PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dampak el nino mulai dirasakan masyarakat Riau. Panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Di Pekanbaru, suhu mencapai 35 derajat Celsius (°C), Ahad (31/5). Antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun dilakukan. Status Siaga Darurat Karhutla pun ditetapkan 11 dari 12 kabupaten/kota di Riau.
‘’Suhu udara di Provinsi Riau sepanjang hari ini (Ahad, red) berkisar antara 23-35 derajat Celsius dengan kelembapan udara mencapai 55 hingga 99 persen,’’ ujar Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Indah DN, kemarin.
Indah DN menjelaskan, titik panas juga meningkat. Sabtu (30/5) pukul 23.00 WIB, titik panas di Pulau Sumatera tercatat sebanyak 620 titik. Provinsi Aceh menjadi wilayah terbanyak yakni 347 titik, disusul Sumatera Utara 67 titik, Sumatera Barat 58 titik, Sumatera Selatan 56 titik, dan Bangka Belitung 39 titik.
Untuk Provinsi Riau, terdeteksi sebanyak delapan titik panas yang tersebar di empat kabupaten. Yakni Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) sebanyak empat titik, Kuantan Singingi (Kuansing) dua titik, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dan Indragiri Hulu (Inhil).
Namun data terbaru, Ahad (31/5) pukul 16.00 WIB, terpantau jumlah titik panas di Riau mengalami peningkatan hingga mencapai 26 titik yang tersebar di sejumlah daerah. Seperti di Rokan Hilir 17, Rokan Hulu 3, Pelalawan 2, Bengkalis 1, Siak 1, Indragiri Hulu 1, dan Dumai 1.
Bukan hanya wilayah Riau, di Pulau Sumatera hotspot juga mengalami kenaikan menjai 312, yang tersebar di Sumatera Selatan 92, Aceh 58, Bangka Belitung 44, Sumatera Barat 35, Bengkulu 28, Jambi 14, Lampung 10, Sumatera Utara 3, Kepulauan Riau 2, dan titik panas.
Diungkapkannya, meskipun jumlah hotspot di Riau relatif rendah dibandingkan provinsi lain di Sumatera, BMKG mengingatkan seluruh pihak tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama memasuki periode cuaca panas yang masih terjadi di sejumlah wilayah. “BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem,” ujarnya.
Daerah Siaga Darurat Karhutla
Sebanyak 11 daerah di Riau sudah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla. Penetapan status siaga tersebut sebagai bentuk kewaspadaan terhadap ancaman karhutla karena saat ini Riau sudah memasuki musim kemarau.
Kepala Badan (Kaban) Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Jim Gafur mengatakan, selain pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau juga sudah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla.
“Saat ini Pemerintah Provinsi dan 11 pemerintah kabupaten/kota di Riau sudah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla. Hanya tinggal satu daerah saja yang belum menetapkan yakni Kuansing (Kuantan Singingi),” ujarnya, Ahad (31/5).
Lebih lanjut dikatakannya, dengan penetapan status, koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi dan daerah dalam penanganan karhutla juga diharapkan akan lebih cepat dan mudah. “Koordinasi dan pengiriman bantuan akan lebih mudah sehingga penanganan karhutla juga akan lebih cepat. Kami harapkan Kuansing juga segera menetapkan status ini,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera terus melakukan operasi pemadaman karhutla di Rantau Bais Rokan Hilir, Sokoi Pelalawan, dan Kandis Siak. Sementara lokasi kebakaran di Pasir Limau Kapas dinyatakan padam setelah lima hari penanganan intensif.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, kondisi lapangan masih menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari angin kencang, vegetasi kering yang mudah terbakar, hingga karakteristik lahan gambut yang menyulitkan proses pemadaman.
“Tim Manggala Agni terus bekerja maksimal di seluruh lokasi kebakaran. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang cukup menantang dan medan yang tidak mudah, personel tetap fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan,” ujar Ferdian.
Baca Juga: Karhutla di Pangkalan Kerinci Padam Total, Tim Gabungan Fokuskan Pemadaman di Sokoi Kuala Kampar
Di Rantau Bais, pada siang hari, petugas sempat menghadapi kondisi yang cukup berat akibat tiupan angin kencang yang menyebabkan asap menjadi sangat pekat dan mempercepat pergerakan api di sejumlah titik.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara, luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 44 hektare (ha). Mengingat luas area serta ketersediaan sumber air yang masih memungkinkan untuk mendukung operasi, jumlah personel akan ditambah Senin (1/6) hari ini. “Di Rantau Bais, kondisinya cukup merepotkan karena angin bertiup cukup kencang sehingga asap menjadi sangat pekat,” kata Ferdian.
Sementara itu, di Sokoi Pelalawan, kebakaran terjadi pada kawasan dengan vegetasi berupa pakis-pakisan dan semak belukar di atas lahan gambut yang dikenal mudah menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Hujan ringan yang turun sekitar 30 menit pada siang hari belum memberikan dampak signifikan terhadap proses pemadaman. Karena itu, operasi akan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya untuk memastikan tidak ada titik api yang berkembang.
“Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Hujan ringan yang terjadi belum cukup membantu sehingga tim akan melanjutkan operasi besok,” ujarnya.
Di lokasi Kandis, Siak operasi pemadaman telah memasuki hari kelima. Kondisi kebakaran dilaporkan semakin membaik setelah upaya pemadaman dan pendinginan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Meski demikian, petugas masih menemukan beberapa titik yang memerlukan penanganan lebih lanjut untuk mencegah munculnya api kembali. Untuk menjaga kondisi fisik dan efektivitas kerja di lapangan, Manggala Agni akan melakukan pergantian personel pada Senin (1/6) pagi.
“Penanganan di Kandis menunjukkan perkembangan yang baik. Namun kami tetap berhati-hati dan akan melanjutkan pemadaman serta pendinginan,” jelas Ferdian.
Kabar baik datang dari Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, di mana operasi pemadaman yang telah berlangsung selama lima hari akhirnya berhasil dituntaskan. Hingga siang hari, petugas masih melakukan kegiatan mopping up atau pendinginan akhir serta pemeriksaan menyeluruh mengelilingi area bekas kebakaran guna memastikan tidak ada lagi bara yang tersisa.
Setelah lokasi dinyatakan aman, personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) yang sebelumnya dikerahkan di lokasi telah kembali ke markas untuk bersiaga menghadapi potensi kebakaran lainnya.
Baca Juga: Suhu Udara Riau Capai 35 °C, Empat Kabupaten Terdeteksi Hot Spot
“Lokasi Pasir Limau Kapas sudah dinyatakan padam. Tim telah menyelesaikan mopping up terakhir dan melakukan pengecekan ulang di seluruh area kebakaran. Personel BKO kini kembali ke markas dan bersiaga untuk mendukung operasi apabila muncul kejadian baru,” ungkap Ferdian.
Ia menambahkan, keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada kerja sama seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa dari semua pihak. Manggala Agni akan terus siaga dan bergerak cepat dalam setiap penanganan karhutla demi melindungi lingkungan serta masyarakat dari dampak kebakaran hutan dan lahan,” tuturnya. Sementara ditanyakan mengenai luasan areal yang terbakar, menurut Ferdian estimasi luasan sementara 44 hektare (ha).
Dua Titik Panas Terdeteksi dari Aktivitas PKS
BMKG Pekanbaru mendeteksi dua titik panas di Kabupaten Kuantan Singingi. Kedua titik panas yang terdeteksi itu berada di Kecamatan Kuantan Mudik. Keduanya berasal dari aktivitas pabrik kelapa sawit (PKS) yang ada di Kecamatan Kuantan Mudik.
“Kami memastikan, dua titik panas itu bukan akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Tetapi berasal dari dua PKS yang ada di sana,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kuansing H Yulizar lewat Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Koko Mahyudi, kemarin.
Menyikapi perubahan cuaca yang beralih dari musim hujan ke musim panas, Senin (1/6) sore akan dilakukan apel gabungan kesiapsiagaan bencana karhutla di wilayah Kabupaten Kuansing. “Ini menjadi pertanda kita siap siaga bencana karhutla. Besok (hari ini, red) juga akan digelar kekuatan personel gabungan dari BPBD, Satpol PP-PKP, Polri, dan TNI,” ujar Koko.
Inhil Masih Bersih dari Hotspot
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) saat ini terpantau bebas dari titik panas. Meski demikian, BPBD Inhil mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman karhutla. Kepala Pelaksana BPBD Inhil, R Arliansyah mengatakan ini menunjukkan upaya pencegahan yang selama ini dilakukan berjalan cukup efektif.
Namun, seluruh pihak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi karhutla masih bisa terjadi sewaktu-waktu. “Alhamdulillah, sampai saat ini Inhil masih nihil hotspot. Namun kondisi ini jangan membuat kita lengah. Kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan rawan terbakar,” ujarnya, Ahad (31/5).
22 Ha Terbakar Lahan HGU di Kandis
Lahan perusahaan yang kini dikelola PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) di Siak terbakar 22 hektare. Kalaksa BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara mengatakan, kebakaran terjadi di Kampung Pencing Bekulo, Kecamatan Kandis dam masih terus dilakukan upaya pemadaman.
“Sedikitnya air, membuat tim yang bekerja melakukan pemadaman kesulitan,” jelasnya, Ahad (31/5). Disebutkan Novendra, mereka melakukan pengecekan kanal di Kelurahan Kampung Rempak, Kecamatan Siak, Sabtu (30/5) sebagai langkah pengendalian karhutla, sekaligus memastikan kondisi kanal berfungsi dengan baik, sebagai sumber air.
Baca Juga: Lima Rakit PETI di Sungai Kuantan Desa Pulau Jambu Cerenti Dibakar Polisi
4 Kecamatan di Rohul Jadi Atensi Karhutla
Empat kecamatan menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) dalam upaya pencegahan karhutla. Bupati Rohul Anton ST MM menegaskan, larangan membakar lahan dan meminta seluruh camat segera menginstruksikan kepala desa dan lurah untuk mensosialisasikan imbauan tersebut kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
Empat kecamatan yang menjadi atensi rawan karhutla yakni Kecamatan Rambah, Rambah Samo, Rokan IV Koto dan Pendalian IV Koto. Wilayah tersebut dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap terjadinya kebakaran lahan yang berpotensi menimbulkan kabut asap.
“Saya minta camat, kepala desa dan lurah proaktif menyosialisasikan larangan pembakaran lahan serta langkah-langkah pencegahan kepada masyarakat agar kejadian yang merugikan dapat dihindari,” ungkapnya, Ahad (31/5).
“Pencegahan harus menjadi prioritas. Jangan sampai kebakaran meluas dan menimbulkan kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas perekonomian,” tegasnya.(sol/fad/dac/*2/mng/epp/das)
Editor : Arif Oktafian