Dari Riau untuk Indonesia, Luncurkan Buku "Negeri Bujang Tan Domang"
RIAUPOS.CO - Kisah Bujang Tan Domang tidak berhenti sebagai cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui buku Negeri Bujang Tan Domang, Prof. Amri Marzali, Ph.D., membawa kisah tersebut ke ruang akademik sekaligus menghadirkan gambaran lebih luas mengenai masyarakat Petalangan dan kebudayaan yang membentuk identitas mereka.
Buku tersebut diluncurkan dan didiskusikan di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), 4 Agustus 2026. Forum itu mempertemukan akademisi, pemerhati kebudayaan, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap sejarah, antropologi, dan perkembangan masyarakat lokal di Riau.
Acara diawali pengantar Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, kemudian dilanjutkan pemaparan gagasan utama buku oleh Prof. Amri Marzali, Ph.D. Diskusi menghadirkan Dr. Pudentia MPSS dan Dr. phil. Imam Ardhinto sebagai pembahas.
Dalam pemaparannya, Prof. Amri menjelaskan Negeri Bujang Tan Domang merupakan bagian dari perjalanan intelektualnya dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan, khususnya Petalangan di Riau. Buku tersebut tidak hanya mengulas Bujang Tan Domang sebagai cerita, tetapi juga menempatkannya dalam konteks komunitas yang menjadi pemilik dan pewaris tradisi tersebut.
Kajian itu memiliki kaitan dengan karya almarhum Tenas Effendy mengenai Bujang Tan Domang. Dalam kajian folklor, almarhum Prof. James Danandjaja dari Universitas Indonesia pernah mencatat bahwa karya Tenas Effendy lebih banyak memberikan perhatian pada aspek lore, yakni cerita dan pengetahuan yang diwariskan, dibandingkan aspek folk, yaitu masyarakat dan kebudayaan yang menjadi pemilik cerita.
Melalui buku terbarunya, Prof. Amri memperluas sudut pandang tersebut dengan menguraikan latar belakang sosial, kebudayaan, struktur masyarakat, serta posisi Orang Petalangan dalam keberagaman masyarakat Riau.
Orang Petalangan di Kabupaten Pelalawan ditempatkan sebagai bagian dari masyarakat Melayu nonpesisir di Riau. Bersama Orang Kampar, Kuantan, Talang Mamak, Gunung Sahilan, dan kelompok lainnya, mereka memiliki karakteristik yang tercermin dalam sistem kekerabatan, adat, dan bahasa.
Kabupaten Pelalawan memiliki relevansi khusus bagi EMP Bentu Limited karena menjadi wilayah operasi perusahaan sekaligus lokasi masyarakat yang menjadi objek kajian dalam Negeri Bujang Tan Domang. Dokumentasi mengenai kehidupan Petalangan karena itu memberikan gambaran mengenai sejarah dan kebudayaan lokal yang berkembang di wilayah tempat perusahaan berinteraksi dengan masyarakat.
Buku tersebut juga melihat perubahan sosial sebagai bagian dari perjalanan masyarakat Petalangan. Perubahan itu berlangsung melalui interaksi antara nilai adat, struktur otoritas tradisional, sistem kepercayaan, serta hubungan komunitas dengan berbagai pihak di luar lingkungan mereka.
Bagi perusahaan yang beroperasi di tengah masyarakat, pengetahuan mengenai konteks tersebut dapat membantu membangun komunikasi yang lebih tepat dan hubungan yang saling menghargai. Hal ini menjadi semakin relevan ketika interaksi perusahaan berlangsung dalam lingkungan sosial yang memiliki sejarah dan tata nilai yang telah berkembang lintas generasi.
Atas pertimbangan tersebut, EMP Bentu Limited turut mendukung proses penerbitan hingga peluncuran Negeri Bujang Tan Domang. Dukungan itu menjadi bagian dari perhatian perusahaan terhadap dokumentasi dan pengembangan pengetahuan mengenai kebudayaan lokal Riau, khususnya masyarakat Petalangan di Kabupaten Pelalawan.
EMP CSR & Communication Division Manager, Iman Soerjasantosa mengatakan buku tersebut penting karena memperluas pengetahuan mengenai masyarakat Petalangan sekaligus mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan lokal untuk dipelajari masyarakat yang lebih luas.
“Buku ini merupakan karya yang sangat berarti karena tidak hanya merekam perjalanan dan kebudayaan masyarakat Petalangan, tetapi juga membantu kita memahami nilai, sejarah, serta cara pandang masyarakat lokal. Kami sangat bangga dapat turut mendukung hadirnya karya ini hingga dapat dinikmati dan dipelajari oleh masyarakat luas,” ujar Iman.
Menurut Iman, dokumentasi semacam ini dapat menjadi referensi untuk melihat masyarakat tidak hanya dari kondisi masa kini, tetapi juga dari perjalanan sejarah dan nilai yang membentuk identitasnya.
“Bagi kami, memahami masyarakat tidak hanya tentang mengetahui kondisi sosialnya, tetapi juga memahami sejarah, adat, dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas mereka. Pengetahuan seperti yang dituangkan dalam buku ini menjadi penting untuk membangun hubungan yang saling menghargai dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” tambahnya.(ose)
Editor : Rindra Yasin