PEKANBARU (RIAU POS.CO) -- Dalam satu pertemuan Datuk Syaiful Anuar bertanya, kampung Anda terjadi kapan dan Kampung Anda asalnya dari mana? Pertanyaan itu mengemuka saat Seminar Kebudayaan 2026.
Di Rumah Teater Ibrahim Sattah, Taman Budaya Riau, Jalan Sudirman Pekanbaru, Selasa (4/8/2026), suasana sejenak hening dengan diikuti oleh para peserta siswa, guru dan yang menjadi pemateri dari budayawan, akademisi dan pemerhati budaya.
Bagi Datuk Syaiful, pertanyaan itu bukan sekadar pembuka diskusi. Di sanalah letak kegelisahannya generasi muda Riau, jangan sampai semakin jauh dari pengetahuan tentang asal-usul kampung halaman mereka sendiri.
Baca Juga: Polda Riau Bongkar Dugaan Korupsi KUR di Siak, Negara Rugi Rp18,9 Miliar
Seminar yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Riau itu menjadi ruang untuk menengok kembali jejak-jejak Melayu yang tersembunyi di balik nama-nama tempat, cerita rakyat, dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.
Datuk Syaiful Anuar, Wakil Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Riau sekaligus pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), mengangkat tema mengenai cerita rakyat dan tradisi lisan yang berkaitan dengan penamaan tempat.
"Banyak anak muda hari ini tidak mengetahui asal-usul nama kampungnya. Padahal di balik nama itu tersimpan peristiwa masa lampau, nilai-nilai, tunjuk ajar, dan karakter masyarakat Melayu," ujarnya.
Menurutnya, nama-nama kampung lama biasanya lahir dari sebuah kejadian penting, kondisi alam, tokoh tertentu, atau pengalaman kolektif masyarakat pada masa silam.
Sebaliknya, kampung-kampung yang lebih baru cenderung menggunakan nama-nama yang mencerminkan harapan dan pembangunan, seperti Sumber Makmur, Maju Bersama, atau nama-nama yang tidak lagi memiliki hubungan dengan peristiwa sejarah.
"Melalui cerita rakyat dan kelisanan itu kita bisa mengidentifikasi mana kampung lama dan mana kampung baru. Tradisi lisan adalah wadah yang menyimpan kekayaan masa lampau," katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Datuk Syaiful melihat tradisi lisan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Cerita-cerita yang dahulu hidup kini mulai jarang terdengar. Padahal, di sanalah nilai-nilai budaya diwariskan secara alami dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ia menekankan perlunya upaya strategis untuk memelihara tradisi lisan agar tidak terputus. Upaya tersebut, menurutnya, tidak bisa dilakukan sendiri oleh budayawan, melainkan harus dibangun melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, lembaga adat, sekolah, dan masyarakat.
"Kalau tradisi lisan hilang, kita bukan hanya kehilangan cerita, tetapi juga kehilangan ingatan kolektif sebagai orang Melayu," ujarnya.
Baca Juga: Naik, Harga Kelapa Sawit Mitra Plasma di Riau Tembus Rp4.001 per Kg
Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Anton Widyanto Putra, mengatakan seminar tersebut memang dirancang untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda, melihat masa lalu sebagai pijakan dalam menatap masa depan.
"Kegiatan ini bertujuan melihat masa lalu Melayu, bagaimana kondisinya sekarang, dan ke depan akan seperti apa. Karena itu perlu dibicarakan bersama melalui seminar yang banyak berisi tentang kearifan lokal dan kebudayaan untuk generasi muda," katanya.
Ia menjelaskan bahwa peserta seminar berasal dari berbagai sekolah di Riau, terdiri atas siswa dan guru, dengan menghadirkan narasumber dari kalangan budayawan dan akademisi. Menurut Anton, pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan budaya Melayu.
Baca Juga: 6 Makanan Ini Baik untuk Kesehatan Ginjal, Mulai dari Buah, Sayur hingga Ikan
"Melayu adalah budaya yang mengayomi seluruh komponen masyarakat yang ada di Riau. Ini harus menjadi kekuatan kita dalam membangun masa depan Provinsi Riau," ujarnya.
Anton mengakui bahwa tantangan budaya saat ini semakin besar. Gelombang budaya luar yang datang melalui media digital, hiburan, dan gaya hidup modern terus memengaruhi cara pandang generasi muda. Karena itu, penguatan identitas budaya Melayu menjadi semakin penting.
"Kita menyadari tantangan terhadap kebudayaan semakin besar. Karena itu, kearifan lokal Melayu harus tetap terjaga agar generasi muda memiliki akar dan identitas," katanya.
Baca Juga: Kejari Kuansing Bakal Lelang 23 Pentolan Emas PETI Hasil Rampasan Negara yang Inkrah
Di luar gedung seminar, lalu lintas Jalan Sudirman tetap bergerak seperti biasa. Kota terus berubah, bangunan-bangunan baru terus berdiri, dan nama-nama kawasan baru terus bermunculan.
Namun di dalam Rumah Teater Ibrahim Sattah, para peserta sedang diajak menelusuri lapisan-lapisan sejarah yang sering kali luput dari perhatian.
Mereka belajar bahwa sebuah nama kampung bukan sekadar penanda lokasi di peta, melainkan jejak perjalanan manusia, alam, dan peradaban Melayu yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Baca Juga: Telkomsel Bukukan Pendapatan Semester I Sebesar Rp55,6 Triliun
Barangkali, ketika para siswa itu pulang ke rumah nanti, mereka akan mulai bertanya kepada orang tua atau datuk-nenek mereka mengapa kampung kami dinamai demikian? Siapa yang pertama tinggal di sini? Peristiwa apa yang pernah terjadi?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu kembali hidup, maka seminar tersebut telah menjalankan fungsinya. Sebab kebudayaan tidak selalu dimulai dari panggung pertunjukan atau buku-buku tebal, melainkan dari rasa ingin tahu terhadap kampung halaman sendiri.
Dan selama cerita tentang asal-usul itu masih terus diceritakan, jejak Melayu akan tetap hidup di tanah Riau.
Editor : Arif Oktafian