalla hotel guna menjaga kondisi fisik agar tetap prima saat memasuki fase puncak haji.
“Cuaca di Makkah saat ini sangat panas. Kami mengimbau jemaah untuk melaksanakan ibadah di musala hotel terlebih dahulu karena puncak haji nantinya akan sangat membutuhkan kondisi fisik yang kuat dan sehat,” pesannya.
Defizon juga mengingatkan jemaah agar rutin mengonsumsi air putih guna mencegah dehidrasi serta menjaga pola istirahat dengan baik. “Jaga kesehatan, rajin minum air, dan jangan sampai dehidrasi. Yang paling penting, kartu Nusuk harus selalu dijaga karena menjadi salah satu syarat untuk dapat melaksanakan ibadah di Masjidil Haram maupun saat Armuzna,” tegasnya.
Baca Juga: Kementan Gerak Cepat Stabilkan Harga Ayam Hidup, Asosiasi Peternak Siap Kawal di Lapangan
Sementara itu, Ketua Kloter BTH 4 Agus Salim Tanjung mengatakan, terkait cuaca ekstrem ini sudah disosialisasikan ke para jemaah, baik secara langsung maupun melalui Ketua Rombongan dan Ketua Regu di tiap kloter. Beberapa jemaah sudah ada yang kelelahan dan terserang penyakit akibat cuaca ekstrem tersebut.
“Jemaah kita sudah diimbau untuk selalu membawa kartu nusuk sebagai identitas yang diakui. Selain pengawasan yang super ketat, memang cuaca ekstrem ini jadi tantangan. Sesuai arahan Kemenhaj, kita bersama tim medis dan PHD (Petugas Haji Daerah) terus menyampaikan ke jemaah agar menjaga stamina dan mengurangi aktivitas di luar,” terangnya.
Selain itu hasil koordinasi dengan pihak Petugas Sektor Makkah juga menegaskan pentingnya jemaah segera melapor kepada petugas apabila mengalami gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Menurutnya, langkah tersebut penting agar penanganan medis dapat dilakukan dengan cepat dan tepat serta memastikan kondisi JCH maksimal untuk puncak haji mendatang.
Pantauan Riau Pos dari Makkah, Pemerintah Arab Saudi bersama Kemenhaj mulai melakukan beberapa persiapan untuk puncak haji. Mulai dari mengatur rute perjalanan yang sebagian besar ditempuh dengan berjalan kaki, mematangkan persiapan akomodasi, transportasi dan beberapa hal pendukung kelancaran kegiatan Armuzna.
Baca Juga: Diskusi Publik: Dinamika Media, Homeless Media, dan Masa Depan Industri Pers Nasional
Seperti terlihat di daerah shisah atau Sektor 3 Kota Makkah, petugas kepolisian sudah mengatur akses transportasi hingga menutup sejumlah rute jalanan. Ini dikarenakan kawasan ini menjadi salah satu akses tempat jemaah haji berjalan kaki bersama-sama menuju lokasi melontar Jumrah di Mina.
Begitu juga di kawasan Masjidilharam pengawasan ketat dengan razia dan melihat kartu nusuk sebagai salah satu identitas utama untuk jemaah haji dilakukan di segala pintu masuk. Sehingga pendatang ilegal yang tidak terdata tidak diperkenanka memasuki kawasan yang kental dengan nuansa religi tersebut.
Untuk memastikan kesehatan dan kondisi fisik JCH, stakeholder terkait juga menjaga kualitas konsumsi bagi serta menggiatkan sosialisasi tentang penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat beraktivitas di tegah cuaca ekstrem.
‘’Saat beraktivitas di luar, jemaah haji wajib menggunakan APD. Hal ini sangat penting untuk mencegah risiko dehidrasi berat dan heatstroke (sengatan panas). Kami mengimbau jemaah calon haji untuk menjaga kondisi fisik, mengurangi aktivitas luar karena cuaca tergolong ekstrem,” tuturnya.
JCH Bengkalis Sehat
Seluruh Kabupaten Bengkalis yang tergabung dalam Kloter 9, 10, dan 18 dalam keadaan sehat di Makkah. “Kami terus memantau kondisi JCH asal Bengkalis yang saat ini berada di Kota Makkah, khususnya menjelang pelaksanaan ibadah puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna),” ujar Kepala Kantor Kemenhaj Bengkalis, Rusli, Rabu (20/5).
Ia juga memastikan seluruh JCH Bengkalis berada dalam kondisi sehat dan siap menjalankan rangkaian ibadah puncak haji. Pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan petugas kloter serta pembimbing ibadah untuk memastikan kondisi jamaah tetap terpantau dengan baik.
Sementara itu, salah seorang JCH asal Bengkalis yang tergabung dalam Kloter BTH 9 Al Hamidi, saat dihubungi mengaku kondisi jamaah asal Bengkalis hingga saat ini masih sehat. “Alhamdulillah, dengan mengonsumsi vitamin dan menjaga pola makan, jemaah haji Bengkalis sampai saat ini dalam keadaan sehat,” ujarnya.(ilo/rio/ksm)
Editor : Arif Oktafian