PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode III dan IV Tahun 2026 selama dua hari di Gedung PKM. Sebanyak 1.222 wisudawan dikukuhkan.
Pada Rabu (5/8/2026), sebanyak 600 orang dikukuhkan untuk Program Doktor ke-74, Magister ke-106, serta Sarjana dan Diploma ke-126. Hari berikutnya, Kamis (6/8) dikukuhkan lagi 622 lulusan untuk Program Doktor ke-75, Magister ke-107, serta Sarjana dan Diploma ke-127.
Pada wisuda hari pertama, motivasi diberikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Dr phil H Kamaruddin Amin MA. Ia mencontohkan alumni Harvard yang sukses karena memiliki visi sejak awal kuliah.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Riau Semarakkan HUT RI dengan Pengibaran Bendera Raksasa
“Dunia kerja menuntut jauh lebih dari nilai di ijazah. Kesuksesan dipengaruhi komunikasi interpersonal dan jaringan. Kualitas kesarjanaan diukur dari kemaslahatan ilmunya bagi bangsa dan negara,” tegasnya.
Rektor UIN Suska Riau Prof Dr Hj Leny Nofianti MS SE MSi Ak CA menyampaikan capaian membanggakan. Kampus kini menempati peringkat ke-8 dari 10 besar Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) terbaik di Indonesia. Capaian ini ditopang 37 guru besar, 141 lektor kepala, 392 lektor, dan 432 tenaga kependidikan. Saat ini UIN Suska menaungi 25.060 mahasiswa di 8 fakultas dan 57 prodi, dengan 27 prodi telah terakreditasi Unggul.
Rektor merinci langkah strategis ke depan: penguatan prestasi mahasiswa, peningkatan mutu pendidikan adaptif dan unggul, penguatan tata kelola berbasis nilai keislaman, perluasan kemitraan nasional-internasional, serta peningkatan daya saing lulusan melalui riset dan pengabdian. Ia berpesan agar lulusan menjadi agen perubahan yang solutif serta menebarkan nilai keislaman dan kebangsaan. Di akhir sambutan, rektor juga mengingatkan wisudawan agar tidak melupakan jasa orang tua dan menjaga marwah kampus.
Baca Juga: RAPP Raih Apresiasi Industry Marketing Champion 2026 atas Inovasi dan Komitmen Keberlanjutan
Hari kedua, orasi ilmiah disampaikan oleh Muhammad Fauzan Ansyari SPdI MSc PhD dengan tema “Berhenti Belajar: Ancaman Tersembunyi Masa Depan”.
Ia menegaskan ancaman terbesar bukan krisis atau AI, melainkan ketika seseorang berhenti belajar. Di era learning economy, lulusan harus menguasai siklus Learn, Unlearn, Relearn. Mengutip UNESCO dan OECD, kerugian global akibat generasi tanpa keterampilan dasar mencapai Rp180.000 triliun. Ia menutup dengan pepatah Belanda: seseorang tak akan menyeberangi lautan kesuksesan tanpa berani meninggalkan zona nyaman.(nto/c)
Editor : Edwar Yaman