PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau selama periode 1 Januari hingga 30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare (ha), dengan rincian lahan gambut 14.277,3 ha dan mineral 1.250,7 ha. Data tersebut merupakan hasil analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH).
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut masih bersifat sementara dan disusun sebagai bahan evaluasi seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pengendalian karhutla di Riau.
“Hasil analisis citra satelit menunjukkan luas karhutla di Riau periode 1 Januari sampai 30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare. Data ini kami sajikan secara head to head dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya agar menjadi bahan evaluasi bersama,” ujarnya, Ahad (19/7).
Baca Juga: Lewat Riau Bhayangkara Run, BRK Syariah Kampanyekan Gaya Hidup Sehat dan Literasi Keuangan Syariah
Lebih lanjut dikatakannya, berdasarkan data tersebut, Kabupaten Bengkalis menjadi daerah karhutla terbesar, yakni mencapai 8.239,5 ha. Angka itu meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya 48,3 ha, serta jauh lebih tinggi dibandingkan 2024 seluas 214,7 ha. Lalu di 2023 seluas 723,2 ha, 2022 seluas 256,8 ha, 2021 mencapai 2.235,8 hektare, dan 2020 seluas 4.580,4 ha. “Meski demikian, luas karhutla tahun ini masih lebih rendah dibandingkan semester pertama 2019 yang mencapai 10.410,9 hektare,” paparnya.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas kebakaran mencapai 4.582 ha. Luasan tersebut melonjak dibandingkan tahun 2025 yang tercatat 647,8 ha, 2024 sebesar 1.120,5 ha, 2023 hanya 10,3 ha, 2022 seluas 491,5 ha, 2021 mencapai 1.867,7 ha, dan 2020 sebesar 1.984,5 ha. Namun, angka ini masih lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 6.012 ha.
Indragiri Hilir berada di urutan berikutnya dengan luas karhutla 956,6 ha. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 76 ha, 2024 seluas 97,6 ha, 2023 sebesar 220,5 ha, 2022 hanya 10,8 ha, 2021 mencapai 386,4 ha, 2020 sebesar 381,7 ha, serta 2019 seluas 738,9 ha.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Riau Latih 20 Kader Deteksi Dini Penyakit Jantung di Tenayan Raya
Di Kota Dumai, luas karhutla semester pertama tahun ini mencapai 607,1 ha. Luasan tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang hanya 7,6 ha, 2024 sebesar 408,6 ha, 2023 seluas 738,8 ha, 2022 sebesar 351,5 ha, 2021 mencapai 829,2 ha, 2020 sebesar 1.252 ha, dan 2019 seluas 469,2 ha.
Sementara itu, Rokan Hilir mencatat luas karhutla 289,6 ha, meningkat dibandingkan tahun 2025 yang hanya 45,8 ha dan 2024 sebesar 102,4 ha. Kabupaten Siak mencatat 281,1 ha, lebih tinggi dibandingkan 2025 sebesar 198,4 ha dan 2024 sebesar 198,4 ha.
Kepulauan Meranti tercatat mengalami kebakaran seluas 199,3 ha. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun 2025 yang hanya 3,5 ha, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.618 ha maupun 2019 sebesar 5.326,2 ha.
Baca Juga: Berjibaku Padamkan Karhutla 80 Ha di Pematang Pudu
Selanjutnya, Kuantan Singingi mencatat luas karhutla 103,1 ha, meningkat dibandingkan tahun 2025 sebesar 5,6 ha. Kampar mencapai 90,1 ha, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang hanya 3 ha. Indragiri Hulu tercatat 80,7 ha, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 132,3 ha? (sesuai data, 2024 sebesar 132,3 hektare, sementara 2025 nihil).
Rokan Hulu mencatat luas karhutla 40,5 ha, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 70,3 ha. Sementara Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan luasan terkecil, yakni hanya 8,4 ha. “Secara keseluruhan, luas karhutla di Riau pada semester pertama 2026 meningkat sangat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencapai 907,8 hektare,’’ ujarnya.
‘’Angka tahun ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sebesar 4.257,6 hektare, 2023 seluas 2.141,2 hektare, 2022 sebesar 2.726,1 hektare, 2021 seluas 6.509,7 hektare, dan 2020 mencapai 14.643,9 hektare. Namun, luas karhutla tahun ini masih berada di bawah semester pertama 2019 yang mencapai 28.214,6 hektare,” ujarnya.
Baca Juga: Unri Terus Kawal Penyelidikan Kematian Dokter PPDS di Siak
Ferdian menegaskan, data tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk tidak lengah, terutama karena sebagian wilayah Riau mulai memasuki puncak musim kemarau.
“Yang terpenting bukan sekadar membandingkan besar kecilnya luasan kebakaran setiap tahun, tetapi bagaimana seluruh elemen dapat memperkuat patroli, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta merespons secepat mungkin apabila ditemukan titik api. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif agar Karhutla tidak berkembang menjadi lebih luas,” tuturnya.
Siaga di Bengkalis
Memasuki hari ke lima, Tim Satgas Gabungan masih siaga di lokasi karhutla Jalan Tangkahan Tegar Ujung Canal Atiam, perbatasan Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau dengan Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Ahad (19/7). Personel gabungan sudah bergerak menuju lokasi untuk melaksanakan pendinginan terhadap lahan yang terbakar seluas 80 hektare.
Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, menyebutkan, bahwa penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengedepankan sinergitas lintas instansi agar penanganan kebakaran tidak semakin meluas dan dapat segera dikendalikan. “Memasuki hari ke lima, kami bersama seluruh unsur yang terlibat terus berupaya maksimal melakukan pemadaman dan pendinginan,’’ ujanya, kemarin.
‘’Fokus utama kami adalah memastikan api benar-benar padam, juga mencegah munculnya titik api baru, sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak kabut asap yang ditimbulkan oleh kebarakan tersebut,” tambahnya.
Kapolres mengatakan, berdasarkan hasil pendataan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai lebih kurang 80 hektare. Dari luasan lahan tersebut, didominasi semak belukar dan tanaman kelapa sawit yang sudah tidak terawat dengan karakteristik tanah yang kering, sehingga api relatif mudah menyebar.
Ia menegaskan, selain melakukan pemadaman, petugas juga melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP), pendataan saksi-saksi, dokumentasi, serta penyelidikan terkait penyebab kebakaran. Hingga saat ini, identitas pemilik lahan maupun penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian.
BPBD Kampar Tetap Siaga
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar melaporkan, hingga Ahad (19/7) sore tidak terdapat kejadian bencana hidrometeorologi di wilayah Kabupaten Kampar. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD KamparAzwan, melalui Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Adi Candra Lukita menjelaskan, berdasarkan laporan harian, kondisi cuaca secara umum diprakirakan cerah. Namun, BMKG masih mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Kabupaten Kampar.
“Hingga pukul 16.00 WIB, tidak ada kejadian bencana yang dilaporkan di Kabupaten Kampar. Hotspot juga nihil. Namun, masyarakat kami imbau tetap waspada karena masih terdapat potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah seperti Bangkinang, Tapung, Kampar Kiri, Siak Hulu, dan Lipat Kain,” ujar Adi Candra Lukita.
BPBD Kabupaten Kampar terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca, kondisi lingkungan, serta potensi bencana sebagai langkah antisipasi guna memberikan informasi secara cepat kepada masyarakat. Masyarakat juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan adanya indikasi kejadian bencana di wilayah masing-masing.(sol/ksm/kom)
Editor : Arif Oktafian