Perempuan Penenun Riau, Penjaga Warisan Songket di Tengah Perubahan Zaman 

Herianto Baserah • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:11 WIB
Salah seorang perempuan Riau saat melakukan aktivitas tenun songket, belum lama ini. (Muhammad Luthf Iznillah untuk Riau Pos)
Salah seorang perempuan Riau saat melakukan aktivitas tenun songket, belum lama ini. (Muhammad Luthfi Iznillah untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tenun songket bukan sekadar kain tradisional, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Melayu Riau. Di balik keindahan setiap helainya, ada ketekunan perempuan penenun yang selama bertahun-tahun menjaga keterampilan, pengetahuan, dan nilai budaya agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Gambaran itu terungkap dalam kajian “Perempuan dan Pemajuan Kebudayaan Tenun Songket: Kajian Multiperspektif di Daerah 3T dan Pusat Kebudayaan Melayu Riau” oleh Muhammad Luthfi Iznillah. Kajian dilakukan di Bengkalis, Siak, dan Pekanbaru dengan melibatkan 34 informan dari komunitas penenun, pelaku usaha, dan kelembagaan budaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesiana kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB) dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.

 Baca Juga: Hadir di Tepian Narosa, BRK Syariah Bawa Kemudahan Transaksi Digital untuk Festival Pacu Jalur 2026

Muhammad Luthfi Iznillah kepada Riau Pos Kamis (20/8) menyebutkan, bagi perempuan penenun, menenun memiliki arti luas: bagian kehidupan sehari-hari, sumber penghasilan keluarga, sekaligus cara mempertahankan identitas Melayu. Namun perjalanan tradisi ini tidak mudah. Regenerasi penenun menghadapi tantangan karena minat generasi muda terbatas dan persaingan dengan produk tekstil modern semakin kuat.

Di sisi lain, tidak semua penenun memahami utuh filosofi motif songket. Meski demikian tradisi terus bergerak mengikuti zaman melalui inovasi motif, warna, desain, dan penggunaan songket agar dekat dengan kebutuhan masyarakat kini.

Di balik proses produksi, masih ada persoalan posisi ekonomi perempuan. Mereka memegang peran penting menghasilkan songket, tetapi akses terhadap pemasaran, penentuan harga, branding, dan pengembangan usaha masih perlu diperkuat.

Baca Juga: Kejuaraan Motoprix Piala Wako Pekanbaru Meriah, Agung Dorong Balap Motor Digelar 3 Kali Setahun

Karena itu menjaga keberlanjutan songket tidak cukup hanya mempertahankan kain dan motif. Perempuan penenun perlu ditempatkan sebagai pelaku utama pemajuan kebudayaan sekaligus diberi ruang lebih besar untuk berkembang secara ekonomi.

Menjaga songket berarti menjaga pengetahuan, identitas, keterampilan, penghidupan, dan nilai-nilai Melayu yang diwariskan perempuan penenun. Penguatan akses pasar, dokumentasi pengetahuan budaya, pemahaman filosofi motif, pengembangan produk, serta pelibatan generasi muda menjadi kunci.

Dengan memperkuat perempuan sebagai penjaga sekaligus penggerak budaya, tenun songket Melayu Riau tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan tempatnya di tengah perubahan zaman.(nto/c)

Editor : Edwar Yaman
Perempuan Penenun Riau Warisan Songket Perubahan Zaman melayu riau