PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kombinasi El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif memicu penurunan curah hujan drastis. Karena kedua fenomena ini sama-sama menyedot uap air dan menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk di wilayah Riau.
Forecaster (Prakirawan Cuaca)/Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya di Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau Sanya Gautami menjelaskan, sebagian besar wilayah Provinsi Riau mengalami puncak musim kemarau pada bulan ini.
‘’Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena pada periode puncak kemarau, curah hujan lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ini dapat meningkatkan potensi terjadinya hari tanpa hujan yang lebih panjang serta kondisi cuaca yang lebih kering,’’ ujarnya.
Sanya Gautami juga menjelaskan, kategori El Nino terdiri dari lemah, moderat, dan kuat. Saat ini yang terjadi adalah El Nino kuat yang bertepatan dengan prediksi IOD positif 2026. Ditegaskannya, tidak ada kategori “super” atau “sangat kuat” dalam nomenklatur BMKG maupun WMO sebagai acuan.
Jadi yang terjadi saat ini adalah El Nino kuat dengan nilai anomali SST di region nino 3.4 pada periode Mei-Juni-Juli (MJJ) 2026 mencapai +1.59, menunjukkan el nino kuat masih berlangsung dan berpotensi mengalami penguatan.
Situasi yang juga perlu diwaspadai adalah karena bertepatan dengan prediksi IOD positif yang berpotensi aktif pada periode September hingga Desember 2026, yang mana kondisi dinamika atmosfer ini cukup berpengaruh di wilayah Riau.
Baca Juga: Waspada Karhutla, Akademisi Sebut Pemetaan dan Pemulihan Lemah
“Jadi fokus kewaspadaan kita bukan label “super” atau semacamnya. Kombinasi dua fenomena resmi ini (El Ninokuat dan IOD positif) dapat mengakibatkan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau,” katanya.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan yang semakin kering, terutama terhadap potensi kekurangan air, penurunan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian, serta meningkatnya risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Apalagi, pengelolaan sumber daya air secara bijak dan pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal yang penting dilakukan selama periode ini. Kondisi puncak musim kemarau juga perlu menjadi perhatian bagi sektor pertanian.
Penyesuaian waktu tanam, pengelolaan kebutuhan air, serta pemanfaatan informasi iklim dapat membantu mengurangi risiko dampak kondisi kering terhadap tanaman.
“BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada khususnya wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut,” ucapnya.
Sementara itu, periode paling kritis sekitar 2 bulan (Agustus–September), tapi potensi kekeringan akibat kombinasi el nino kuat dan IOD positif ini bisa membentang hingga akhir tahun, bahkan dampak susulannya bisa terasa sampai awal 2027.
“Karena itu BMKG mendorong agar upaya pencegahan karhutla di lahan gambut tidak hanya fokus di Agustus-September saja, tapi terus dijaga kewaspadaannya sampai musim hujan benar-benar stabil,” ucapnya.
Berdasarkan hasil prakiraan tiga bulan ke depan, wilayah Provinsi Riau yang lebih kering dibandingkan dengan wilayah lainnya adalah Kabupaten Kuantan Singingi, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir, terutama pada bulan Agustus dan September.
Sedangkan untuk curah hujan di wilayah tersebut diprediksi berada pada kategori rendah (50-100 mm) hingga menegah (100-200 mm). Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) 10 Agustus 2026, terdapat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang (31-60 hari), yaitu Indragiri Hulu (Kecamatan Batang Gansal dan Kecamatan Kuala Cenaku).
Oleh sebab itu, wilayah tersebut harus waspada terhadap terjadinya kekeringan, baik kekeringan meterologis maupun klimatologis. Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruang.
‘’Jangan lupa untuk mengkonsumsi air putih yang cukup agar selalu terhidrasi. Dalam sepekan ke depan curah hujan masih minim, hujan dengan intensitas ringan diprakirakan dapat terjadi terutama di wilayah Riau bagian Utara dan Tengah,” katanya.
52 Titik Panas
Meskipun sempat diselimuti kabut tipis dan diguyur hujan ringan, sejumlah daerah di Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru masih terdeteksi muncul titik panas, Ahad (16/8). Total mencapai 52 titik, terbanyak kedua di Pulau Sumatera.
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir Prayuna menjelaskan, pantauan radar citra satelit sejak pukul 16.00 WIB, terdeteksi 374 titik panas wilayah Sumatera. Selain Riau, titik panas tersebut terpantau di Sumatera Selatan 160, Bangka Belitung 49, Jambi 30, Lampung 22, Kepulauan Riau 14, Sumatera Utara 10, Bengkulu 4, Sumatera Barat 4, dan Aceh 2.
Untuk wilayah Riau sebaran titik panas terbanyak terdeteksi di Kabupaten Pelalawan yakni 28 titik. Selanjutnya, di Kampar 5, Rokan Hilir 4, Bengkalis 3, Indragiri Hulu 3, Pekanbaru 3, Kepulauan Meranti 2, Siak 2, Indragiri Hilir 1, dan Dumai 1. “Untuk jarak pandang di sejumlah daerah Riau masih relatif aman dengan Pekanbaru 7 km, Rengat 7 km, Pelalawan 7 km, dan Tambang 7 km,” jelasnya.(ayi)
Editor : Arif Oktafian