PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Harimau muncul di beberapa lokasi berbeda sepanjang Juli ini di Riau. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau pun meningkatkan tindakan mitigasi. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) terus disiagakan di wilayah konflik maupun di wilayah kemunculannya.
Kepala BBKSDA Riau Supartono menekankan, timnya saat ini terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan berbagai pihak di lokasi konflik. ‘’Ini untuk meningkatkan pemantauan serta memperkuat langkah mitigasi konflik satwa liar demi mencegah kejadian serupa terulang,’’ ungkapnya, Ahad (26/7).
Selain itu camera trap dan kandang jebak seperti di Siak dan Pelalawan terus dipantau. Sementara tim di lokasi diminta terus bersiaga dan menjalin komunikasi dengan stake holder setempat. Sebagai langkah pencegahan, masyarakat di wilayah konflik diimbau mengaktifkan patroli siskamling pada malam hari.
Baca Juga: Riau Pos Gowes Merdeka 2026 Digelar 30 Agustus
Selain itu masyarakat setempat diminta segera melaporkan kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila melihat harimau maupun satwa liar lainnya berada di sekitar permukiman atau area aktivitas warga.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, menghindari aktivitas seorang diri di kawasan yang diduga menjadi lintasan satwa liar, terutama pada sore hingga malam hari,’’ pesan Supartono.
Terkait fenomena rentetan kemunculan harimau dari Siak, Pelalawan hingga Indragiri Hilir (Desa Danai, Kecamatan Pulau Burung), BBKSDA Riau masih melakukan analisa. Ini sejalan dengan proses indentifikasi yang saat terus berjalan. Hanya saja, lokasi kemunculan harimau seperti di Sungai Apit, Siak dan juga Kecamatan Pelalawan, bukanlah yang pertama.
Baca Juga: Tertinggi di Sumatera,Investasi di Riau Capai Rp20,23 T
Wilayah ini merupakan wilayah konflik harimau-manusia paling berdarah. Karena kawasan ini berada di antara wilayah habitat asli harimau sumatera, yaitu kawasan Taman Nasional Zamrud, lanskap Semenanjung Kampar hingga Kerumutan.
Warga Pulau Burung Diminta Waspada
Warga Desa Danai, Kecamatan Pulau Burung diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul kemunculan seekor harimau yang dilaporkan memangsa hewan ternak milik warga, Kamis (23/7). Hingga kini, aparat kepolisian masih berkoordinasi dengan BBKSDA Riau untuk penanganan lebih lanjut.
Kapolsek Pulau Burung Iptu Danu Hidayat mengatakan, pihaknya telah menerima laporan terkait kemunculan satwa dilindungi tersebut. Masyarakat diimbau tetap berhati-hati saat beraktivitas, terutama di kawasan yang berbatasan dengan hutan dan perkebunan.
Baca Juga: Awal Pekan, Provinsi Riau Berpotensi Diterpa Hujan
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Jangan beraktivitas sendirian di lokasi yang sepi, dan apabila melihat keberadaan harimau segera laporkan kepada aparat,” ujar Iptu Danu saat dikonfirmasi, Ahad (26/7).
Menurutnya, hingga saat ini situasi di Desa Danai masih dalam kondisi kondusif. Aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, namun warga diminta tidak lengah dan selalu memperhatikan faktor keselamatan.
Polsek Pulau Burung juga terus memantau perkembangan di lapangan sambil berkoordinasi dengan BBKSDA Riau terkait langkah penanganan terhadap satwa liar tersebut.
“Saat ini kami masih berkoordinasi dengan BBKSDA Riau untuk menentukan langkah yang akan dilakukan. Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak bertindak sendiri apabila kembali melihat harimau,” katanya.
Kepolisian berharap masyarakat segera menyampaikan informasi apabila menemukan jejak maupun melihat langsung keberadaan harimau. Laporan dari warga dinilai penting agar langkah penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik dengan satwa liar tersebut. Seluruh upaya penanganan diharapkan dilakukan melalui koordinasi dengan instansi yang berwenang demi menjaga keselamatan warga maupun kelestarian harimau sumatra.
Berdasarkan catatan BBSKDA Riau, puluhan konflik manusia dan harimau setiap tahunnya. Kantong Harimau Semenanjung Kampar dan Kerumutan menjadi penyumbang terbesar konflik. Pemicu utama adalah habitatnya yang terus menyempit.
BBKSDA Riau sepanjang 6 tahun terakhir, dari 2020 hingga 2025 saja, lebih dari 100 laporan konflik yang dilaporkan masyarakat. Baik kemunculan, temuan jejak hingga konflik berdarah. Dari periode yang sama, sebanyak 17 kali terjadi konflik berdarah. Rinciannya, pada 2020 1, 2021 ada 2, 2022 ada 4, 2023 ada 3, 2024 ada 4 dan 2025 ada 3. Catatan tersebut belum termasuk data konflik yang terjadi sepanjang 2026 ini.(end/*2)
Editor : Arif Oktafian