Inovasi Limbah Nanas: Kolaborasi Perguruan Tinggi Dorong Limbah Menjadi Produk Bernilai

M Ali Nurman • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Peserta pelatihan foto bersama tim dari Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia serta Universitas Lancang Kuning di sela-sela pelatihan pembuatan Nata de Pina dari kulit Nanas. (Pelita Indonesia) 
Peserta pelatihan foto bersama tim dari Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia serta Universitas Lancang Kuning di sela-sela pelatihan pembuatan Nata de Pina dari kulit Nanas. (Pelita Indonesia) 

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tim dosen Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia berkolaborasi dengan Universitas Lancang Kuning melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan pengolahan limbah nanas menjadi pupuk kompos dan Nata de Pina.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Yulvia Nora Marlim, M.Kom, yang beranggotakan Dr, Nicholas Renaladi, MM, Dr. Ir Acmah Tavip Junaedi, MM dan Vivin Jenika Putri, S.TP., M.Si. ini melibatkan dua mitra, yaitu UMKM KNS Restu dan UMKM Rimba Sari yang berada di Desa Kualu Nenas. kegiatan ini dilaksanakan 2 hari pada tanggal 30 Juli dan 1 Agustus 2026

Anggota tim, Dr Tavip mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam memanfaatkan limbah nanas yang selama ini belum dikelola secara optimal.

 Baca Juga: Dua Kali Pingsan di Lapangan, Gelandang Bayern Munchen Jamal Musiala: Kejang yang Dapat Diobati

"Limbah seperti daun, mahkota, bonggol, kulit, dan sisa buah nanas masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Melalui kegiatan ini, mitra diperkenalkan pada pemanfaatan limbah menjadi pupuk kompos, sementara kulit nanas dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan Nata de Pina," kata Tavip Rabu (19/7/2026).

Pada kegiatan pengolahan kompos, mitra mengikuti praktik mulai dari pemilahan limbah, pencacahan, pencampuran bahan hingga proses pengomposan. Proses tersebut didukung dengan penerapan mesin pencacah limbah nanas dan drum komposter. Penggunaan peralatan membantu memperkecil ukuran bahan dan mempermudah proses pengolahan sehingga limbah dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik untuk kegiatan pertanian.

Selain pengolahan kompos, UMKM KNS Restu dan Rimba Sari juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan kulit nanas menjadi Nata de Pina. Peserta mempraktikkan tahapan pengolahan mulai dari persiapan dan pengolahan kulit nanas, penyaringan, pembuatan media, proses fermentasi hingga pengolahan hasil fermentasi menjadi produk pangan.

 Baca Juga: Cincinnati Open 2026: Tak Terbendung, Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe Melaju ke Perempatfinal

"Inovasi ini membuka peluang bagi mitra untuk mengembangkan produk baru sekaligus meningkatkan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan," sebutnya.

Ketua tim pelaksana, Yulvia Nora Marlim, M.Kom., menyampaikan bahwa penerapan teknologi diarahkan agar masyarakat tidak lagi melihat limbah nanas hanya sebagai sisa produksi.

Limbah tersebut dapat menjadi sumber daya yang memiliki manfaat bagi pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi. Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada pemberian teknologi, tetapi disertai dengan pelatihan dan pendampingan agar mitra mampu menerapkannya secara mandiri.

Keterlibatan UMKM KNS Restu dan Rimba Sari menjadi bagian penting dalam kegiatan. Mitra terlibat langsung dalam praktik pengolahan, penggunaan peralatan, serta memberikan masukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan usaha mereka. Pendekatan ini diharapkan membuat teknologi yang diterapkan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat terus digunakan setelah kegiatan pengabdian selesai.

Baca Juga: Terancam Bahayakan Pengendara, Dishub Rohul Telusuri Pemilik Kabel Fiber Optik di Komplek Bina Praja

Kolaborasi antara Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia dan Universitas Lancang Kuning juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan pengetahuan dan teknologi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, pengembangan usaha nanas tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemanfaatan limbah dan diversifikasi produk. Pengolahan limbah menjadi kompos dan Nata de Pina merupakan salah satu langkah menuju penerapan ekonomi sirkular pada usaha berbasis nanas di Desa Kualu Nenas. Limbah hasil produksi dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian, sementara kulit nanas dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

 

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, diharapkan UMKM KNS Restu dan Rimba Sari semakin mampu memanfaatkan potensi nanas secara menyeluruh, mengurangi limbah, meningkatkan variasi produk, serta membuka peluang peningkatan pendapatan.

Penerapan teknologi yang disertai pemberdayaan masyarakat diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat produktivitas dan kemandirian UMKM berbasis komoditas lokal di Desa Kualu Nenas.

Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia dengan No Kontrak : 220/C3/DT.05.00/PM/2026 dan  kontrak turunan LLDIKTI No 42/LL17/BOPTN/PKM/2026 atas dukungan dan pendanaan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun anggaran 2026. Apresiasi juga disampaikan kepada Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia, P masyarakat dan pihak terkait yang telah berpartisipasi dan mendukung pelaksanaan kegiatan.(ali)

Editor : Edwar Yaman
Inovasi Limbah Nanas Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia perguruan tinggi kolaborasi unilak