PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kasus dugaan eksploitasi anak di Kabupaten Pelalawan pada Juni 2026 menjadi pengingat serius bagi perlindungan anak di Riau. Polisi mengungkap tiga anak berusia 9–11 tahun diduga dipaksa orang tuanya mengemis, mengamen, dan menjadi manusia silver dengan target pendapatan harian. Kasus ini berujung pada penetapan tersangka dengan sangkaan tindak pidana eksploitasi ekonomi terhadap anak.
Kasus tersebut diduga hanya fenomena puncak gunung es. Masih banyak anak yang terlihat mengemis di persimpangan jalan, menjadi manusia silver, pengamen, hingga berjualan di jalan pada malam hari. Perlu ditelusuri apakah mereka bekerja atas kemauan sendiri, membantu keluarga, atau menjadi korban eksploitasi.
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Sekolah Kak Seto Pekanbaru yang juga merupakan Dosen Prodi Psikologi Islam IAI Diniyyah, Lailatul Izzah MPsi Psikolog mengatakan, dari sisi psikolog, ia menilai perlu memandang kasus ini dengan secara hati-hati dengan menempatkan kepentingan terbaik bagi anak atau the best interest of the child sebagai fokus utama, tanpa terbutu-buru menyalahkan pihak sebelum proses hukum selesai.
Baca Juga: Eksploitasi Anak Perlu Penanganan Komprehensif
"Kalau dari perspektif psikologi, fokus utama kita adalah perlindungan dan kesejahteraan anak. Penting membedakan anatara anak yang sesekali membantu orangtua dengan anak yang mengalami eksploitasi ekonomi. Yang perlu dilihat adalah apakah aktivitas tersebut mengganggu hak anak untuk belajar, bermain, berkembang dan apakah terdapat unsur paksaan, target, atau kondisi yang membahayakan," ujarnya.
Menurutnya, penanganan perlu dilakukan secara komprehensif, melalui penegakan hukum bila ada pelanggaran, sekaligus pendampingan psikologis, penguatan keluarga, dan dukungan sosial agar akar masalahnya dapat diselesaikan tanpa mengorbankan masa depan anak.
"Pencegahan eksploitasi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. Ini adalah tanggung jawab bersama keluarga, masyarakat, sekolah, pemerintah, dan lingungan sekitar. namun orangtua memang memiliki peran yang paling utama," lanjutnya
Ia menjelaskan ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa sebagai upaya pencegahan.
Pertama, orang tua perlu memahami bahwa anak bukan pencari nafkah keluarga. Melibatkan anak dalam aktivitas keluarga untuk belajar tanggung jawab tentu berbeda dengan memberikan beban ekonomi yang mengganggu hak anak untuk sekolah, bermain, beristirahat, dan berkembang.
Baca Juga: 2.665 Kasus Kekerasan Anak Terjadi sejak 2023-2025
Kedua, bangun komunikasi yang hangat dengan anak. ketika anak merasa didengar dan dihargai, mereka lebih berani menyampaikan jika merasa tertekan, dipaksa atau mengalami situasi yag membuat anak tidak nyaman.
Ketiga, orang dewasa di sekitar anak, baik keluarga besar, tetangga, guru, maupun tokok masyarakat, perlu lebih peka terhadap tanda-tanda anak yang berisiko. "Misalnya anak yang sering berada di jalan sampai larut malam, tidak lagi bersekolah, terlihat kelelahan, atau mengaku memiliki target tertentu dalam mencari uang. Kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa," ungkapnya lagi.
Keempat, jika ada dugaan anak mengalami eksploitasi, sebaiknya tidak menyebarkan video atau menghakimi keluarganya di media sosial. Yang lebih tepat adalah melaporkannya kepada pihak yang berwenang, seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Dinas Sosial, atau aparat penegak hukum agar anak mendapatkan perlindungan dan keluarga memperoleh penanganan yang sesuai.
Kelima, masyarakat juga perlu membangun budaya peduli terhadap anak. Perlindungan anak bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh lingkungan tempat anak bertumbuh.
"Anak seharusnya tidak memikul beban ekonomi keluarga. Peran orang tua adalah melindungi, mendampingi, dan memastikan hak anak untuk belajar serta berkembang tetap terpenuhi. Sementara itu, masyarakat perlu lebih peka. Jika melihat anak yang diduga mengalami eksploitasi, jangan hanya merasa iba atau menghakimi, tetapi laporkan kepada pihak yang berwenang agar anak mendapatkan perlindungan yang tepat.
Semakin cepat lingkungan merespons, semakin besar peluang kita mencegah dampak yang lebih berat bagi masa depan anak," tutupnya.(azr)
Editor : Bayu Saputra