PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di tengah masifnya tantangan teknologi kecerdasan buatan, penguatan literasi berbasis rekam jejak sejarah menjadi poin krusial bagi para penjaga gerbang informasi. Hal ini mengemuka dalam acara bedah buku autobiografi Jalan Hidup Anak Pujud karya Gubernur Riau periode 1998–2003, Brigjen TNI (Purn) H Saleh Djasit SH, yang ditaja bersempena dengan seminar penguatan kompetensi pustakawan di era gen AI (generative artificial intelligence).
Agenda yang berlangsung di auditorium PCR (Politeknik Caltex Riau) pada Kamis (4/6) ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari para pustakawan se-Riau serta sivitas akademika PCR. Hadir juga beberapa pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Riau. Kegiatan ini dirancang khusus untuk menyuntikkan semangat literasi konvensional di tengah gempuran digitalisasi.
Selaku tokoh utama dalam bedah buku ini, Saleh Djasit mengungkapkan bahwa penulisan autobiografi yang memakan waktu hingga 18 tahun ini sengaja digesa demi menyelamatkan naskah sejarah lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Dalam proses panjangnya sejak 2008, ia dibantu oleh Abdul Kadir Bey, Muhammad Amin, dan Zulkarnaini, serta mendapat dorongan kuat dari sahabatnya, Chaidir.
Baca Juga: Pemprov Bantu Pengobatan Lanjutan 9 Pasien ke Jakarta
”Di kampung, anak-anak tidak tahu datuknya, apalagi sejarah Pujud. Ini saya tulis agar anak cucu saya paham sejarah datuknya,” jelas Saleh.
Buku ini memuat perjalanan panjang Saleh yang penuh liku, mulai dari cerita sang ayah yang menjadi tauke getah di masa kolonial, menanam karet yang disubsidi Belanda, hingga meminta izin berkebun kepada orang Bonai dan mencari pekerja dari Sumatera Utara.
Baca Juga: Jemaah Haji Kloter BTH 03 Asal Riau Tiba dengan Selamat di Tanah Air
Pendidikan masa itu pun sangat sulit. Akibat tidak ada sekolah, seorang tokoh bernama Haji Harun berinisiatif membuka sekolah darurat. Saleh menjadi satu dari empat murid pertama yang direkrut, namun sekolah tersebut hanya berjalan tiga tahun tanpa mengeluarkan ijazah.
”Lalu saya ke Sedinginan, langsung masuk kelas empat SD Saya baru lulus SD pada umur 17 tahun,” kenang Saleh.
Baca Juga: Heboh Sidang Abdul Wahid, PH Dani M Nursalam dan Asri Auzar Hampir Baku Hantam
Perjuangan sang jenderal berlanjut saat menempuh pendidikan di SMP 1 dan SMA di Padang, hingga akhirnya merantau ke Jawa. Di sana, ia sempat gagal saat mengikuti tes akademi perhotelan dan bahkan pernah kecopetan saat ikut mendengarkan pidato Bung Karno. Namun nasib baik berpihak ketika ia lulus tes ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) hingga berhasil meniti karier sebagai perwira, meraih gelar sarjana hukum di usia 46 tahun setelah delapan tahun kuliah, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai bupati dan gubernur.
Kisah nyata yang sarat nilai edukasi ini diharapkan dapat menjadi amunisi literasi yang berharga bagi para pustakawan dalam mengelola dan menyebarkan nilai-nilai inspirasi kepada masyarakat luas. Kisah hidup ini pun sebelumnya telah diadaptasi menjadi sebuah novel berjudul Ayah Keduaku oleh Muhammad Amin pada 2013 lalu.
Tantangan Gen AI dan Warisan Peradaban
Menanggapi rekam jejak tersebut, Direktur PCR Dr Dadang Syarif menekankan bahwa tantangan terbesar gen AI saat ini adalah kecenderungan generasi muda yang terlalu bergantung pada teknologi yang instan, padahal tidak semua lapis data dan nilai moral tersedia di dalam AI.
”Buku Pak Saleh merupakan warisan besar bagi generasi muda. Jangan hanya mengandalkan AI, buku juga sangat perlu. Saya sudah membaca buku ini dan isinya penuh inspirasi,” ujar Dadang di hadapan para pustakawan dan sivitas akademika yang hadir.(muh/c)
Editor : Arif Oktafian