SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Tim peneliti muda dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) serta Fakultas Teknik Universitas Riau (Unri) turun langsung ke sejumlah desa pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahad (12/7/2026) untuk mengkaji pola hubungan sosial-ekonomi antara nelayan dan pengepul ikan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Riset Peningkatan Kapasitas Dosen Muda (RIPEKDOM) Tahun 2026 yang diselenggarakan Universitas Riau. Penelitian bertajuk "Hierarki Sosial, Relasi Patron–Klien, dan Ketergantungan Nelayan–Pengepul dalam Penanganan Hasil Tangkapan Ikan" ini diketuai oleh Asnika Putri Simanjuntak, M.Si., dosen Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan FPK Unri, bersama dua anggota tim, yaitu Alltop Amri Ya Habib, S.T., M.T. dari Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Unri dan Mutiara Fitri, S.P., M.Si. dari Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan FPK Unri.
Ketua Peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas RiauAsnika Putri Simanjuntak, M.Si menjelaskan kegiatan penelitian dipusatkan di Kota Selatpanjang serta dua kampung nelayan di wilayah pesisir, yakni Desa Insit dan Desa Tanah Merah.
Baca Juga: Gary Neville Bilang Begini Terkait Komentar Thomas Tuchel tentang 'DNA' Inggris
Kedua desa tersebut merupakan kawasan yang selama ini menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat melalui sektor perikanan tangkap.
"Kami ingin memahami secara langsung bagaimana pola hubungan antara nelayan dan pengepul terbentuk, serta sejauh mana tingkat ketergantungan nelayan terhadap pengepul dalam memasarkan hasil tangkapannya. Ini bukan sekadar hubungan ekonomi, melainkan relasi sosial yang telah berlangsung lama dan memengaruhi posisi tawar nelayan," ujarnya
Asnika Putri Simanjuntak menambahkan selama kegiatan lapangan, tim melakukan wawancara dan diskusi dengan sejumlah nelayan, salah satunya Rulis atau yang akrab disapa Tuah. Berbagai informasi digali, mulai dari pola penangkapan ikan, mekanisme pemasaran hasil tangkapan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi nelayan dalam menjalankan aktivitasnya.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, salah satu persoalan utama yang dihadapi nelayan adalah melimpahnya hasil tangkapan ikan lomek pada musim tertentu, sementara fasilitas pengolahan pascapanen di wilayah tersebut masih terbatas.
Baca Juga: Ingin Tetap Hebat hingga Usia Senja, Bintang NBA Ini Jadikan Lionel Messi sebagai Inspirasi
Kondisi ini menyebabkan sebagian hasil tangkapan tidak dapat terserap secara optimal dan berisiko mengalami penurunan kualitas bahkan membusuk sebelum dipasarkan, sehingga berdampak pada berkurangnya nilai ekonomi yang diterima nelayan.
Pelaksanaan penelitian ini turut mendapat pendampingan dari Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai tindak lanjut dari kerja sama yang telah terjalin antara Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau sejak tahun 2024.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahmad Yani, S.Pi., M.M menyambut baik kehadiran Tim Peneliti Universitas Riau di Kabupaten Kepulauan Meranti. Berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian semata, tetapi mampu melahirkan inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Baca Juga: Polres Kuansing Ungkap Kasus Dugaan Pemurnian Emas Tanpa Izin, Satu Tersangka Diamankan
"Hasil penelitian ini diharapkan mampu memetakan pola ketergantungan antara nelayan dan pengepul secara lebih komprehensif, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya Dinas Perikanan, dalam merumuskan kebijakan yang mendukung penguatan posisi tawar nelayan, termasuk melalui penyediaan sarana pengolahan hasil tangkapan yang lebih memadai,"tegasnya.(ayi/c)
Editor : Edwar Yaman