KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lancang Kuning (Unilak) menggelar pelatihan di Desa Lubuk Sakat, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, Selasa (7/7).
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Biopori untuk Resapan Air dan Pengolahan Sampah Organik menjadi Kompos bagi Karang Taruna Lubuk Sakat” ini dipimpin Dr Muthia Anggraini ST MT. Tim juga beranggotakan Dr Ir Fitridawati Soehardi ST MT dan Dr Vonny Indah Sari STP MP.
Kegiatan ini dibiayai Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Tujuannya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan lingkungan melalui teknologi sederhana yang dapat diterapkan langsung di lingkungan tempat tinggal.
Baca Juga: Resmi Bergelar Doktor, Yuda Irawan Perkuat Hilirisasi AI dan IoT untuk Mitigasi Bencana Alam
Pelatihan difokuskan pada dua persoalan utama: berkurangnya kemampuan tanah menyerap air dan meningkatnya sampah organik rumah tangga. Peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan membuat lubang resapan biopori. Lubang biopori berfungsi memperbesar masuknya air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi genangan dan membantu mempertahankan ketersediaan air tanah. Selain itu, biopori juga dapat digunakan sebagai tempat penguraian sampah organik seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit buah.
Materi kedua membahas pengolahan sampah organik melalui proses pengomposan. Pemateri menjelaskan prinsip dasar pengomposan, pemilahan bahan organik, pengaturan kondisi bahan, pemeliharaan selama proses dekomposisi, hingga ciri-ciri kompos matang. Peserta diarahkan memahami bahwa keberhasilan pengomposan dipengaruhi kelembapan, sirkulasi udara, dan aktivitas mikroorganisme pengurai.
Ketua Tim, Dr Muthia Anggraini ST MT berharap anggota Karang Taruna Lubuk Sakat menjadi pelopor penerapan biopori, pemilahan sampah, dan pengolahan sampah organik.
“Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga konsistensi masyarakat dalam menerapkannya,” jelasnya.
Baca Juga: Tim Basket Putri SMAN 2 Bangkinang Melaju ke Semifinal HSBL 2026 Seri Bangkinang
Langkah sederhana seperti satu lubang biopori dan pengolahan sampah dari rumah diharapkan menjadi bagian gerakan besar menjaga air, tanah, dan lingkungan. Di akhir kegiatan dilakukan penyerahan alat dan bahan kepada Karang Taruna Lubuk Sakat. Penyerahan dilakukan Dr Muthia Anggraini ST MT kepada perwakilan Karang Taruna, Roni Saba. Alat tersebut diharapkan dapat digunakan peserta untuk praktik pembuatan biopori dan kompos secara berkelanjutan di desa.(nto/c)
Editor : Edwar Yaman