Empat Daerah di Riau Masih Dilanda Karhutla 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:37 WIB
Personel BPBD Kuantan Singingi dan TNI memadamkan api yang membakar lahan di Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kamis (13/8/2026). (BPBD Kuansing untuk Riau Pos)
Personel BPBD Kuantan Singingi dan TNI memadamkan api yang membakar lahan di Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kamis (13/8/2026). (BPBD Kuansing untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tim Manggala Agni Wilayah Sumatera hingga saat ini masih melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam lokasi yang tersebar di empat kabupaten di Provinsi Riau. Hingga Kamis (13/8) malam, seluruh lokasi tersebut masih dalam penanganan dan belum padam.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, di wilayah Daops Pekanbaru, terdapat tiga lokasi yang masih ditangani. Dua di antaranya berada di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Dan, satu di Desa Desa Pangkalan Baru Siak Hulu Kampar.

“Lokasi karhutla di Desa Rimbo Panjang itu telah memasuki hari kedua dengan estimasi luas terbakar sekitar 3 hektare. Satu regu personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan kondisi api masih belum padam,” katanya.

Baca Juga: DPRD Riau Tetapkan 5 Komisioner KI dan 7 Komisioner KPID Periode 2026-2030

Masih di Desa Rimbo Panjang, kebakaran lainnya memasuki hari pertama dengan estimasi luas terbakar sekitar 1 hektare. Pemadaman dilakukan satu regu dan api juga masih belum padam. Sementara itu, kebakaran di Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, terjadi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina. 

“Memasuki hari kedua, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 6 hektare dan ditangani satu regu personel,” sebutnya.

Dari wilayah Daops Dumai, dua lokasi karhutla masih dalam penanganan. Lalu, kebakaran di Kepulauan Palika, Kecamatan Palika, Kabupaten Rokan Hilir, telah memasuki hari kelima. Estimasi luas lahan yang terbakar mencapai 50 hektare. Pemadaman di lokasi tersebut melibatkan satu tim dari Daops Dumai dan satu regu bantuan dari Daops Labuan Batu Selatan.

Baca Juga: Tim Unilak Latih Karang Taruna Lubuk Sakat Buat Biopori dan Kompos 

“Lokasi lainnya berada di Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Kebakaran memasuki hari keempat dengan estimasi luas terbakar sekitar 12 hektare,” jelasnya. Satu tim Daops Dumai dan satu tim bantuan dari Daops Siak dikerahkan untuk melakukan pemadaman. 

Sementara itu, Daops Rengat masih menangani kebakaran di Kelurahan Sungai  Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Kebakaran di lokasi tersebut telah memasuki hari ke-11. Sebanyak dua regu personel masih dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Dalam laporan operasi, lokasi tersebut masih dinyatakan belum padam.

Ferdian mengatakan seluruh personel yang dikerahkan masih melakukan penanganan di masing-masing lokasi. Upaya pemadaman terus dilakukan untuk mengendalikan titik-titik api dan mencegah kebakaran meluas ke area lainnya. Kondisi di masing-masing lokasi masih dipantau seiring berlangsungnya operasi pemadaman oleh Manggala Agni bersama unsur pendukung di lapangan.

Baca Juga: Resmi Bergelar Doktor, Yuda Irawan Perkuat Hilirisasi AI dan IoT untuk Mitigasi Bencana Alam

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menjelaskan terjadi penurunan jumlah titik panas di Riau, Kamis (13/8). Prakirawan BMKG Pekanbaru Elisa JS Kedang menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit, sejak pukul 16.00 WIB. Total titik panasdi wilayah Sumatera mengalami penurunan yang cukup signifikan dari sebelumnya 1.097 tersisa hanya 431 titik panas.

Penurunan jumlah titik panas ini tersebar di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera. Yakni  Sumatera Selatan 172, Lampung 93, Riau 46, Bengkulu 27, Sumatera Barat 22,  Sumatera Utara 21, Jambi 21, Bangka Belitung 20, Aceh  7, dan Kepulauan Riau 2. 

Untuk sebaran titik panas di Provinsi Riau masih didominasi di Kabupaten Bengkalis dengan 16 titik. Disusul  Pelalawan 11, Kampar  5, Rokan Hulu 4, Kuantan Singingi  5, Rokan Hilir 2, Kabupaten Siak  2, dan Indragiri Hilir 1.

Sedangkan untuk visibility atau jarak pandang di sejumlah daerah di Provinsi Riau, sejak pukul 16.00 WIB, Kota Pekanbaru masih masuk kategori aman dengan  jarak pandang berkisar 7 km,  Rengat 8 km,  Pelalawan  8 km, dan  Tambang 8 km.

Baca Juga: Kakanwil Kemenkum Riau: Inovasi Harus Berdampak pada Pelayanan

“Untuk pantauan real time, kualitas udara saat ini (kemarin, red) dalam kategori sedang atau sudah mulai membaik. Berdasarkan citra satelit Untuk wilayah Riau tidak terdeteksi ada sebaran asap. Tapi untuk observasi permukaan yang kami amati di Inhu dan Kota Pekanbaru masih aman, walau jarak pandang berkisar antara 7-8 km,” tegasnya.

Lahan Terbakar di Seberang Cengar

Kabur asap tipis dalam dua hari ini, terlihat menyelimuti wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Kondisi itu sebagian disebabkan kiriman asap akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Inhu, Pelalawan dan Kampar yang masih terjadi.

‘’Rabu (12/8) lalu, kami sudah melakukan  pengecekan. Lima titik panas itu dari aktivitas cerobong asap pabrik kelapa sawit,” ungkap Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Bencana BPBD Kuansing, Koko Mahyudi, Kamis (13/8).

Baca Juga: Tingkatkan Kekompakan Dalam Melayani Masyarakat, Penyuluh KB Gelar Capacity Building Penyuluh KB se-

Sementara Kamis (13/8), ada terpantau satu titik api di Kecamatan Kuantan Mudik dan satu dari aktivitas pabrik kelapa sawit di Kecamatan Singingi. Titik api di Kecamatan Kuantan Mudik itu berasal dari kebakaran lahan di Desa Seberang Cengar Kecanatan Kuantan Mudik Kamis siang seluas dua hektare.

Tim BPBD Kuansing dibantu TNI, Polri, dan masyarakat masih berupaya memadamkan api. Namun kesulitan karena lokasi kebakaran berada di daerah perbukitan. Tim kesulitan mendapatkan sumber air dan mobil pemadam kebakaran yang tidak bisa masuk. “BPBD membawa alat pemadam tenteng ke lokasi. Tetapi tim kesulitan mendapatkan sumber air,” ujar Koko Mahyudi.

Hingga kemarin, api belum padam secara keseluruhan dan sebagian masih terbakar. Tim gabungan masih berupaya mencari sumber air di sekitar lokasi. Penyebab kebakaran lahan kosong itu belum diketahui.

Di Indragiri Hulu (Inhu), tim gabungan masih harus melakukan pemadaman karhutla yang terjadi di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat, Kamis (13/8). Bahkan, akses kepala api hingga Rabu (12/8) belum terbuka sepenuhnya. Hal itu disebabkan oleh ketersediaan air sangat terbatas hingga angin bertiup kencang. 

Baca Juga: Dosen USTI Assoc Junadhi Perkenalkan EduStoryGen, Inovasi Hasil Disertasi Doktor di UPI YPTK Padang

“Hari ini (kemarin, red), operasi pemadaman karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat masih dilanjutkan,” ujar Kepala Daerah Operasional (KDOPS) Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Kamis (13/8).

Operasi pemadaman yang dilakukan pada Rabu (12/8) sebut Muhammad Ilham Sidik telah memadamkan api di atas lahan seluas 16,9 hektare. Namun luas lahan yang terbakar di Desa Sungai Guntung Hilir itu, sedang dalam perhitungan.

“Dari operasi pemadaman yang dilakukan, terdapat 600 meter kepala api terkendali. Hanya saja akses kepala api belum terbuka sepenuhnya akibat ketersediaan air terbatas dan angin kencang. Operasi pemadaman hari ini (kemarin, red) menindaklanjuti penanganan sebelumnya untuk mencapai kepala api,” terangnya.

Baca Juga: Kualitas Udara Membaik, Hotspot di Riau Sisa 46

108 Sekolah Malaysia Ditutup

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan melintas negara. Tak hanya di Pontianak, ratusan sekolah di Sarawak, Malaysia, juga ditutup akibat paparan kabut asap. Dikutip dari Malaymail, tercatat 108 sekolah di Divisi Serian, Sarawak, ditutup sementara menyusul indeks polusi udara yang mengkhawatirkan.

Data portal Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) kemarin (13/8) sore menunjukkan, 10 wilayah tercatat mengalami kondisi udara yang tidak sehat. Ke-10 wilayah itu meliputi Samarahan, Serian, Kuching, Sri Aman, Sarikei, Mukah, dan Sibu di Sarawak. Serta Johan Setia (Selangor), Cheras (Kuala Lumpur), dan Minden (Penang).

Kondisi udara di Sarawak berkisar antara 150–183 yang berarti tidak sehat. Angka ini sedikit menurun dari sebelumnya, pada Rabu (12/8), ketika angka API (air pollutant index) di Serian terpantau setinggi 202 dan Tebedu berada di angka 212 yang berarti sangat tidak sehat.

Baca Juga: 435 Koperasi Merah Putih di Riau Telah Selesai 100 Persen 

Wakil Perdana Menteri Sarawak dan Ketua Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Datuk Amar Douglas Uggah Embas mengungkapkan, penutupan sekolah itu merupakan upaya untuk melindungi kesehatan para siswa, guru, dan warga sekolah lainnya. Meski demikian, dia memastikan, kegiatan belajar mengajar akan tetap diselenggarakan dari rumah.

Keputusan itu pun diambil berdasarkan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional yang mewajibkan sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak untuk menghentikan kegiatan di lokasi ketika pembacaan API mencapai 200. ”Pembelajaran dan Pengajaran dari Rumah (PdPR) akan berlanjut selama periode penutupan untuk memastikan kesinambungan pembelajaran siswa tidak terganggu,” ujarnya.(sol/ayi/dac/kas/mia/wan/ttg/jpg)

Editor : Arif Oktafian
kebakaran hutan dan lahan karhutla manggala agni riau