PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Jumlah titik panas (hotspot) Riau dalam tiga hari terakhir menunjukkan tren penurunan, dari sebanyak 158 titik panas pada Kamis (13/8), lalu turun jadi 46 pada Jumat (14/8) dan 26 titik pada Sabtu (15/8). Akan tetapi luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak menunjukkan penurunan signifikan. Bahkan di beberapa daerah, berbagai kendala terjadi sehingga karhutla terus meluas.
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, misalnya masih berlanjut dengan tantangan hebat. Tim Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat bersama unsur gabungan terus melakukan pemadaman dan penyekatan untuk menahan pergerakan api di kawasan yang didominasi lahan gambut, semak belukar dan perkebunan sawit masyarakat.
Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat, Muhammad Ilham Sidik, mengatakan total luasan yang berhasil dipadamkan mencapai sekitar 20,9 hektare. Namun, kondisi api belum sepenuhnya padam.
Baca Juga: Putra SMAN 1 Bangkinang Juara, Putri SMAN 1 Kampar Pertahankan Gelar
“Pemadaman masih terus dilakukan. Sampai saat ini sekitar 20,9 hektare sudah berhasil dipadamkan, namun api masih belum padam dan penanganan akan kami lanjutkan,” kata Ilham.
Ia menjelaskan, penjalaran api saat ini terutama mengarah ke sisi utara dan timur. Sementara itu, bagian barat lokasi kebakaran telah berhasil tersekat oleh tanggul. Dalam operasi tersebut, tim telah membangun sekat bakar sepanjang 1,4 kilometer dan membuat 12 titik embung untuk mendukung kebutuhan air selama pemadaman. Tim juga berhasil mengendalikan sekitar 900 meter bagian kepala api.
“Sekat bakar sepanjang 1,4 kilometer sudah dibuat, kemudian ada 12 titik embung. Untuk kepala api, sekitar 900 meter sudah berhasil dikendalikan,” ujarnya.
Baca Juga: Tiga Titik Karhutla Terjadi di Kampar, Petugas Gabungan Masih Lakukan Pemadaman
Meski demikian, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Akses menuju kepala api belum sepenuhnya terbuka, sementara ketersediaan sumber air di beberapa titik masih terbatas. Kondisi angin yang kencang juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
“Sumber air yang digunakan untuk mendukung operasi berasal dari parit, embung dan kanal yang berada di sekitar lokasi,” katanya.
Untuk mendukung operasi, Manggala Agni mengerahkan empat kendaraan roda empat, 22 unit kendaraan roda dua, delapan unit mesin Mini Strike, empat unit Mark 3 serta berbagai perlengkapan pendukung pemadaman lainnya.
“Tim akan memprioritaskan pembukaan akses menuju kepala api, pengendalian penjalaran serta pemadaman lanjutan untuk memastikan api tidak kembali meluas,” ujarnya.
Angin Kencang Jadi Kendala
Angin kencang salah satu penyebab lambatnya penanganan dan pemadaman Kebakaran karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Bahkan, hingga hari ke- 13 atau satu hari jelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (RI), api belum kunjung padam. Sehingga dengan kondisi itu, tim gabungan masih akan melakukan pemadaman pada Ahad (16/8).
Muhammad Ilham Sidik mengatakan bahwa pemadaman yang dilakukan pada Sabtu (15/8) sifatnya masih melanjutkan pemadaman sebelumnya.
“Tim masih berupaya mengejar kepala api. Namun akibat angin bertiup cukup kencang, pemadaman hanya dapat dilakukan di bagian sisi utara dan timur. Sedangkan di bagian sisi barat sudah tersekat tanggul.
Ia juga menyampaikan bahwa, operasi pemadaman kali ini bertepatan dengan bulan Agustus bulan kemerdekaan Indonesia. Sehingga hal itu pula menjadikan semangat 45 khususnya bagi Manggala Agni, buat lebih struktur teratur rapi memadamkan api.
Di tengah embusan asap dan teriknya matahari bulan Agustus, tim Manggala Agni Daops Sumatera VII-Rengat tetap berdiri kokoh di garis depan. “Semangat kemerdekaan menjadikan kami lebih semangat lagi untuk memadamkan karhutla di lahan gambut Desa Sungai Guntung Hilir,” bebernya.
Hotspot di Riau Tersisa 26 Titik
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Pekanbaru mulai menemukan adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau, Sabtu (15/8). Menurut Prakirawan BMKG Pekanbaru Indah DN, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru sejak pukul 16.00 WIB, jumlah hotspot di Riau memang hanya tersisa 26 titik panas yang tersebar di 6 daerah.
Namun secara keseluruhan total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera masih cukup tinggi yaitu berjumlah 385 titik yang tersebar di sejumlah provinsi di antaranya Provinsi Aceh 3, Provinsi Bengkulu 14, Provinsi Jambi 36, Provinsi Lampung 40, Provinsi Sumatera Barat 12, Provinsi Sumatera Utara 9, Provinsi Kepulauan Riau 15, Provinsi Bangka Belitung 51, dan Provinsi Riau 26 titik panas. Sedangkan titik panas terbanyak berada di Provinsi Sumatera Selatan dengan 179 titik panas.
“Wilayah Riau titik panas hanya terdeteksi di Kabupaten Kepulauan Meranti 1, Kabupaten Kuantan Singingi 2, Kabupaten Pelalawan 6, Kabupaten Indragiri Hilir 6, Kabupaten Indragiri Hulu 1 dan Kabupaten Kampar mendominasi titik panas dengan 10 titik,” katanya
Sementara itu untuk jarak pandang di Provinsi Riau masih cukup stabil. Di mana BMKG mencatat visibility di Pekanbaru berkisar 9 km, Rengat 8 km, Pelalawan 10 km, dan Tambang 9 km.
“Meksipun jumlah titik panas di Provinsi Riau sudah berkurang, namun masyarakat tetap diminta untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana karhutla dengan titik membuka lahan dengan cara dibakar,” tuturnya.
Tiga Titik Karhutla Terjadi di Kampar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar mencatat tiga kejadian kebakaran lahan baru di wilayah Kabupaten Kampar hingga Sabtu (15/8) sore. Petugas gabungan masih melakukan penanganan di sejumlah lokasi yang dilaporkan masih mengeluarkan asap.
Kalaksa BPBD Kabupaten Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita mengatakan, tiga titik kebakaran tersebut berada di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang; Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara; serta Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang.
“Untuk lokasi pertama di Jalan HM Nazir, depan Pondok Pesantren Gontor 7, Desa Rimbo Panjang, luas lahan yang terbakar sekitar 0,3 hektare dan saat ini sudah padam, meski masih terdapat asap,” ujar Adi Candra Lukita, menyampaikan keterangan BPBD Kampar.
Sementara itu, kebakaran lahan di Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara, memiliki luas sekitar 2 hektare. Kondisi di lokasi dilaporkan sudah padam namun masih berasap. Lahan yang terbakar merupakan area mineral gambut dengan vegetasi perkebunan sawit dan karet.
Sedangkan di Jalan Keluarga dan Jalan Perwira, Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, kebakaran masih belum sepenuhnya padam. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 3 hektare dan merupakan lahan gambut dengan vegetasi perkebunan sawit.
Adi menjelaskan, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan upaya pemadaman. Di lokasi Tarai Bangun, petugas melakukan penyekatan, pendinginan serta pemblokingan untuk mencegah api meluas.
“Petugas masih melakukan penanganan di lokasi yang belum padam. Kendala yang dihadapi antara lain lokasi yang jauh dari sumber air, akses yang sulit dijangkau kendaraan, serta kondisi angin yang cukup kencang,” jelasnya.
Dalam penanganan tiga lokasi tersebut, BPBD Kampar mengerahkan personel bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni dan MPA. Selain pemadaman, petugas juga melakukan pemantauan kondisi cuaca dan titik panas.
Berdasarkan laporan BPBD Kampar yang diperbarui pukul 17.30 WIB, Sabtu (15/8), BMKG memprakirakan cuaca cerah dengan suhu 31–32 derajat Celsius dan kelembapan 67 persen. Namun, terdapat peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di sebagian wilayah Kabupaten Kampar.
BPBD Kampar juga mencatat satu titik hotspot berdasarkan sumber NASA-NOAA20 pada 15 Agustus 2026, yang berada di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung, dengan tingkat kepercayaan medium.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang dapat berubah. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun asap di sekitar lingkungan.
“Penanganan terus dilakukan dan pemantauan tetap kami tingkatkan untuk mencegah kebakaran meluas,” tutup Adi Candra Lukita.(sol/kas/ayi/kom/muh)
Editor : Bayu Saputra