PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Jerebu semakin tebal menyerbu. Kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk, Senin (24/8). Kondisi tersebut terutama terlihat pada siang hingga sore hari. Konsentrasi partikel halus atau PM2,5 meningkat tajam dan masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara yang ditampilkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Pekanbaru, konsentrasi PM2,5 pada pukul 16.00 WIB mencapai 186,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut berada pada kategori Sangat Tidak Sehat, yang ditandai dengan indikator berwarna merah pada sistem pemantauan BMKG. Data ini menjadi rujukan kondisi kualitas udara Pekanbaru berdasarkan konsentrasi PM2,5 yang terpantau sepanjang Senin (24/8) kemarin.
Jika dilihat berdasarkan perjalanan kondisi udara sejak dini hari, kualitas udara Pekanbaru mengalami perubahan cukup signifikan. Pada rentang awal pemantauan sekitar pukul 03.00 WIB, kondisi udara berada pada level tidak sehat. Kondisi tersebut kemudian mengalami perubahan dan sempat masuk kategori sangat tidak sehat pada pagi hari.
Memasuki pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, kualitas udara tercatat berada secara konsisten pada kategori Sangat Tidak Sehat. Kondisi ini menunjukkan konsentrasi PM2,5 di udara berada pada level yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan polusi udara.
Baca Juga: Presiden: Tindak Tegas Korporasi Terlibat Karhutla
Setelah memburuk pada pagi hari, kondisi udara sempat mengalami perbaikan pada rentang pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Pada periode tersebut, indikator kualitas udara turun ke kategori Tidak Sehat atau berada pada zona kuning.
Namun, perbaikan tersebut tidak berlangsung hingga sore. Mulai sekitar pukul 14.00 WIB, konsentrasi PM2,5 kembali mengalami peningkatan. Tren tersebut terus berlanjut hingga pukul 16.00 WIB, ketika konsentrasi PM2,5 mencapai titik tertinggi dalam data yang ditampilkan, yakni 186,1 µg/m³.
Dengan demikian, sepanjang Senin tersebut terlihat pola kualitas udara yang berubah-ubah. Kondisi tidak sehat terjadi sejak dini hari, kemudian memburuk pada pagi hari, sempat membaik pada menjelang siang, sebelum kembali memburuk secara signifikan pada siang hingga sore hari.
Konsentrasi PM2,5 yang tinggi menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan udara dengan kualitas sangat tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Pekanbaru Ranti Kurniati menjelaskan hingga pukul 16.00 WIB, titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera masih tercatat cukup tinggi sebanyak 2.193. Terbanyak ada di Sumatera Selatan yakni 1.207. Disusul Riau sebanyak 389. Jumlah ini jauh lebih berkurang dari data BMKG sebelumnya yang mencapai 491 titik panas.
Ratusan titik panas di Riau tersebar di 12 kabupaten/kota. Yakni Pelalawan 153, Indragiri Hilir 140, Bengkalis 32, Indragiri Hulu 26, Kampar 12, Rokan Hilir 8, Rokan Hulu 6, Siak 6, Kepulauan Meranti 3, Pekanbaru 2, dan Kuantan Singingi 1.
Selain di Sumsel dan Riau, titik panas juga tersebar di Jambi 266, Lampung 138, Bangka Belitung 77, Kepulauan Riau 57, Bengkulu 19, Sumatera Utara 18, Sumatera Barat 13, dan Aceh 9. “Malam ini (kemarin, red) BMKG Pekanbaru mencatat jarak pandang di Pekanbaru hanya tersisa 2 kilometer (km), Rengat 2 kilometer, Pelalawan 5 kilometer, Tambang 3 kilometer. Semuanya diselimuti asap,” tegasnya.
Meski begitu, aktivitas di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru terpantau masih normal dan lancar. “Alhamdulillah, penerbangan sampai pagi ini (kemarin, red) masih berjalan dengan normal. Jarak pandang masih aman,” ujar General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, kemarin.
Adapun jarak pandang pagi ini tercatat berada di kisaran 2.200 hingga 2.700 meter. Sementara jarak pandang minimum untuk operasional penerbangan berada pada kisaran 800 meter hingga 1.000 meter, tergantung jenis pesawat, kesiapan masing-masing maskapai, serta kategori instrumen navigasi yang digunakan.
Baca Juga: 447 Titik Panas Terpantau di Riau, Terbanyak di Kabupaten Pelalawan, Kualitas Udara Berbahaya
Meski kondisi saat ini masih aman, pihak bandara tetap melakukan pemantauan terhadap jarak pandang. Sebab, kondisi tersebut dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin. “Jarak pandang masih kita pantau karena sangat tergantung arah angin,” lanjutnya.
Achmad berharap kondisi cuaca tetap mendukung sehingga seluruh aktivitas penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dapat berjalan lancar dan aman. “Semoga Allah SWT memberikan kelancaran dan memberikan keselamatan buat kita semua,” tuturnya.(ayi/azr)
Editor : Arif Oktafian