Kabut Asap Mulai Muncul

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:16 WIB
Kendaraan melintas di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru yang diselimuti kabut asap, Rabu (12/8/2026) pagi.  (MHD AKHWAN/RIAU POS)
Kendaraan melintas di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru yang diselimuti kabut asap, Rabu (12/8/2026) pagi. (MHD AKHWAN/RIAU POS)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru, Indragiri Hulu, dan Siak. Rabu (12/6) pagi, kabut asap tipis dengan aroma bekas kebakaran hutan menyeruak dan mulai terlihat pekat pada malam hari.

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan, di pagi hari kondisi kabut yang menyelimuti Kota Pekanbaru terpantau masih haze (udara kabur) yang merupakan fenomena atmosfer saat jarak pandang berkurang akibat partikel mikroskopis kering, debu, atau uap air yang melayang di udara. 

Berbeda dari kabut asap pekat akibat kebakaran lahan, haze sering kali bersifat alami karena kelembapan atau kondisi cuaca lokal yang stabil. Namun memasuki pukul 10.00 WIB, berdasarkan analisis citra radar satelit terdeteksi adanya kabut asap tipis di atas Kota Pekanbaru.

Baca Juga: Seludupkan 1 Kg Sabu lewat Bandara SSK II, Pria Asal Aceh Ditangkap

“Berdasarkan pantauan satgas udara, tidak ada kebakaran di area Kota Pekanbaru. Tapi memang benar Pekanbaru dan sejumlah wilayah Riau lainnya terlihat dari satelit sudah dikelilingi kabut asap tipis,’’ ujarnya.

‘’Melihat arah angin hari ini (kemarin, red) yang didominasi berasal dari arah Tenggara hingga Selatan, kemungkinan asap ini berasal dari wilayah yang terbakar di sebelah Tenggara dan Selatan dari Kota Pekanbaru. Namun untuk titik karhutla, BPBD Provinsi Riau yang dapat menjelaskannya karena titik api bukan ranah BMKG,” tambahnya.

Ya, kabut menyelimuti Kota Bertuah. Kondisi ini terus berlangsung hingga pukul 20.00 WIB. Hampir seluruh ruas jalan diselimuti kabut asap yang mulai memekat dan mengganggu pernapasan. Pantauan Riau Pos, terlihat sejumlah gedung pencakar langit diselimuti kabut tipis yang membuat jarak pandang berkurang.

Baca Juga: Komitmen Plt Gubri Tingkatkan Infrastruktur, Tahun Ini Ruas Jalan Mahato-Manggala 8,9 Km Dirigid

Kawasan Jembatan Sungai Siak dan Jalan Sudirman juga tampak diselimuti kabut putih tipis dari arah kejauhan. Kondisi ini membuat masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga sudah mulai menggunakan masker karena bau asap yang mulai menganggu saluran pernapasan.

Salah seorang pengendara sepeda motor bernama Wahyudi Candra (25) mengaku, hingga malam hari kabut asap tipis masih mengelilingi kota Pekanbaru dan mengeluarkan aroma bau asap sisa pembakaran.

“Iya kabutnya dari pagi dan sampai malam masih terlihat. Semoga tidak terlalu pekat karena tadi sore (kemarin, red) lihat matahari sudah memerah. Tenggorokan juga sakit,” ungkapnya.

Baca Juga: Mentor Aksi Perubahan, Kakanwil Kemenkum Riau Dampingi Peserta PKA Angkatan LXXVII 

Kualitas Udara Pekanbaru Berubah-ubah

Kualitas udara Kota Pekanbaru mengalami perubahan cukup drastis sepanjang Rabu (12/8). Pada dini hari hingga pagi, udara berada pada kategori tidak sehat, bahkan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) sempat menembus sekitar 200 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi kemudian membaik pada siang hari dan masuk kategori sedang, sebelum kembali tidak sehat menjelang malam.

Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru sempat berada di atas 200 µg/m³ sekitar pukul 01.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara berada pada level sangat tidak sehat.

Setelah itu, konsentrasi PM2.5 berangsur turun pada pagi hingga siang. Namun, perbaikan tersebut kembali berbalik pada sore hari. Pada pukul 05.00 WIB, konsentrasi PM2.5 masih berada di kisaran 75,9 µg/m³. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 57 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB. Namun, pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi kembali tercatat sekitar 71 µg/m³.

Baca Juga: Bantah Eksepsi Rida, JPU Minta Hakim Lanjut ke Tahap Pembuktian

Memasuki pagi hari, warga Pekanbaru masih berhadapan dengan kualitas udara yang tidak sehat. Kondisi tersebut juga tercermin dari pemantauan kualitas udara pada pagi hari. Indeks kualitas udara masih berada pada level tidak sehat, sehingga kelompok sensitif menjadi pihak yang paling perlu mengurangi paparan udara luar.

Perubahan terjadi menjelang siang. Konsentrasi PM2.5 terus mengalami penurunan hingga akhirnya masuk kategori sedang. Pada sekitar pukul 11.00 WIB, data pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 39,8 µg/m³.

Grafik riwayat BMKG memperlihatkan kategori kualitas udara berubah dari tidak sehat menjadi sedang sekitar pukul 10.00 WIB. Kondisi sedang tersebut bertahan sepanjang siang hingga sore. Ini menjadi kabar baik setelah Pekanbaru mengalami kualitas udara yang buruk sejak dini hari. Namun, kondisi tersebut ternyata hanya bersifat sementara.

Baca Juga: Demo di Kantor Gubernur, BEM Unri Sampaikan Beberapa Tuntutan ke Pemprov Riau 

Memasuki pukul 18.00 WIB, kualitas udara kembali mengalami penurunan. Data pemantauan BMKG pada pukul 18.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 89,7 µg/m³ dan kembali masuk kategori tidak sehat.

Gambaran serupa terlihat dari pemantauan IQAir. Pada pukul 18.00 WIB, IQAir mencatat US AQI 120, dengan status Unhealthy for Sensitive Groups atau tidak sehat bagi kelompok sensitif. Konsentrasi PM2.5 yang ditampilkan mencapai 43,4 µg/m³.

Bahkan, data IQAir memperkirakan AQI masih berada di atas 100 hingga tengah malam. Pada pukul 21.00 diperkirakan 115, pukul 22.00 sekitar 112, pukul 23.00 sekitar 109 dan tengah malam sekitar 106. Kondisi atmosfer turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. 

Baca Juga: Unggul di Enam Kategori, Polda Riau Juara Umum Ketahanan Pangan Polri

Pada pemantauan IQAir pukul 18.00 WIB, kecepatan angin tercatat hanya sekitar 2 kilometer per jam, dengan kelembapan mencapai 67 persen. Angin yang lemah dapat membuat penyebaran polutan menjadi kurang optimal. Akibatnya, partikulat di udara dapat bertahan lebih lama di sekitar permukaan.

Di Indragiri Hulu, pagi jelang siang juga mulai terlihat kabut asap tipis. Bahkan, pada malam hari mulai tercium aroma kebakaran. Kondisi itu juga sejalan dengan pantau BMKG Japura Indragiri Hulu (Inhu). Dimana, kondisi Inhu akan mengalami Hari Tanpa Hujan (HPH) yang sangat panjang. 

Bahkan, membuat meluasnya risiko kebakaran wilayah berpotensi karhutla. “Kabupaten Inhu, berdasarkan pemantauan BMKG mengalami HTH yang sangat panjang untuk wilayah Provinsi Riau,” ujar Kepala BMKG Inhu, Nancy Luciana Damanik, Rabu (12/8).

Baca Juga: Unggul di Enam Kategori, Polda Riau Juara Umum Ketahanan Pangan Polri

Kondisi yang terjadi sambungnya, dipicu el nino kuat dengan nilai anomali SST di region Nino3.4 pada periode Mei-Juni-Juli (MJJ) 2026 mencapai +1.59. El nino kuat masih berlangsung dan berpotensi mengalami penguatan.

Situasi itu juga perlu diwaspadai, karena bertepatan dengan prediksi IOD positif yang berpotensi aktif pada periode September hingga Desember 2026 dengan dinamika atmosfer cukup berpengaruh di wilayah Riau. 

“Jadi fokus kewaspadaan kita bukan label “super” atau semacamnya. Kombinasi dua fenomena resmi ini, el nino kuat dan IOD positif dapat mengakibatkan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau,” tegasnya. 

“Karena itu kami mendorong agar upaya pencegahan Karhutla di lahan gambut tidak hanya fokus di Agustus-September saja, tapi terus dijaga kewaspadaannya sampai musim hujan benar-benar stabil,” sebutnya.

Baca Juga: PM2.5 Pekanbaru Tembus 200 µg/m³ Tengah Malam, hingga Pagi Udara Masih Tidak Sehat

Karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat, Inhu tidak kunjung padam hingga Rabu (12/8). Personel Yonif TP 850/SC bersama tim gabungan bergerak cepat melakukan upaya pemadaman di wilayah tersebut. 

Demikian disampaikan Danyonif TP 850/SC, Letkol Inf Eko Sugiarto. “Dalam pelaksanaan di lapangan, personel bersama tim gabungan melakukan penanganan secara terkoordinasi dengan mengutamakan keselamatan personel serta pengendalian titik api,” ujar Letkol Inf Eko Sugiarto, Rabu (12/8). 

Di Siak, kabut asap tipis juga mulai muncul, Selasa (11/8). Situasi ini membuat warga bertanya-tanya dari mana asal asap tersebut. Kalaksa BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara Pepen mengatakan, saat ini karhutla ada di Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir, serta Indragiri Hulu. 

Ia mengatakan, kabut asap tersrbut kemungkinan terdekat tentu kiriman dari Bengkalis dan Rokan Hilir, meski di Kabupaten Siak sendiri juga terbakar lahan, tepatnya di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit.

Baca Juga: Pekanbaru Mulai Diselimuti Kabut Tipis, Hotspot Riau Menurun

Di Bengkalis Masih Sisakan Titik Api

Polres Bengkalis bersama jajaran Polsek dan tim gabungan, terus memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah, Rabu (12/8). “Sampai saat ini pemadaman dan pendinginan sudah kita lakukan secara terpadu guna mencegah api kembali meluas dan memastikan kondisi lahan benar-benar aman,” tegas Kapolres Bengkalis melalui Kasi Humas, Aipda Juliandi Baserah.

Ia menyebutkan, tiga lokasi yang mendapat penanganan yakni Jalan Reformasi RT 002 RW 006, Dusun Tambusu, Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Jalan Cikgu Wahidin RT 002 RW 001, Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat serta Jalan Tangkahan Tegar Ujung Canal Atiam, Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, yang berbatasan dengan Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir.

Ia mengatakan, di Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, penanganan telah memasuki hari ketiga. Lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 12 hektare, dengan sekitar 3,5 hektare telah berhasil dipadamkan. Hingga kegiatan berakhir, tim masih menemukan sejumlah titik api dan asap pada sisa kayu yang terbakar, sehingga pemadaman dan pendinginan akan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya.

Sementara itu, di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare. Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan sejak pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Api telah berhasil dipadamkan dan kondisi terakhir hanya menyisakan asap. Petugas tetap memastikan lokasi dalam keadaan aman dan terkendali.

“Sedangkan di Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat, kebakaran terjadi pada lahan semak belukar dengan luas sekitar 0,3 hektare. Api berhasil dipadamkan dan proses pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala. Hasil pemantauan terakhir menunjukkan lokasi Karhutla nihil terpantau pada aplikasi DLK,” jelasnya.

Dari tiga lokasi tersebut, Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, menjadi lokasi yang masih memerlukan penanganan lanjutan karena masih ditemukan titik api dan asap. “Penyebab Karhutla di ketiga lokasi masih dalam proses penyelidikan. Petugas juga telah melakukan pengecekan TKP, pendataan saksi, dokumentasi, serta pemantauan kondisi lahan,” jelasnya.

Nihil Hotspot di Rohil 

Karhutla di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) tepatnya di wilayah Kepenghuluan Pasir Limau Kapas Kecamatan Palika yang sempat menghanguskan lahan lebih kurang 50 hektare berakhir. Berdasarkan hasil pemantauan satelit, tidak ditemukan lagi adanya titik panas atau hotspot di seluruh wilayah Kabupaten Rohil, Rabu (12/8).

Hal itu dikatakan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rohil Syafnurizal. “Berdasarkan hasil pemantauan melalui aplikasi Spongi yang bersumber dari satelit NASA NOAA dan NASA SNPP, pada Rabu 12 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, berdasarkan pantauan satelit tidak terdapat titik hotspot atau nihil titik hotspot di Rohil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi nihilnya titik panas ini menjadi indikator bahwa saat ini tidak ditemukan lagi adanya indikasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Rohil. Meski demikian, terangnya BPBD Rohil tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap potensi munculnya titik api, terutama mengingat sebagian wilayah Rohil memiliki kawasan rawan karhutla dengan karakteristik lahan gambut dan perkebunan.

“Kita tetap melakukan monitoring dan kesiapsiagaan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar,” katanya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau telah melaksanakan berbagai langkah pencegahan, mulai dari sosialisasi maklumat larangan membakar hingga peningkatan edukasi pembukaan lahan tanpa bakar kepada masyarakat.

Kepala BPBD Riau M Edy Afrizal menjelaskan, menggiatkan pemantauan harian, patroli rutin, pemeriksaan lapangan (groundcheck), serta telah menyelenggarakan Apel Kesiapsiagaan Bencana Karhutla dari tingkat nasional hingga kabupaten/kota. “Kami terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan dunia usaha dalam upaya pencegahan serta pemadaman Karhutla, baik melalui jalur darat maupun udara,” ujarnya.(ayi/ali/kas/ksm/fad/sol/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
PM2.5 Kualitas Udara kabut Asap pekanbaru karhutla riau