PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid kembali menghadirkan saksi meringankan (a de charge).
Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6/2026), pendakwah kondang Ustadz Abdul Somad atau UAS memberikan kesaksian panjang terkait hubungannya dengan Abdul Wahid sejak menjadi anggota DPR RI hingga menjabat sebagai Gubernur Riau.
Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Delta Tamtama, sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) diantaranya adalah Meyer Polmar Simanjuntak.
Baca Juga: Ruben Bingung Dituding Punya Penyakit Hati, Sebut Bicara Dalam Batas Wajar, Ini Penjelasannya
Dalam keterangannya, UAS mengaku mengenal Abdul Wahid sejak 2017-2018. Saat itu, ia turut mengampanyekan Abdul Wahid dalam pencalonannya sebagai anggota DPR RI.
"Saya mengenal Bapak Abdul Wahid tahun 2017-2018 ketika saya mengampanyekan beliau untuk anggota DPR RI di Rokan Hilir karena sama-sama alumni IAIN beda angkatan, sama-sama PERTI, dan sama-sama anak pesantren. Saya merasa beliau layak untuk memperjuangkan nilai-nilai pesantren di parlemen," ujar UAS di hadapan majelis hakim.
Menurut UAS, dukungannya kepada Abdul Wahid didasari keinginan agar ada figur muda dari kalangan Melayu, pesantren, dan alumni IAIN yang mampu memperjuangkan kepentingan Riau di tingkat nasional.
Baca Juga: 80 Kendaraan Menunggak Pajak Terjaring Operasi Simpatik
Ia bahkan mengaku ikut turun langsung berkampanye ke berbagai daerah dengan berbagai moda transportasi.
"Kami berkeliling dari mulai darat naik mobil, naik sepeda motor karena medan yang ditempuh sulit di Indragiri Hilir. Kami naik perahu, naik sampan, dan berkat pertolongan Allah dan niat baik akhirnya beliau duduk memperjuangkan Riau di Menara Lancang Kuning di Senayan," katanya.
Dalam persidangan, UAS juga mengungkap bahwa dirinya termasuk orang yang mendorong Abdul Wahid maju dalam Pemilihan Gubernur Riau 2024.
Menurutnya, menjadi anggota DPR RI saja tidak cukup untuk membangun Riau secara lebih luas.
Baca Juga: Kursi Kasat Narkoba dan Kasat Reskrim Polres Meranti Berganti
"Saya menyampaikan kepada Bapak Abdul Wahid bahwa kalau ingin membangun Riau tidak cukup hanya menjadi anggota DPR RI. Beliau mesti menjadi pemimpin, menjadi gubernur. Dan kalau beliau mau, saya akan menjadi jurkamnya untuk keliling 12 kabupaten/kota," ungkapnya.
UAS mengatakan sebelum memberikan dukungan penuh, ia sempat menanyakan kesiapan Abdul Wahid beserta keluarga untuk menghadapi beratnya perjuangan menjadi gubernur.
Ia juga mengaku meminta Abdul Wahid menandatangani sejumlah komitmen pembangunan yang awalnya berjumlah 17 poin dan kemudian dipadatkan menjadi 16 poin.
Baca Juga: Pengunjung Job Fair 2026 Capai Lebih dari 1.500 Pencaker di Hari Pertama
Poin-poin tersebut, kata UAS, berisi program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan dakwah Islam di Riau, seperti pembangunan Islamic Center di bekas arena MTQ Jalan Sudirman, insentif penyelenggara jenazah, guru mengaji, hingga berbagai program sosial lainnya. "17 poin itu semuanya tidak ada terkait pribadi, tapi kebaikan untuk dakwah Islam di Riau," ujarnya.
Kesaksian UAS juga menyinggung proses pencarian pasangan Abdul Wahid saat Pilgub Riau. Ia mengaku sempat mengusulkan tiga nama untuk mendampingi Abdul Wahid sebagai calon wakil gubernur.
Ketiga nama tersebut adalah Dr Mawardi Muhammad Saleh, Bupati Pelalawan Zukri, dan mantan Bupati Pelalawan Harris. "Saya menawarkan tiga wakil dari saya. Yang pertama Dr Mawardi Muhammad Saleh. Kalau beliau tidak bersedia, saya minta Bapak Zukri. Yang ketiga mantan Bupati Pelalawan Bapak Harris. Ketiga-tiganya ini adalah orang pesantren," katanya.
Baca Juga: Abrasi Kembali Terjang Tanah Merah, Belasan Rumah Warga Runtuh dalam Tiga Hari
UAS bahkan mengaku sempat membuat flyer pasangan Abdul Wahid-Mawardi dan berencana mengampanyekannya. Namun rencana tersebut tidak terwujud karena berbagai alasan. Pada akhirnya, Abdul Wahid memilih SF Hariyanto sebagai pasangan dalam Pilgub Riau.
"Awalnya saya merasa berat untuk nanti mengkampanyekan keliling karena saya mau sepasang dengan yang ada di pikiran saya. Tapi karena setelah saya tanya, beliau menjawab sudah lama kenal dan seterusnya, akhirnya beberapa hari setelah itu saya mengawal ke KPU. Saya sendiri yang menyetir mobil Jeep ke KPU," katanya.
Dalam persidangan, UAS juga mengungkap adanya dinamika hubungan antara Abdul Wahid dan Wakil Gubernur Riau saat itu, SF Hariyanto. Ia mengaku sempat didatangi sejumlah tokoh yang ingin mendamaikan hubungan kedua pemimpin tersebut. Namun menurutnya, upaya perdamaian sulit dilakukan.
Baca Juga: Indra Gunawan Wakili Ketua DPRD Se-Riau, Beri Sambutan Penyerahan LHP BPK RI
UAS juga mengaku pernah bertemu SF Hariyanto di sebuah kafe di Jalan Kartini. Dalam pertemuan itu, SF disebut menyampaikan sejumlah hal yang kemudian diminta diteruskan kepada Abdul Wahid.
Ketika ditanya mengenai hubungan keduanya, UAS menyebut sejak awal hubungan Abdul Wahid dan wakilnya memang tidak mudah.
"Setahu saya keduanya dari awal memang sulit bersinergi," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tetap berharap keduanya bisa bekerja sama demi kepentingan masyarakat Riau.
Baca Juga: Pemkab Meranti dan Pemprov Riau Bakal Bangun 12 Rumah Korban Abrasi
Pada bagian lain keterangannya, UAS memberikan penilaian positif terhadap integritas Abdul Wahid selama menjabat sebagai Gubernur Riau.
Ia menyebut pernah diperlihatkan tangkapan layar pesan WhatsApp yang dikirim Abdul Wahid kepada sejumlah grup terkait larangan pungutan liar dan praktik korupsi. "Beliau mengirimkan pesan, ditunjukkan screenshot ke saya tentang WA ke grup-grup supaya jangan ada pungli, jangan ada tindakan korupsi. Lalu kemudian beliau juga memecat orang yang melakukan pungutan," katanya.
UAS mengaku alasan utama dirinya mendukung Abdul Wahid sejak awal karena meyakini yang bersangkutan memiliki kejujuran dan amanah. "Saya mencari orang yang tepat, yang jujur, yang amanah, yang bisa duduk. Itulah makanya saya memilih sahabat saya, Abdul Wahid," ujarnya.
Ia juga mengaku rutin menerima laporan masyarakat melalui berbagai kegiatan pengajian yang diasuhnya. Namun selama Abdul Wahid menjabat gubernur, menurutnya tidak ada laporan masyarakat yang secara langsung mengadukan dugaan keburukan atau pelanggaran yang dilakukan Abdul Wahid.
"Selama beliau duduk menjadi gubernur, tidak ada satu pun yang mengadukan keburukan, kejelekan, kejahatan beliau," kata UAS.
Kesaksian menarik lainnya muncul ketika Abdul Wahid diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan langsung kepada UAS. Dalam kesempatan itu terungkap bahwa Abdul Wahid pernah berkonsultasi dengan UAS terkait keinginannya mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Riau di tengah konflik yang terjadi. UAS membenarkan hal tersebut.
"Pak Abdul Wahid meminta kepada saya, beliau mau mundur. Saya bilang, kalau Bapak mundur itu sama dengan memoleskan, mohon maaf, kotoran ke wajah saya. Saya sudah ke mana-mana kampanye. Orang memilih Abdul Wahid ini karena saya yang mengampanyekan. Jadi kalau mundur berarti mempermalukan saya," katanya.
Ia mengaku saat itu meminta Abdul Wahid tetap bertahan dan melanjutkan kepemimpinan di Riau. "Pokoknya pertahankan, jangan mundur. Riau ini," tegasnya.
Menutup kesaksiannya, UAS menyampaikan, kehadirannya dalam persidangan semata-mata untuk menyampaikan apa yang diketahuinya dan melepaskan beban moral di hadapan Allah SWT.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penggelapan dalam Jabatan Rida K Liamsi Tahap II di Kejari Pekanbaru
Ia menegaskan tidak ingin menyampaikan hal-hal tersebut melalui media sosial, melainkan melalui forum yang menurutnya tepat, yakni persidangan.
"Kehadiran saya di sini hanya saya ingin melepaskan beban pikiran saya. Saya tidak mau berceloteh di sosial media. Saya mau menyampaikan di tempat yang tepat. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini menyelamatkan saya dan kita semua," ujarnya.
Usai kesaksian UAS selesai, Ketua Majelis Hakim Delta Tamtama menutup agenda pemeriksaan saksi dan memperkenankan terdakwa meninggalkan ruang sidang.
Editor : M. Erizal