Karhutla Masih Membara di Lima Kabupaten 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:21 WIB
Tim BPBD Kecamatan Sungai Apit melakukan pendinginan terhadap lahan yang terbakar di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Senin (10/8/2026). (MONANG LUBIS/RIAU POS)
Tim BPBD Kecamatan Sungai Apit melakukan pendinginan terhadap lahan yang terbakar di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Senin (10/8/2026). (MONANG LUBIS/RIAU POS)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera memperkuat personel untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Langkah ini dilakukan guna mengendalikan penyebaran titik api yang masih membara di lima kabupaten. Yakni Bengkalis, Rokan Hilir, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 53 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah Riau, Selasa (11/8). Forecaster on Duty BMKG, Gita Dewi S, menyebutkan bahwa angka titik panas di Riau membaik dibanding hari sebelumnya. 

“Jumlah hotspot Riau turun dari 106 titik pada Senin (10/8) menjadi 53 titik pada Selasa (11/8). Kondisi ini menunjukkan penurunan separuh jumlah titik panas dalam pemantauan terakhir,” ujarnya, kemarin.

Baca Juga: Penumpang Tujuan Jakarta Tertangkap Bawa 1 Kilogram Sabu di Bandara SSK II Pekanbaru

Sebaran 53 titik panas tersebut paling banyak berada di Kabupaten Bengkalis dengan 24 titik. Diikuti Indragiri Hulu 16 titik, Indragiri Hilir 7, Rokan Hilir dan Kampar masing-masing 2, serta Kota Dumai dan Rokan Hulu masing-masing 1 titik.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto menyebutkan, pihaknya hingga saat ini masih melakukan pemadaman lanjutan. Di wilayah Daops Dumai dan Siak, operasi pemadaman meliputi Kelurahan Pematang Pudu serta Desa Buluh Apo di Bengkalis, Kepulauan Palika di Rokan Hilir, dan Desa Bunsur di Siak. 

“Khusus penanganan di Kepulauan Palika, petugas di lapangan mendapat tambahan perkuatan satu regu personel bantuan dari Daops Labuhan Batu, Sumatera Utara,” katanya, Selasa (11/8).

Sementara itu, untuk penanganan di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, operasi pemadaman telah memasuki hari ke-12 dengan perkiraan luas area terbakar mencapai 64 hektare. Dari total luas lahan gambut yang terbakar di lokasi tersebut, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 11,05 hektare.\

Baca Juga: Telusuri Aliran PETI, Polda Riau Geledah Toko Emas di Pasir Putih

Ferdian menjelaskan, kondisi kebakaran di Kerumutan belum sepenuhnya terkendali karena api masih menyala pada bagian bawah, permukaan, hingga tajuk vegetasi. “Statusnya masih belum padam, masih ada api aktif di bawah, permukaan, dan tajuk, serta terdapat pulau-pulau api yang harus ditangani,” ujarnya.

Di lokasi Kerumutan, Tim Manggala Agni Daops Rengat bersama unsur TNI, Polri, serta RPK PT Gandaerah Hendana mulai memfokuskan strategi pada tahap penyisiran (mopping-up). Petugas dibagi menjadi dua kelompok untuk menyisir sisa bara api di lahan gambut mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB dengan memanfaatkan sumber air yang ada.

“Di sisi lain, kebakaran juga melanda Desa Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, yang telah memasuki hari ke-8 dengan perkiraan luas terbakar sementara mencapai 50 hektare. Pada lokasi ini, api membentang sepanjang 2,25 kilometer dari barat ke timur serta 3 kilometer dari utara ke selatan,” paparnya.

Baca Juga: PN Pekanbaru Terima Memori Banding KPK

Untuk membendung penjalaran api di Indragiri Hulu, tim melakukan pemadaman langsung menggunakan mesin pemadam serta membangun sekat bakar sepanjang 700 meter dan tujuh embung air. Meski demikian, kendala utama yang dihadapi petugas adalah keberadaan kepala api di sisi timur yang belum bisa dijangkau akibat ketiadaan akses jalan.

Guna menembus hambatan geografis tersebut, tim gabungan mulai mengerahkan alat berat untuk membuka jalur masuk serta melanjutkan pembuatan sekat bakar sepanjang 1,3 kilometer. Penanganan di Indragiri Hulu melibatkan kolaborasi Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD-PKP Indragiri Hulu, BBKSDA Riau, serta RPK PT Teso Indah, PT MKS, dan PT TPP.

“Selain mengandalkan pemadaman darat, operasi di wilayah Pelalawan dan Indragiri Hulu juga diperkuat oleh dukungan dua unit helikopter water bombing,” ujarnya.

Ya, karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) belum sepenuhnya berhasil dipadamkan hingga, Selasa (11/8). Tim gabungan belum bisa menyentuh dan menjangkau areal yang terbakar akibat belum ada akses jalan di bagian Timur. 

Baca Juga: KPK Ajukan Banding Perkara Abdul Wahid, Memori Diserahkan ke PN Pekanbaru

“Operasi pemadaman belum tuntas, akan dilakukan pemadaman lanjutan,” ujar Kepala Daerah Operasional (KDOPS) Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Selasa (11/8).

Dijelaskannya, progres pengerjaan pada operasi pemadaman yang dilakukan tim gabungan hingga kemarin  atau hari ke sembilan dengan cara membuat sekat bakar. Bahkan, sudah terbangun sepanjang 1 km, 7 titik embung di bagian Utara. 

Sehingga api di posisi sebelah Utara, sebagian sudah terkendali. “Luas lahan yang terbakar masih dalam perhitungan. Sedangkan luas lahan yang berhasil dipadamkan: sudah mencapai 13,9 hektare,” ucapnya.

Pada pelaksanaan pemadaman, tim gabungan memakai pola serang langsung dari arah Utara dan Barat. Pola tersebut dilakukan untuk memotong penjalaran api. Bahkan, pada bagian Utara sudah terjangkau mencapai 1 km dan sekat bakar masih dilanjutkan.

Baca Juga: EMP Bentu Siapkan Pemuda Pelalawan Jadi Operator Produksi

Lebih jauh disampaikannya, posisi tim sudah disebar di sisi Utara, Barat dan Selatan untuk pemadaman lebih lanjut. “Operasi pemadaman belum tuntas, akan dilakukan pemadaman lanjutan,” terangnya.

Tiga Tersangka di Inhu

Setelah buruh angkut Tandan Buah Segar (TBS) dan oknum pensiun ditetapkan tersangka dugaan karhutla. Kini, giliran seorang pria asal Desa Serumpun Jaya, Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) ditetapkan dengan status sama.

Buruh angkut TBS berinisial AF alias Ebing warga Rengat akibat membuang puntung rokok sembarangan, mengakibatkan areal perkebunan kelapa sawit terbakar. Sedangkan oknum pensiunan berinisial JS alias Silalahi (68), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Lirik berencana membakar ranting namun akhirnya meluas.

Baca Juga: KPK Ajukan Banding Perkara Abdul Wahid, Memori Diserahkan ke PN Pekanbaru

Untuk tersangka kali ini berinisial SPD alias Andi (46), warga Kelurahan Candi Rejo, Air Molek Kecamatan Pasir Penyu, awalnya berencana membakar tumpukan daun kering. Namun berujung musibah hingga api membesar dan menghanguskan sekitar 1,65 hektare lahan kebun karet miliknya.

Kapolres Inhu AKBP Eka Ariandy Putra SH SIK MSi melalui Kasi Humas Aiptu Misran SH mengatakan, peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Sabtu (8/8) sekira pukul 11.30 WIB. “Areal yang terbakar itu tepatnya di areal Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK),” ujar Misran, Selasa (11/8).

Polres Meranti Persempit Ruang Karhutla

Jelang patroli pencegahan karhutla yang akan dilakukan Kapolda Riau di Kabupaten Kepulauan Meranti, Polres Meranti memperketat pengawasan di seluruh wilayah hukum. Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita SIK  meminta seluruh Kapolsek dan Bhabinkamtibmas tidak sekadar menunggu munculnya titik api. 

Baca Juga: Dosen IMSYA Bobby Ferly Jadi Penyuluh Ekonomi Pancasila IMPI BPIP RI, Soroti Pinjol dan Judol

Pencegahan harus dilakukan dari sekarang dan menyentuh langsung masyarakat hingga tingkat desa. Seluruh personel diminta meningkatkan patroli dan pemantauan selama sepekan ke depan, terutama di wilayah yang memiliki potensi terjadinya karhutla. 

Kapolres menekankan, penanganan karhutla tidak boleh hanya bergerak setelah api muncul. Deteksi dini, patroli dan pencegahan harus menjadi prioritas. Bhabinkamtibmas dan personel Polsek diminta turun langsung ke lapangan untuk menyampaikan larangan membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Sosialisasi tidak harus dilakukan dalam kegiatan formal. Personel diminta memanfaatkan kendaraan dinas yang dilengkapi pengeras suara atau membawa toa untuk menyampaikan imbauan di tengah aktivitas masyarakat. Bahkan, kegiatan keramaian seperti pertandingan mini soccer dan kegiatan masyarakat lainnya diminta menjadi ruang untuk menyampaikan pesan pencegahan karhutla.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memutus anggapan bahwa pembakaran merupakan cara mudah dan biasa digunakan masyarakat dalam membersihkan atau membuka lahan. Selain imbauan, jajaran Polres juga diminta kembali memperbanyak pemasangan spanduk dan banner di lokasi-lokasi strategis. Pesan yang disampaikan tidak hanya soal bahaya kebakaran, tetapi juga ancaman pidana bagi pelaku pembakaran lahan.

Kapolres juga mendorong pemerintah desa memberikan perhatian terhadap keberadaan MPA, termasuk mempertimbangkan pemberian insentif bagi anggota yang aktif melakukan patroli dan pencegahan. Menurut Gede, pencegahan karhutla tidak bisa dibebankan kepada kepolisian. Pengawasan harus menjadi tanggung jawab bersama karena sebagian besar wilayah rawan berada dekat dengan aktivitas masyarakat.

Ia juga meminta seluruh kegiatan pencegahan didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Dokumentasi tersebut akan ditampilkan pada Kamis sebagai gambaran langkah nyata jajaran kepolisian dalam melakukan pencegahan karhutla. Namun, publikasi tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan aktivitas personel, tapi sebagai informasi mengenai upaya pencegahan juga penting untuk membangun kesadaran masyarakat.

Inhil Perkuat Langkah Pencegahan

Ancaman karhutla menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) menyusul masuknya Riau dalam enam provinsi yang dinilai paling kritis terhadap karhutla. Bupati Inhil diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Tantawi Jauhari mengajak seluruh stakeholder di daerah meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan karhutla.

Terlebih, kondisi kemarau meningkatkan potensi munculnya titik api. “Sinergi semua pihak diperlukan mulai dari upaya pencegahan, deteksi dini, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran, sehingga dampak Karhutla dapat diminimalkan,” ungkapnya.

Kabut Asap Tipis Kiriman Selimuti Kota 

Sudah dua hari, Siak diselimuti kabut asap tipis. Situasi ini membuat warga bertanya tanya dari mana asal asap tersebut. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara yang akrab disapa Pepen mengatakan, saat ini karhutla ada di Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir, serta Indragiri Hulu.

Kemungkinan terdekat tentu kiriman dari Bengkalis dan Rokan Hilir, meski di Kabupaten Siak juga terbakar lahan, tepatnya di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit. “Untuk di Desa Bunsur ini, awalnya Sabtu (8/8), terbakar hanya 1,5 hektare, namun meluas menjadi lebih kurang 7 hektare sampai Senin (10/8) petang,” terangnya.

Dan pemadaman masih berlangsung sampai, Selasa (11/8) petang. Lahan terbakar milik masyarakat, sebagian merupakan kebun kelapa sawit, dan semak belukar. Dalam beberapa hari ini, timnya bersama Manggala Agni, TNI, Polri dan masyarakat berjibaku melakukan pemadaman, serta membuat sekat bakar agar api tidak meluas. “Untuk di Bunsur sudah padam,  tinggal pendinginan,” sebut Pepen.

Kebun Karet dan Sawit di Titian Madang Terbakar

Senin (10/8), kebakaran lahan terjadi di Desa Titian Modang Kolah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan Singingi (Kuansing). Tim pemadam kebakaran Kantor Satpol PP-PKP Kuansing mendapat info pengaduan masyarakat masuk pukul 14.53 WIB. Dengan jarak tempuh ke lokasi 15 kilometer, personel pemadam kebakaran dan dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi pukul 15.15 WIB. 

Saat tiba, kebakaran sedang terjadi. Namun 10 orang personel dan dua unit mobil pemadam kebakaran berusaha memadamkan area yang di tanami karet dan sawit itu. 

Tetapi cuaca yang panas, membuat api berkobar besar dan sulit dipadamkan. Api baru dapat di dinginkan sekitar pukul 18.20 WIB. “Personel kami berjibaku berupaya memadamkan api agar tidak melebar ke area yang lain,” ungkap Kasat Pol PP-PKP Kuansing, Riokasyter Sandra, Selasa (11/8).(sol/kas/wir/*2/mng/dac/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
kebakaran hutan dan lahan riau karhutla riau hotspot riau