PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dalam beberapa hari terakhir terutama saat pagi hari, kondisi kualitas udara di Pekanbaru sempat menunjukkan angka indeks PM 2,5 di atas 150 (masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat/berbahaya) akibat paparan kabut asap karhutla.
Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Provinsi Riau, dr Indra Yovi mengatakan, dengan kondisi tersebut aktivitas di luar rumah masih diperbolehkan, namun dengan memakai masker bedah biasa. “Hal ini perlu dilakukan sebagai proteksi saluran napas dari paparan kabut asap yang bisa menimbulkan keluhan sesak napas, batuk, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya, Rabu (19/8).
Lebih lanjut dikatakannya, dengan kondisi seperti sekarang ini, masyarakat juga diimbau untuk minum air putih yang cukup. Hal tersebut sangat diperlukan untuk menghindari dehidrasi dan tenggorokan kering. “Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi,” imbaunya.
Baca Juga: 38 Warga Silikuan Hulu Buka Porsi Haji Melalui BRK Syariah Pangkalan Kerinci
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau kelompok rentan terutama lansia dan orang-orang yang punya masalah atau penyakit paru dan saluran pernapasan sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah.
Kondisi udara yang menurun tanpa disadari berdampak langsung bagi kesehatan, khususnya kesehatan paru dan pernapasan. Dokter spesialis paru RS Awal Bros Panam, dr Fajar Agung Prayogo SpP menjelaskan, hal tersebut dikarenakan, normalnya kandungan oksigen di atmosfer itu hanya 21 persen.
Dengan ada yang kabut asap, udara Pekanbaru ini akan mengurangi persentase oksigen sehingga sangat rentan terhadap kelompok-kelompok tertentu. “Nah kelompok-kelompok tersebut adalah beberapa pasien yang sudah memiliki riwayat permasalahan di paru maupun pernapasan,’’ ujarnya.
Baca Juga: Ketua DPRD Riau Minta Pertamina Cari Solusi Konkret Antrean Solar di SPBU
‘’Seperti asma maupun penyakit saluran pernapasan yang lainnya ataupun penyakit jantung pembuluh darah anak-anak, orang usia lanjut, lansia, wanita hamil dan orang-orang yang merokok,” tambahnya.
Dampak atau efek dari paparan kabut asap ini bagi kesehatan paru dan pernapasan terbagi menjadi efek jangka panjang dan juga jangka pendek. “Untuk jangka pendek bisa dikategorikan lagi menjadi efek berat dan ringan. Kalau yang ringan seperti iritasi, keluhan pernapasan seperti batuk pilek yang bisa diobati dengan sendirinya,’’ ujarnya.
‘’Ataupun asien asma dan yang memiliki riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang akhirnya mengalami fase serangan yang harus mendapat perawatan dari fasiltias kesehatan seperti klinik maupun rumah sakit,” ungkapnya.
Baca Juga: Belasan Tahun Buron, Terpidana Korupsi Ditangkap di Aceh
Sedangkan efek jangka panjang sendiri bisa menimbulkan efek infeksi dan noninfeksi. Untuk efek infeksi bisa terjadi pnemonia yang diakibatkan paparan dari asap kabut asap yang terus-menerus terhadap saluran pernapasan maupun paru. Sehingga sistem kekebalan paru bisa turun dan bakteri-bakteri di udara dapat menginfeksi paru.
Efek lainnya ialah bisa terjadi penurunan fungsi paru yang sangat kronik. “Ini bisa terjadi pada pasien yang sebelumnya tidak ada riwayat asma atau PPOK, karena paparan dari asap tersebut yang berkepanjangan, akhirnya bisa menjadi asma atau menjadi PPOK,” lanjutnya.
Paparan asap yang terus-menerus dalam jangka panjang juga bisa meningkatkan risiko kanker paru serta meningkatkan risiko terjadi fibrosis paru atau suatu keadaan baru menjadi lebih kaku. Saat ini dikatakannya sudah banyak pasien yang datang dengan keluhan terkait paparan kabut asap.
Potensi munculnya asap masih besar terjadi. Pasalnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum padam di beberapa daerah Riau. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Indah DN menjelaskan, hasil pantauan pukul 16.00 WIB, hotspot (titik panas) di wilayah Sumatera masih cukup tinggi yaitu 617 titik, 60 di antaranya terdeteksi di Riau.
Baca Juga: Belasan Tahun Buron, Terpidana Korupsi Ditangkap di Aceh
Selain Riau, titik panas juga tersebar di berbagai daerah. Yakni Sumatera Selatan 231, Bangka Belitung 110, Jambi 83, Lampung 73, Aceh 40 , Bengkulu 10, Sumatera Barat 4, Kepulauan Riau 4, dan Sumatera Utara. “Titik panas di Provinsi Riau terdeteksi di Kabupaten Pelalawan dengan 47 titik. Disusul Indragiri Hulu 9 dan Indragiri Hilir 4,” jelasnya.
Sementara itu, Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera/Kementerian Kehutanan masih melakukan operasi pemadaman, Rabu (19/8).
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan operasi pemadaman dilakukan di wilayah kerja Daops Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat. Tim dikerahkan berdasarkan kondisi dan perkembangan masing-masing lokasi kebakaran. “Pemadaman masih dilaksanakan di sejumlah lokasi,” ujarnya.
Di wilayah Daops Pekanbaru, pemadaman dilakukan di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Kebakaran berada di area penggunaan lain (APL) dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 3,5 hektare (ha). Satu regu personel Manggala Agni diturunkan untuk melakukan penanganan.
Baca Juga: Medali Emas dari Siswa MAN 1 Pekanbaru untuk Indonesia
Tim Daops Pekanbaru juga melakukan pemadaman di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Kebakaran yang telah memasuki hari ketiga tersebut diperkirakan melanda sekitar 10 ha lahan. Satu regu personel dikerahkan ke lokasi.
“Untuk Daops Pekanbaru, personel melakukan operasi di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, dengan estimasi luasan 3,5 hektare, serta Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung, dengan estimasi 10 hektare,” ujar Ferdian.
Sementara itu, Daops Dumai menangani karhutla di Desa Pangkalan Libut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Kebakaran telah memasuki hari ketujuh dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 20 ha. Satu regu Manggala Agni diterjunkan dalam operasi tersebut.
Tim juga melaksanakan mopping up atau penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang berpotensi memicu kembali kebakaran. “Di Pangkalan Libut, Kecamatan Pinggir, tim melaksanakan mopping up setelah penanganan kebakaran yang sudah memasuki hari ketujuh,” jelasnya.
Baca Juga: EMP Bentu Perluas Produksi, Lifting Perdana Crude Oil Capai 5.500 Barel
Operasi juga dilakukan di wilayah Daops Siak melalui dukungan personel Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Daops Rengat. Sebanyak 13 personel ditugaskan untuk menangani kebakaran di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, yang telah memasuki hari pertama penanganan.
Sedangkan di wilayah kerja Daops Rengat, pemadaman difokuskan pada karhutla di Kelurahan Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Penanganan di lokasi tersebut dilakukan oleh dua regu dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 434,35 hektare.
Tim dikerahkan pada dua titik koordinat yang berada di kawasan kebakaran. “Di Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, estimasi luasan yang terbakar sekitar 434,35 hektare dan ditangani oleh dua regu,” kata Ferdian.
Baca Juga: Turun, Harga Kelapa Sawit Mitra Pekan Ini Jadi Rp3.884 per Kg
Ferdian menegaskan, pengerahan personel dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan sekaligus mencegah api meluas ke area lain. Kondisi setiap lokasi terus dipantau oleh tim untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Kami terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan sesuai perkembangan kondisi kebakaran. Personel dikerahkan untuk mengendalikan api dan mencegah perluasan kebakaran,” tuturnya.
Lahan Kosong di Simpang SKA Terbakar
Kebakaran di lahan kosong kembali melanda area hutan pohon jati dekat kawasan Mal SKA Pekanbaru sejak pukul 14.00 WIB, Rabu (19/8). Pantauan Riau Pos, di lokasi terlihat dari kejauhan, kobaran api dan asap hitam pekat membubung tinggi.
Kebakaran di lahan kosong yang dekat dengan pusat perekonomian Kota Pekanbaru ini membuat lokasi tersebut sempat memicu perhatian warga serta pengguna jalan saat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru melakukan pemadaman.
Baca Juga: Hari Pengayoman, Kemenkum Riau Teguhkan Transformasi Digital dan Sinergi
Operator Mobil BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Kota Pekanbaru Angel mengatakan tim berhail melakukan pemadaman dan pendinginan. Namun, akibat cuaca panas terik kobaran, api masih melebar dan menghabiskan hampir 1 hektare lahan.
“Sekarang api sudah padam. Kami masih lakukan proses pendinginan karena lahan di Pekanbaru juga masuk kategori gambut sehingga harus dilakukan pendinginan yang maksimal. Kami masih kewalahan mencari air karena parit yang ada di sekitar lokasi banyak yang mengering,” katanya.
Terpisah Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Pekanbaru Martin Manoluk menjelaskan, dugaan sementara kebakaran lahan kosong di Simpang Mal SKA tersebut akibat pembukaan lahan dengan cara dibakar. Namun dirinya masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak terkait.
Baca Juga: Dumm.. Plt Gubri Jatuhkan Bendera Merah, Tanda Jalur Sah Dilepas
“Kalau melihat posisinya yang ada di tengah kota, dugaan sementara ini sengaja dibakar. Tapi kita tunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian,” katanya. “Kita mengimbau masyarakat jangan membakar sampah sembarangan di dekat lahan kosong. Hubungi layanan darurat Pekanbaru Aman 112 jika terjadi kebakaran,” tambahnya.
Di Bengkalis, kondisi cuaca ekstrem dengan cuaca panas terik yang menyengat serta hawa udara yang panas sampai sore hari membuat kobaran api di Desa Tameran, Kecamatan Bengkalis kembali menyala, Rabu (19/8). Meski demikian, di beberapa titik yang terjadi di tiga kecamatan lain yakni Pinggir, Mandau dan Kecamatan Bengkalis sebelumnya sudah mulai terkendali dan petugas tinggal melakukan proses pendinginan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkalis, Arnizam mengatakan, di Desa Tameran sempat berhasil dikendalikan pada saat upacara bendera HUT ke-81 RI. “Ya, sebelumnya mulai terkendali, namun petugas darat pemadaman karhutla masih tetap turun ke lokasi melakukan upaya pendinginan,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Riau Raih Dua Penghargaan Dari Kementerian Hukum RI
Ia menyebutkan, dua lokasi yang masih dilakukan pendinginan berada di Kecamatan Pinggir, tepatnya di Desa Buluh Apo dan Desa Pangkalan Libut serta Kecamatan Mandau. Ia mengatakan, petugas gabungan yang dibantu melalui helikopeter water bombing sudah mampu melakukan pemadaman secara berkala.
Namun pihak petugas masih turun ke lokasi karena masih ada asap yang muncul dari bekas lahan yang terbakar. Arnizam menjelaskan, tim gabungan yang ada di Kecamatan Pinggir sampai saat ini masih turun di Desa Buluh Apo dan Pangkalan Libut karena masih mengeluarkan asap. Tapi untuk api dipermukaan sudah tidak muncul lagi.
“Saat ini tim gabungan kembalu fokus pada pemadaman api di Desa Tameran. Sedangkan di daerah lain sudah tidak muncul, namun masih ada beberapa titik yang tetap mengeluarkan asap sampai sore kemarin. Sehingga petugas masih diturunkan ke lapangan melakukan pendinginan di sana dan tetap siaga.
Ia mengatakan, untuk Desa Pangkalan Libut kecamatan Pinggir, luasan lahan terbakar sekitar 4 ha. Saat ini beberapa lahan bekas terbakar masih mengeluarkan asap yang masih perlu dilakukan pendinginan. Menurutnya, kondisi berbeda di lahan terbakar Kelurahan Pematang Pudu yang sudah berhasil dipadamkan sejak petang kemarin.
Baca Juga: Kemenkum Riau Lantik PAW MPD Notaris Siak, Perkuat Pengawasan dan Pembinaan
Petugas pemadaman saat ini sudah tidak melakukan kegiatan pendinginan dan pemadaman di sana. “Ya, untuk di Pematang Pudu sudah tidak ada kegiatan pemadaman dan pendinginan. Namun tim BPBD kita di Kecamatan Mandau masih terus melakukan pemantauan, memastikan api tidak kembali naik,” ujar Nizam.
Sedangkan Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar juga mengatakan, penanganan karhutla juga dilakukan di wilayah Kecamatan Bengkalis, tepatnya di Jalan Utama Gang Telon, Desa Temberan, petugas gabungan masih melaksanakan pemadaman dan pendinginan.
“Ya, kembali menyala. Lahan masyarakat yang terbakar diperkirakan mencapai lebih 2 hektare, dengan kondisi lahan berupa perkebunan masyarakat yang ditanami sawit, karet dan sagu serta memiliki karakteristik tanah gambut yang kering. Petugas menghadapi kendala berupa kondisi cuaca panas dan angin kencang serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi,” ujar AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Petugas melakukan quick response, koordinasi lintas instansi, pemetaan sumber air, pembagian personel ke sejumlah titik sebaran api serta upaya pemadaman dan pendinginan. Petugas juga melakukan pemantauan terhadap area yang berpotensi kembali terbakar.
Dari hasil penanganan, sebagian besar titik api telah berhasil dipadamkan. Namun, kondisi lahan gambut yang kering, angin kencang dan keterbatasan sumber air menyebabkan proses pemadaman harus dilakukan secara bertahap dan pada titik-titik yang memiliki akses sumber air.
“Kebakaran di lokasi tersebut diduga berasal dari aktivitas pembakaran tumpukan sampah oleh masyarakat. Petugas telah melakukan pemeriksaan terhadap lokasi dan mengamankan sisa tumpukan sampah yang diduga dibakar. Penyebab serta dugaan unsur pidana masih dalam proses penanganan dan penyelidikan lebih lanjut,” jelasnya.
Diguyur Hujan, Dua Karhutla di Inhil Padam
Karhutla yang terjadi di dua lokasi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) akhirnya berhasil dipadamkan. Hujan yang mengguyur wilayah tersebut turut membantu proses pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran. Dua lokasi tersebut di Desa Sanglar, Kecamatan Reteh, dan Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka.
Kalaksa BPBD Inhil R. Arliansyah, Rabu (19/8) mengatakan, kondisi terkini di kedua lokasi sudah padam. Petugas juga melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang kembali muncul. “Sudah padam. Sempat diguyur hujan sehingga membantu proses pemadaman,” kata R. Arliansyah.
Di Inhu Sisa Api Masih Timbulkan Asap
Karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) belum seutuhnya terkendali hingga pemadaman hari ke 17, Rabu (19/8). Namun kepala api yang sudah mencapai 434,35 ha itu sudah dapat terkendali.
Akibat belum padam total, tim gabungan masih akan melanjutkan pemadaman dengan pola pendinginan, Kamis (20/8) hari ini. Karena bara api masih tersisa di bagian bawah pohon dan gambut. “Belum padam total. Makanya kami masih akan melakukan pendinginan pada besok hari (hari ini, red),” ujar Kepala Daerah Operasional (KDOPS) Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Rabu (19/8).
Pemadaman yang dilakukan masih terkendala vegetasi padat. Selain itu terkendala sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran. Begitu juga dengan api atau yang bara yang dipadamkan berada di bawah batang pohon. “Akibat belum pada total, masih ada asap tipis,” terangnya.(sol/ayi/ksm/*2/kas)
Editor : Arif Oktafian