Buka GCMC IMT-GT ke-9, Plt Gubri SF Hariyanto Dorong Kolaborasi Tiga Negara Bangun Kawasan Rendah Karbon

M Ali Nurman • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:55 WIB
Plt Gubri SF Haryanto, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Wako Pekanbaru Agung Nugroho, Wawako Pekanbaru Markarius Anwar dan perwakilan delegasi Thailand serta Malaysia dalam pembukaan GCMC IMT-GT ke-9 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (5/8/2026). (M Ali Nurman/Riaupos.co)
Plt Gubri SF Haryanto, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Wako Pekanbaru Agung Nugroho, Wawako Pekanbaru Markarius Anwar dan perwakilan delegasi Thailand serta Malaysia dalam pembukaan GCMC IMT-GT ke-9 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (5/8/2026). (M Ali Nurman/Riaupos.co)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau H SF Hariyanto secara resmi membuka Green Cities Mayors' Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-9 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (5/8/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, SF Hariyanto mengajak Indonesia, Malaysia, dan Thailand memperkuat kolaborasi membangun kawasan rendah karbon melalui perlindungan hutan dan gambut, pengembangan energi baru terbarukan, pengelolaan sampah menjadi energi, hingga perdagangan karbon.

Forum internasional yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti para kepala daerah, delegasi pemerintah, akademisi, organisasi internasional, serta pelaku usaha dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. 

Baca Juga: Siapkan Teknis dan Mental Tim  

Pertemuan mengusung tema Green City for Sustainable Development sebagai wadah memperkuat kerja sama pembangunan kota berkelanjutan di kawasan IMT-GT.

Hadir dalam pembukaan tersebut Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM selaku Chairman GCMC IMT-GT 2024–2026, Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar, Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para wali kota dan kepala daerah anggota GCMC IMT-GT dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, perwakilan Institute for Global Environmental Strategies (IGES), UN-Habitat, Asosiasi Perdagangan Karbon Indonesia (APERKARIA), para rektor perguruan tinggi, akademisi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta tamu undangan lainnya.

Mengawali sambutannya, SF Hariyanto menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh delegasi yang hadir di Provinsi Riau. Ia berharap para tamu internasional dapat menikmati keramahan masyarakat, kekayaan budaya, serta kuliner khas Pekanbaru selama mengikuti forum tersebut.

Baca Juga: Resmi Digelar, Wako Agung Ajak Kota-kota IMT-GT Bersatu Jaga Lingkungan Demi Masa Depan Generasi

"Atas nama Pemerintah Provinsi Riau, saya menyampaikan selamat datang di Provinsi Riau kepada seluruh delegasi. Semoga selama berada di Kota Pekanbaru, Bapak dan Ibu merasa nyaman dan berbahagia menikmati kekayaan budaya dan kuliner. Kami berharap forum ini meninggalkan kesan yang baik dan semakin mempererat persahabatan di antara tiga negara," ujarnya.

Menurut SF Hariyanto, Indonesia, Malaysia, dan Thailand merupakan kawasan yang saling terhubung sehingga persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dampak pencemaran udara maupun kebakaran hutan dan lahan di satu negara dapat dirasakan negara lain.

Karena itu, pembangunan kota rendah karbon harus berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan hutan dan gambut serta upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga: Usik Kemapanan Nerazzurri

"Indonesia, Malaysia, Thailand berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Udara tidak mengenal batas negara. Persoalan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak kepada wilayah lainnya. Karena itu, pembangunan kota rendah karbon harus berjalan bersama perlindungan hutan dan gambut serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan," katanya.

SF Hariyanto menegaskan, Pemerintah Provinsi Riau bersama Pemerintah Kota Pekanbaru tidak memulai upaya tersebut dari nol. 

Berbagai program pengurangan emisi gas rumah kaca, pengembangan energi baru terbarukan, pengelolaan sampah, dan perlindungan lingkungan telah menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah.

Baca Juga: ALAMAAAK!!! Rambutan!

Ia menyebutkan, pada tahun 2026 Pemerintah Provinsi Riau menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 25,70 persen, sementara bauran energi primer dari energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 32,22 persen.

Selain itu, Riau juga tengah mempersiapkan proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Kota Pekanbaru dengan kapasitas 1.215 ton sampah per hari. Program tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kota Pekanbaru, serta lima pemerintah kabupaten lainnya.

"Kita juga sedang mempersiapkan pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Pekanbaru dengan kapasitas 1.215 ton per hari. Program ini melibatkan Pemerintah Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, dan lima kabupaten lainnya," jelasnya.

Baca Juga: Depot Air Isi Ulang Wajib Lakukan Pemeriksaan Laboratorium 

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui pemantauan titik panas, patroli terpadu, pemadaman darat maupun udara, operasi modifikasi cuaca, hingga pelibatan masyarakat dan dunia usaha.

Menurut SF Hariyanto, berbagai langkah tersebut semakin diperkuat melalui program Green Police yang digagas Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan.

Ia menilai program tersebut berhasil mengintegrasikan edukasi kepada masyarakat, penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan, serta upaya rehabilitasi melalui penghijauan.

Baca Juga: Rp2,708 Juta per Gram, Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Selasa 5 Agustus 2026, Bagaimana Harga Emas Galeri24 dan UBS?

"Kami juga sangat merasa terbantu atas program Green Police yang digagas Bapak Kapolda Riau. Program ini memadukan edukasi dan pencegahan, penegakan hukum terhadap kerusakan lingkungan, serta pemulihan melalui penghijauan. Pendekatan ini memperkuat kerja bersama untuk terus menekan kebakaran lahan dan menggiatkan penghijauan di seluruh Riau," ujarnya.

SF Hariyanto mengatakan arah pembangunan lingkungan yang ingin dicapai Pemerintah Provinsi Riau cukup sederhana, yakni mewujudkan kota yang semakin rendah karbon, menjaga kelestarian hutan dan gambut, mencegah kebakaran lahan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Riau saat ini tengah mempersiapkan perdagangan karbon melalui Program Green Riau dan skema REDD+ berbasis wilayah.

Baca Juga: Pemko Siap Beri Keringanan Sewa Toko STC

Pemerintah, katanya, sedang memperkuat tata kelola serta sistem pengukuran penurunan emisi agar potensi karbon yang dimiliki Riau dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang menjaga kawasan hutan dan gambut.

Menurutnya, potensi karbon Riau sangat besar. Provinsi ini memiliki sekitar 3,5 juta hektare lahan gambut dengan cadangan karbon yang sangat signifikan serta sekitar 2,65 juta hektare kawasan berhutan yang sedang dipersiapkan sebagai wilayah perhitungan karbon dengan cakupan 818 desa.

Perlindungan kawasan tersebut, lanjutnya, bukan hanya akan menekan emisi gas rumah kaca dan mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga meningkatkan kualitas udara kawasan, termasuk bagi negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Baca Juga: Hari Ini Riau Pos-HSBL Perawang Series 2026 Dibuka

"Semakin baik kita melindungi hutan dan gambut, semakin kecil risiko kebakaran. Semakin rendah emisi, dan semakin besar ekonomi lingkungan yang dapat kita hasilkan," katanya.

Mengakhiri sambutannya, SF Hariyanto berharap GCMC IMT-GT ke-9 menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand, baik dalam pertukaran data dan sistem peringatan dini, pembangunan rendah karbon, perdagangan karbon, pembiayaan hijau, pemanfaatan teknologi, maupun investasi yang saling menguntungkan.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Riau siap mendukung Kota Pekanbaru sebagai Green City di kawasan IMT-GT sekaligus menjadi penghubung kerja sama antarkota di tiga negara. 

Baca Juga: Seluruh Peserta Didik Baru Dapat Seragam Gratis 

"Pemerintah Provinsi Riau siap mendukung Pekanbaru sebagai Green City dan Green IMT-GT, sekaligus menjadi penghubung kerja sama antarkota. Kami berharap Pekanbaru tidak hanya dikenang sebagai tempat berlangsungnya pertemuan ke-9 ini, tetapi juga menjadi tempat lahirnya kerja sama rendah karbon yang nyata bagi Indonesia, Malaysia, dan Thailand," tutupnya.

Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM mengatakan, kepercayaan yang diberikan kepada Pekanbaru sebagai tuan rumah GCMC IMT-GT ke-9 merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi pemerintah daerah. 

Menurutnya, forum internasional tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama antarkota di Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Baca Juga: Pilkada Berikutnya, Dipilih Rakyat Langsung atau Campur Tangan Elite?

Agung menegaskan, Pemerintah Kota Pekanbaru berkomitmen menjadikan tema Green City for Sustainable Development tidak hanya sebatas pembahasan dalam forum, tetapi diwujudkan melalui berbagai program nyata yang telah dan sedang dijalankan di Kota Pekanbaru.

"Kita sebagai tuan rumah harus menjadi tuan rumah yang baik. Ini bukan hanya soal Pekanbaru, tetapi juga wajah Indonesia. Yang kita tunjukkan adalah keramahan, pelayanan terbaik, sekaligus semangat kolaborasi antarkota," ujarnya.

Menurut Agung, berbagai inovasi pembangunan hijau yang dimiliki Pekanbaru akan diperkenalkan kepada seluruh delegasi selama forum berlangsung. 

Baca Juga: Dari 426 Titik Hotspot di Pulau Sumatera, 44 Titik Terdeteksi di Riau

Salah satunya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang diarahkan menjadi energi listrik, penerapan konsep Green School di SMP Negeri 4 Pekanbaru, hingga pengelolaan Waste Station di kawasan RTH Putri Kaca Mayang.

Ia berharap para delegasi tidak hanya memperoleh pengalaman selama mengikuti forum, tetapi juga dapat membawa pulang berbagai praktik baik yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.

"Kita ingin menunjukkan bagaimana sampah bisa menjadi berkah. Sampah bisa dikelola menjadi listrik sehingga ke depan beban APBD untuk pengelolaan sampah dapat berkurang. Kita juga akan berbicara mengenai teknologi hijau, perdagangan karbon, insentif karbon, dan berbagai inovasi yang dapat diterapkan bersama. Jadi forum ini menjadi tempat bertukar informasi dan pengalaman antarkota," katanya.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Belasan Kecamatan Masuk Zona Rawan

Agung optimistis penyelenggaraan GCMC IMT-GT ke-9 tidak hanya memperkuat posisi Pekanbaru sebagai salah satu kota yang aktif mendorong pembangunan hijau di kawasan IMT-GT, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang investasi, perdagangan, pendidikan, teknologi hijau, lingkungan hidup, serta pengembangan sumber daya manusia.

"Forum ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Pekanbaru siap menjadi kota yang terbuka terhadap kolaborasi global, berdaya saing, serta konsisten menjalankan pembangunan hijau yang berkelanjutan," tutup Agung.

Editor : M. Erizal
GCMC IMT-GT 2026 plt gubri sf hariyanto forum internasional