PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Penyakit jantung kerap datang tanpa aba-aba. Banyak warga baru menyadarinya ketika kondisi sudah berat dan pilihan penanganan kian sempit. Berangkat dari keprihatinan itulah, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Riau melatih 20 kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, agar mampu mendeteksi dini risiko penyakit jantung.
Pelatihan yang berlangsung sejak April hingga Juli 2026 ini merupakan bagian dari program Deteksi Dini Penyakit Jantung di Wilayah Kerja Puskesmas Tenayan Raya (DIPIJAT MAS TENAR) melalui skema Program Kemitraan Wilayah (PKW) 2026 yang dirancang berkelanjutan selama tiga tahun.
Angka-angka di balik program ini cukup menggugah. Profil kesehatan 2024 mencatat kasus penyakit jantung di wilayah kerja Puskesmas Tenayan Raya melonjak 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Studi pendahuluan tim juga menemukan fakta yang tak kalah mencemaskan: baru 40 persen kader yang mampu mengukur faktor risiko dengan benar, sementara 65 persen masyarakat bahkan belum pernah sekali pun memeriksakan kesehatan jantungnya.
Baca Juga: BPBD Kampar Tetap Siaga Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem Walau Tak Ada Hotspot
Ketua tim pengabdian Ardenny SKep MKep, yang juga Wakil Direktur (Wadir) I Bidang Akademik Poltekkes Kemenkes Riau, menegaskan bahwa kader adalah ujung tombak layanan kesehatan di tengah masyarakat.
“Penyakit jantung sering terlambat terdeteksi karena warga jarang memeriksakan diri. Melalui DIPIJAT MAS TENAR, kami memperkuat kapasitas kader agar mampu skrining awal, mengedukasi, dan merujuk kasus risiko tinggi ke Puskesmas,” ujarnya.
Selama pelatihan, para kader tidak sekadar duduk menyimak. Dengan pendekatan andragogi atau pembelajaran orang dewasa, mereka diajak langsung mempraktikkan pengukuran tekanan darah, antropometri indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut, mengenali faktor risiko, berlatih komunikasi edukatif dengan metode teach-back, mengidentifikasi warga berisiko tinggi, hingga mencatat hasil skrining secara tertib. Hasil evaluasi membuktikan bahwa pelatihan sangat efektif dan memberikan solusi terbaik bagi Puskesmas. Nilai rata-rata peserta meningkat 13 poin (67,5 menjadi 80,5), proporsi peserta bernilai >80 naik dua kali lipat dari sebelumnya.
Baca Juga: Abrasi Kembali Terjadi di Tanah Merah, Tujuh Rumah Rusak dan Lansia Nyaris Terseret Arus
Capaian itu baru langkah awal. DIPIJAT MAS TENAR dirancang berkelanjutan dalam tiga tahap. Tahun pertama berfokus pada pelatihan dan skrining awal. Tahun kedua memperkuat fondasi lewat penyegaran kader, intervensi faktor risiko, dan pengembangan sistem pencatatan digital terintegrasi. Tahun ketiga menuju kemandirian: kader diharapkan mampu menjalankan minimal 80 persen kegiatan deteksi dini secara mandiri. Keberlanjutan program dijaga melalui integrasi dengan Posbindu PTM, forum kader, serta prosedur operasional standar (SOP) yang jelas.
Dukungan lintas sektor turut dikuatkan melalui Pemko Pekanbaru, program CSR swasta, dan kolaborasi antarperguruan tinggi. Dalam jangka pendek, tindak lanjut berupa skrining langsung di tengah masyarakat, rujukan kasus risiko tinggi, dan edukasi rutin di tingkat kelurahan sudah disiapkan. Melalui kemitraan ini, Poltekkes Kemenkes Riau dan Puskesmas Tenayan Raya optimistis mampu menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung — sekaligus menjadikan Tenayan Raya model pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kesehatan jantung warganya.(nto/c).
Editor : Edwar Yaman