Polisi Buru Pelaku Penyerang Warga di Area Perkebunan Agrinas

Afiat Ananda • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:44 WIB
Warga mengalami luka usai diserang di areal perkebunan. (Istimewa)
Warga mengalami luka usai diserang di areal perkebunan. (Istimewa)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Polisi memburu para pelaku penyerangan terhadap puluhan warga yang terjadi di area perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Penyerangan tersebut menyebabkan sejumlah warga mengalami luka-luka dan harus menjalani pemeriksaan medis.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua mengatakan, kasus tersebut telah dilaporkan ke Polsek Tambusai Utara. Polisi juga telah melakukan sejumlah langkah penanganan terhadap para korban.

"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," kata Hasyim kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Ahad (16/8/2026).

 Baca Juga: Sambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia, IKTS Gelar Turnamen IKTS Cup XVI Tahun 2026

Sebelumnya, puluhan warga mendatangi Polsek Tambusai Utara pada Sabtu sore untuk melaporkan penyerangan yang mereka alami sehari sebelumnya. Polisi juga membawa para korban untuk menjalani visum serta melakukan pemeriksaan guna mengumpulkan keterangan terkait kejadian.

Sejumlah korban terlihat mengalami luka di berbagai bagian tubuh. Ada yang mengalami luka pada kepala, tangan, kaki, rusuk hingga lebam pada bagian mata.

Salah seorang korban, Gunawan (31), mengatakan penyerangan terjadi pada Jumat (14/8/2026). Saat itu, ia bersama sejumlah rekannya sedang berada di mess setelah selesai membersihkan kebun.

 Baca Juga: Pemprov Kucurkan Bantuan Rp1,4 Milliar untuk Pacu Jalur, Peserta Dapat Bantuan Rp2 Juta per Jalur

"Tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal dengan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," ujar Gunawan.

Gunawan mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi. Akibatnya, hidung dan tangannya mengalami luka hingga harus diperban.

Ia juga mengaku mendapat ancaman menggunakan senjata api. Selain itu, dua telepon selulernya disebut turut dirampas oleh para pelaku.

"Saya juga diancam pakai senjata api, dua ponsel saya dijarah," katanya.

Korban lainnya, Rizaldi (44), mengalami luka di sejumlah bagian tubuh. Ia mengaku kepalanya mengalami luka akibat dihantam benda keras, sementara tangan dan bagian matanya turut menjadi sasaran kekerasan.

"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret," ungkap Rizaldi.

Rizaldi menyebut para korban tidak mampu memberikan perlawanan karena para pelaku disebut membawa senjata. Dalam kondisi tersebut, para korban hanya bisa meminta agar tidak disakiti.

"Kami hanya bisa bilang 'aduh, aduh, ampun, ampun, Pak'. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami," ujarnya.

Menurut Rizaldi, setelah melakukan penyerangan, para korban kemudian dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan perkebunan menggunakan truk. Saat melintas di depan Polsek Tambusai Utara, para korban berteriak meminta pertolongan.

Ia menyebut sekitar 25 orang mengalami luka akibat kejadian tersebut. Bahkan, satu korban disebut dalam kondisi kritis. Sementara sekitar 28 orang lainnya masih berada di dalam kebun dan belum diketahui kondisinya.

"Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang," katanya.

Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, mengatakan kasus tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian. Ia meminta aparat mengusut tuntas penyerangan dan menangkap seluruh pihak yang terlibat.

Aziz menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan sengketa pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat seluas sekitar 2.000 hektare yang berada di Afdeling 19 dan 21. Menurutnya, terdapat sekitar 1.015 masyarakat yang menggantungkan hidup dari lahan tersebut.

Ia menjelaskan, lahan tersebut sebelumnya dipercayakan masyarakat untuk dikelola PT Torganda melalui pola kemitraan atau "Bapak Angkat". Selanjutnya, perusahaan menunjuk Koperasi Karya Bakti sebagai mitra dan masyarakat bergabung dalam koperasi tersebut.

 Baca Juga: RS Awal Bros Hadirkan Robotic Orthopedic Surgery untuk Operasi Lutut yang Lebih Akurat dan Presisi

Pada 2025, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut karena dianggap masuk dalam kawasan hutan. Pengelolaan lahan sitaan kemudian diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.

Aziz mengatakan, setelah pengambilalihan tersebut, masyarakat yang mengklaim sebagai pemilik lahan tidak lagi memperoleh hasil dari perkebunan. Kondisi itu kemudian mendorong masyarakat berupaya mengambil kembali lahan yang mereka klaim sebagai milik mereka.

Namun, upaya tersebut kemudian memicu konflik hingga berujung pada penyerangan terhadap warga.

Aziz juga menduga adanya keterlibatan pihak PT Agrinas Palma Nusantara dalam penyerangan tersebut. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan kepolisian.

"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas. Kenapa saya bilang begitu, karena pada 14 Agustus 2026, kuasa hukum Agrinas berkirim surat ke Polres Rohul," kata Aziz.

Ia mengungkapkan, salah satu poin dalam surat tersebut berkaitan dengan kemungkinan terjadinya bentrokan di lapangan.

Meski demikian, hingga kini kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas serta motif para pelaku penyerangan.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani melalui nomor seluler yang diperoleh Riaupos.co masih belum merespons.(nda) 

 

Editor : Edwar Yaman
Perkebunan Agrinas Kombes Hasyim Risahondua polsek tambusai utara tambusai utara