TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026 perlu menjadi perhatian serius bagi petani kelapa, terutama di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) sebagai salah satu sentra kelapa nasional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan memprediksi kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal.
Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Rachmiwati Yusuf, SPi MSi, mengingatkan bahwa dampak kekeringan terhadap tanaman kelapa tidak selalu terlihat secara langsung. Pohon yang masih tampak hijau belum tentu berada dalam kondisi aman.
"Jangan sampai petani terkecoh. Apa yang dialami pohon kelapa saat ini justru dapat menentukan hasil panen satu hingga dua tahun mendatang," ujarnya.
Menurut Rachmiwati, proses pembentukan buah kelapa berlangsung sangat panjang, mulai dari pembentukan bakal bunga hingga buah siap dipanen.
Ketika tanaman mengalami kekurangan air pada puncak kemarau, pohon akan memprioritaskan energi untuk bertahan hidup sehingga pembentukan bunga dapat terganggu bahkan gagal berkembang.
Akibatnya, penurunan produksi baru akan dirasakan pada musim panen berikutnya. Bahkan setelah hujan kembali turun, pohon kelapa tidak otomatis pulih. Dibutuhkan waktu sekitar 12 hingga 24 bulan agar produktivitas tanaman kembali normal.
Baca Juga: Satukan Persepsi Pengelolaan Limbah di Perkebunan Sawit
Karena itu, ia mengimbau petani mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini. Di antaranya menjaga kelembapan tanah, memperbaiki tata air kebun, serta mengenali gejala awal stres air seperti pelepah bawah mulai terkulai, daun tombak lambat membuka, hingga gugurnya buah muda secara massal.
Selain itu, petani diminta lebih berhati-hati dalam melakukan pemupukan selama musim kemarau. Pemupukan kimia pada tanah yang sangat kering dinilai kurang efektif karena unsur hara sulit diserap akar bahkan berpotensi merusak sistem perakaran.
"Pemupukan sebaiknya dilakukan sebelum kemarau saat tanah masih lembap. Pada puncak kemarau, lebih baik memperbanyak bahan organik atau kompos yang mampu menjaga cadangan air di sekitar perakaran," jelasnya.
Rachmiwati juga menyarankan penggunaan mulsa dari sabut kelapa untuk mengurangi penguapan, membuat parit buntu sebagai penampung air, serta membersihkan gulma secara selektif.
Gulma tinggi sebaiknya dibabat karena menjadi pesaing tanaman dalam memperoleh air, sedangkan rumput pendek masih dapat dipertahankan untuk menjaga kelembapan permukaan tanah.
Ia menambahkan, pengelolaan air harus dilakukan secara bersama-sama antarpetani. Parit, kanal, maupun embung di sekitar kebun perlu dijaga agar tinggi muka air tanah tetap stabil.
Baca Juga: Akhirnya Ruas Jalan Pasar Modern Diaspal Sepanjang 225 Meter
"Ekosistem air tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Jika satu petani menjaga air tetapi petani lain membuangnya sembarangan, cadangan air bawah tanah tetap akan berkurang," katanya.
Menurutnya, apabila kemarau tidak diantisipasi sejak sekarang, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga industri berbasis kelapa yang bergantung pada pasokan bahan baku. Penurunan produksi berpotensi melemahkan perputaran ekonomi di daerah sentra kelapa seperti Indragiri Hilir.
"Jangan tertipu oleh hijaunya daun kelapa hari ini. Rawat air dan kelembapan tanah sekarang, karena air yang dihemat hari ini akan menentukan ada atau tidaknya buah kelapa yang dipanen dua tahun mendatang," tutup Rachmiwati.(*2/ali)
Editor : Eka G Putra