PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Selama beberapa hari terakhir suhu udara di Provinsi Riau, khususnya Pekanbaru terus mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, Jumat (7/8) panas cukup terik mencapai 36 derajat celcius (°C). Perubahan cuaca ini terjadi karena Riau sudah memasuki puncak musim kemarau.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan,
berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru, hingga pukul 17.00 WIB kemarin, suhu tertinggi tercatat 36,3 °C.
‘’Cuaca panas terik yang terjadi di Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah lainnya diakibatkan Provinsi Riau sudah memasuki musim kemarau bulan Agustus ini,’’ ujarnya kepada Riau Pos, Jumat (7/8).
Baca Juga: BMKG Pekanbaru Deteksi 45 Hot Spot di Riau, Sebaran Terbanyak di Inhil
Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, seperti topi, kaca mata, payung, dan tabir surya agar terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
“Jangan lupa konsumsi air putih agar selalu terhidrasi. Dan hindari aktivitas yang dapat menimbulkan api di tempat yang rawan terbakar untuk mencegah karhutla (kebakaran hutan dan lahan),” tegasnya.
Baca Juga: Hingga Agustus 2026, Karhutla di Inhil Capai 204,1 Hektare, Gaung Terbanyak Hotspot
Karhutla Muncul di Rokan Hilir
Panas teriknya berdampak terjadinya kebakaran di lahan semak belukar dekat belakang kawasan Pujasera Jalan Pelabuhan Baru Kelurahan Bagan Barat, Bangko, Rokan Hilir ((Rohil) sekitar pukul 17.10 WIB.
Kejadian ini diketahui Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Rohil usai menerima laporan dari warga setempat. “Begitu menerima laporan tim langsung berangkat ke lokasi,” kata Kepala Damkar Rohil Irawan melalui Kasi Damkar Zulrahman, Jumat (7/8).
Tak memerlukan waktu lama, hanya berselang sekitar 10 menit api berhasil dipadamkan dan tidak berdampak meluas baik ke areal sekitaran maupun ke bangunan yang berdekatan dengan lokasi lahan terbakar.
Diterangkan Zulrahman, pemadaman berhasil cepat dilakukan karena lahan yang terbakar tidak meluas dan tim yang diterjunkan mencapai 20 personel. “Api langsung dapat dipadamkan dan dilakukan proses pendinginan di lahan terbakar,” katanya.
Total di Riau Capai 14 Ribu Ha
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat hingga saat ini total luasan karhutla di Riau tercatat seluas 14.494 ha tersebar di 12 kabupaten/kota. Di mana, hotspot (titik panas) sebanyak 8.934 dan fire spot (titik api) 382.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, dengan daerah paling luas terjadi karhutla yakni di Kabupaten Bengkalis. “Karhutla di Kota Dumai hingga saat ini tercatat seluas 552,01 ha, Bengkalis 8.256 ha, Kepulauan Meranti 201 ha, Siak 291 ha, Pekanbaru 46 ha, Kampar 83 ha, Pelalawan 4.628 ha, Inhu 96 ha, Inhil 850 ha, Rohil 402 ha, Rohul 29 ha, dan Kuansing 56 ha,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan potensi meluasnya kebakaran di sejumlah wilayah rawan. Selain penanganan langsung di lapangan, OMC (operasi modifikasi cuaca) juga menjadi langkah strategis dalam menjaga kelembapan lahan gambut dan mengurangi risiko munculnya titik api baru.
OMC periode 30 Juli hingga 5 Agustus 2026 menggunakan satu unit pesawat Cessna Caravan 208 registrasi PK-SNM. “Selama periode tersebut, tercatat sebanyak 11 sorti penerbangan dengan total waktu terbang mencapai 24 jam 34 menit. Dalam pelaksanaannya, tim menaburkan sebanyak 11.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai untuk memicu pembentukan hujan di wilayah sasaran,” ujarnya.
Dijelaskannya, pada 5 Agustus 2026 dilaksanakan dua sorti penyemaian awan. Sorti pertama berlangsung pukul 13.03 hingga 15.19 WIB dengan menaburkan 1.000 kilogram (kg) NaCl yang menyasar wilayah Pelalawan dan Siak.
“Selanjutnya, sorti kedua dilakukan pada pukul 15.46 hingga 18.11 WIB dengan membawa 1.000 kilogram NaCl. Penyemaian difokuskan di wilayah Siak, Indragiri Hilir, Pelalawan, serta Kepulauan Meranti sebagai daerah yang memiliki potensi pembentukan awan hujan,” jelasnya.
Diungkapkannya, operasi tersebut berhasil memicu hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Curah hujan tercatat turun di Siak, Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, serta sebagian wilayah Rokan Hilir.
“Selain Operasi Modifikasi Cuaca, kesiapan armada udara juga terus dipertahankan guna mendukung penanganan karhutla. Saat ini Satgas Karhutla Provinsi Riau mengoperasikan satu unit pesawat Caravan untuk OMC dan patroli udara, satu unit helikopter patroli, serta lima unit helikopter water bombing yang siap diterjunkan ke lokasi kebakaran,” ungkapnya.
Diterangkannya, kekuatan utama penanganan karhutla di Riau terletak pada sinergi seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla. Kolaborasi antara pemerintah daerah, Forkopimda, Manggala Agni, perusahaan, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, hingga satgas kabupaten/kota berjalan dengan baik dan saling mendukung dalam setiap operasi pemadaman.
“Hingga kini, tim gabungan masih melakukan penanganan di sejumlah titik firespot yang tersisa. Di Desa Mak Teduh, Kabupaten Pelalawan, api telah padam namun masih dilakukan proses pendinginan karena masih terdapat asap tipis sisa kebakaran,” terangnya.
Sementara itu, di SM Kerumutan Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu kondisi masih terpantau mengeluarkan asap tipis. Penanganan juga masih berlangsung di wilayah Sei Guntung, Kabupaten Indragiri Hulu, yang masih ditemukan titik api dan asap.
Selain itu, Kelurahan Kerumutan Kabupaten Pelalawan, masih terdapat titik api meski intensitas asap mulai berkurang. Sedangkan di Teluk Kiambang Kecamatan Tempuling Indragiri Hilir, kondisi masih terpantau berasap.
“Seluruh titik api tersebut saat ini ditangani secara terpadu oleh tim darat gabungan yang terdiri atas personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan, serta Masyarakat Peduli Api, dengan dukungan helikopter water bombing. Kami optimistis kolaborasi yang terus terjalin akan mampu menjaga kondisi karhutla tetap terkendali sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” tuturnya.
Kampar dan Inhil Siagakan Personel Gabungan
Mengantisipasi potensi karhutla memasuki musim kemarau, Polres Kampar menggelar Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Karhutla Tahun 2026 di Lapangan Mapolres Kampar, Jumat (7/8) pagi. Apel dipimpin Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang.
Barisan apel diisi oleh puluhan personel lintas instansi, mulai dari unsur TNI-Polri, Satpol PP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Tagana, hingga perwakilan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).
Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang menekankan pentingnya langkah preventif dan sinergi lintas sektoral untuk menekan risiko bencana ekologis tersebut.
“Utamakan pencegahan melalui patroli rutin, deteksi dini, sosialisasi, dan pemantauan titik panas (hotspot). Perkuat koordinasi antarinstansi agar setiap kejadian bisa ditangani cepat, tepat, dan efektif,” tegasnya.
Kapolres juga mengimbau personel untuk memprioritaskan keselamatan dalam bertugas sesuai standar operasional prosedur (SOP). Selain upaya preventif, penegakan hukum tegas akan diberlakukan bagi pihak-pihak yang terbukti sengaja membakar lahan.
“Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan, tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan bersama-sama menjaga kelestarian alam,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kampar Azwan menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar dalam mendukung penuh upaya pencegahan karhutla yang berpotensi merusak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.
“Pencegahan adalah langkah paling efektif. Pemkab Kampar melalui BPBD terus melakukan langkah antisipatif, mulai dari sosialisasi, pemetaan daerah rawan, peningkatan sistem peringatan dini, hingga memastikan kesiapan personel dan peralatan,” ujar Azwan.
Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) tercatat hingga Agustus 2026 telah mencapai 204,1 hektare (ha) dengan 613 titik api. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius sehingga seluruh unsur diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
Komitmen itu ditunjukkan melalui Apel Gabungan Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Karhutla Tahun 2026 yang digelar Pemkab Inhil di Lapangan Upacara Kantor Bupati Inhil, Jumat (7/8). Apel dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Inhil Tantawi Jauhari.
Usai apel, pimpinan bersama Forkopimda melakukan pemeriksaan kesiapan personel, kendaraan, serta sarana dan prasarana penanggulangan Karhutla untuk memastikan seluruh kekuatan siap diterjunkan apabila terjadi kebakaran.
Sekda Tantawi Jauhari mengatakan, apel siaga merupakan tindak lanjut Keputusan Gubernur Riau Nomor KPTS.102/II/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Karhutla Provinsi Riau Tahun 2026 sekaligus bentuk kesiapsiagaan seluruh unsur menghadapi musim kemarau.
“Melalui apel siaga ini, seluruh instansi diharapkan semakin meningkatkan patroli, deteksi dini, koordinasi lintas sektor, sosialisasi kepada masyarakat, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah sejak dini,” ujarnya.
Data yang dipaparkan menunjukkan luas Karhutla di Inhil terus berfluktuasi. Pada 2023 tercatat 340,75 hektare dengan 692 titik api, turun menjadi 254,3 hektare dengan 534 titik api pada 2024, kemudian kembali menurun menjadi 166,6 hektare dengan 304 titik api pada 2025.
Namun hingga Agustus 2026, luas lahan yang terbakar kembali mencapai 204,1 hektare dengan 613 titik api. Kecamatan Gaung menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Sementara itu, Kapolres Inhil AKBP Donny Eko Listianto dibagikan maklumat larangan membuka lahan dengan cara membakar sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga kelestarian lingkungan. Kapolres menegaskan penanganan karhutla merupakan tanggung jawab bersama.
“Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, instansi terkait, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini,’’ ujarnya.
‘’Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dampaknya sangat luas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat,” tambahnya.(ayi/sol/fad/kom/*2)
Editor : Bayu Saputra