PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara Kota Pekanbaru pada Rabu (12/8/2026) berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai. Grafik riwayat PM2.5 Pekanbaru menunjukkan konsentrasi partikulat halus sempat menembus 200 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 01.00 WIB.
PM2.5 merupakan partikel pencemar udara berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat terhirup dan masuk hingga jauh ke dalam saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian paru-paru. Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat mengganggu kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Dampaknya dapat berupa iritasi pada saluran pernapasan, batuk dan sesak napas. Paparan yang lebih tinggi atau berlangsung dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada fungsi paru-paru serta memperburuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang sudah ada.
Baca Juga: Kemenperin Pertemukan 30 IKM Logam dengan Perusahaan Besar
Karena itu, tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas udara, terlebih ketika angkanya sudah masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Dalam grafik pemantauan BMKG tersebut, lonjakan PM2.5 terjadi cukup tajam pada dini hari. Pada pukul 00.00 WIB, konsentrasi masih berada di kisaran 89 µg/m³.
Namun, hanya dalam waktu satu jam, konsentrasinya melonjak hingga lebih dari 200 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB. Angka tersebut menjadi titik tertinggi dalam grafik dan ditampilkan dalam zona merah yang menunjukkan kategori sangat tidak sehat.
Baca Juga: Rayakan HUT RI, BRK Syariah Beri Bonus Pulsa Rp17 Ribu
Setelah mencapai puncak tersebut, konsentrasi PM2.5 berangsur turun. Namun, pada pukul 02.00 hingga 04.00 WIB, angkanya masih berada di kisaran 109–111 µg/m³.
Memasuki pagi, konsentrasi kembali menurun menjadi sekitar 76 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB, 58 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB dan 56 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB. Namun, pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi kembali meningkat menjadi sekitar 71 µg/m³.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski terjadi penurunan setelah lonjakan dini hari, kualitas udara Pekanbaru tetap berada pada level tidak sehat hingga pagi.
IQAir Catat AQI 152
Kondisi tersebut juga terlihat dari pemantauan melalui aplikasi IQAir pada pukul 08.00 WIB. IQAir mencatat 152 US AQI untuk Pekanbaru dengan status Unhealthy atau tidak sehat. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 57 µg/m³.
Pada waktu yang sama, suhu tercatat 28 derajat Celsius, kecepatan angin 8 kilometer per jam dan kelembapan 64 persen.
Meskipun terdapat perbedaan angka konsentrasi antara sistem pemantauan, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa kualitas udara Pekanbaru pada pagi hari berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian. Dengan kondisi kualitas udara seperti itu, masyarakat perlu memperhatikan paparan polutan, khususnya kelompok yang lebih rentan.
Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan atau sensitivitas pada saluran pernapasan dapat lebih mudah mengalami dampak ketika konsentrasi PM2.5 meningkat.
Baca Juga: 225 Ketua RT/RW Se-Payung Sekaki Dikukuhkan
Masyarakat juga perlu mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Aktivitas fisik berat membuat seseorang bernapas lebih cepat dan lebih banyak menghirup udara, sehingga paparan partikulat juga dapat meningkat.
Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker yang mampu menyaring partikulat dapat menjadi salah satu upaya mengurangi paparan.
Sementara itu, prakiraan per jam pada IQAir menunjukkan kualitas udara Pekanbaru diperkirakan berangsur membaik setelah pagi.
Indeks AQI yang berada pada angka 152 pukul 08.00 WIB diperkirakan turun menjadi 142 pada pukul 10.00 WIB, 137 pada pukul 11.00 WIB, 132 pada pukul 12.00 WIB dan 127 pada pukul 13.00 WIB.
Di Tengah Ancaman Karhutla
Meningkatnya konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru menjadi perhatian tersendiri di tengah musim kemarau dan meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.
Per Selasa (11/8/2026) berdasarkan data yang dihimpun Riau Pos, sudah lima kabupaten Yakni Bengkalis, Rokan Hilir, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu dilanda karhutla. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 53 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah Riau/
Sementara itu, saat dikonfirmasi Forcester on duty BMKG Pekanbaru Putri Santy S menjelaskan, Kondisi haze dan peningkatan PM2.5 tidak selalu disebabkan oleh kebakaran.
"Kondisi ini dapat terjadi karena akumulasi polutan, transpor polusi dari wilayah lain, serta kondisi atmosfer yang kurang mendukung penyebaran polutan, seperti angin yang lemah (calm) dan kelembapan tinggi," ucapnya.
Update berdasarkan hasil analisis data satelit terbaru, terpantau adanya asap tipis di atas Kota pekanbaru. Berdasarkan pengamatan kondisi angin sekarang cukup tinggi dan visibility sudah membaik sehingga kualitas udara juga sudah membaik. (ali/ayi)
Editor : Edwar Yaman