PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Provinsi Riau mengalami lonjakan polusi udara parah akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pun melonjak. Dalam sepekan terakhir, tercatat 1.960 kasus ditemukan di 10 kabupaten/kota.
Rabu (26/8), pukul 20. 00 WIB, sebanyak 10 kabupaten/kota indeks udaranya di atas 100. Kondisi ini berisiko terhadap kesehatan. Data IQAir (https://www.iqair.com), penyedia data polusi udara real-time paling populer di dunia memaparkan, dari 10 daerah tersebut, Pelalawan paling parah dengan indeks 219 masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Selanjutnya, ada empat daerah masuk kategori tidak sehat. Yakni Indragiri Hulu (156), Kampar (186), Pekanbaru (181), Kuantan Singingi (155), dan Bengkalis. Sisanya, empat daerah lagi masuk kategori Tidak Sehat bagi Kelompok sensitif, yakni Rokan Hilir (146), Indragiri Hilir (137), Siak (133), dan Dumai (105). Hanya Rokan Hulu masuk kategori Sedang dengan indeks 63. Sementara Kepulauan Meranti tidak terdata oleh IQAir.
Baca Juga: Kemenkum Riau Gandeng LAN RI, Perkuat Penyusunan Policy Brief Berbasis Bukti
Status udara di Pelalawan, mengalami penurunan dibanding sehari sebelumnya yang terdeteksi dengan kategori Berbahaya. Indikator sebelumnya berwarna hitam menjadi indikator warna merah pada alat pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan, kemarin.
“Ya, kualitas udara kita (Pelalawan) turun ke level sangat tidak sehat dari sehari sebelumnya di level berbahaya,” terang Kepala DLH Pelalawan, Eko Novitra kepada Riau Pos, Rabu (26/8). ‘’Meski turun, namun kualitas udara tetap masih kurang baik bagi kesehatan masyarakat,’’ tambah Kabid Amdal DLH Pelalawan.
“Dengan kondisi ini, kami tetap mengimbau warga agar tidak ke luar rumah, khususnya anak-anak ataupun siswa sekolah. Tapi tak mungkin masyarakat tak beraktivitas, jadi diharuskan menggunakan masker saat keluar rumah,” ujar Eko Novitra.
Baca Juga: Naik, Harga Kelapa Sawit Mitra Pekan Ini Jadi Rp3.945 per Kg
Di Pekanbaru, meski level Berbahaya turun menjadi Tidak Sehat, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Agung meminta warga yang tidak memiliki keperluan mendesak agar tetap berada di dalam rumah.
Sementara bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. “Karena kondisi saat ini dari BMKG dan ISPU menunjukkan kualitas udara berbahaya,” kata Agung, Rabu (26/8).
Kondisi udara tak sehat ini membuat kasus ISPA melonjak. Selama kurun waktu 19-26 Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Riau mencatat jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 1.960 kasus. “Berdasarkan hasil rekapan kita terhitung 19-26 Agustus, terdapat total kasus ISPA sebanyak 1960 kasus,” ujar Kepala (Dsikes) Riau Zulkifli, kemarin.
Ribuan kasus tersebut, dikatakan Zulkifli, tersebar di 10 kabupaten/kota, dengan penderita terbanyak berada di Pekanbaru. Yakni 563 kasus dan Pelalawan sebanyak 535 kasus. “Kemudian Siak sebanyak 198 kasus, Kampar 95 kasus, Kuantan Singingi 181 kasus, Rokan Hulu 114 kasus, dan Rokan Hilir 68 kasus,” ujarnya.
Baca Juga: Bantu Pemadaman Karhutla di Kerumutan, Tim Gabungan Kerahkan Alat Berat
Kemudian disusul Bengkalis sebanyak 51 kasus, Indragiri Hulu sebanyak 28 kasus, dan Kota Dumai sebanyak 27 kasus. Terhadap persoalan ini, Zulkifli meminta seluruh fasilitas kesehatan dapat melakukan promosi kesehatan berupa edukasi dampak polusi udara dan upaya mengurangi bahaya polusi dengan menerapkan protokol kesehatan.
Mulai dari kegiatan memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau situs website, mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, tempat umum saat polusi udara tinggi.
“Kemudian kita minta juga tenaga kesehatan agar mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menggunakan penjernih udara dalam ruangan, menghindari sumber polusi dan asap rokok, menggunakan masker saat polusi udara tinggi, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan,” imbaunya.
Baca Juga: Kagama Riau Keluarkan Seruan dan Rekomendasi
Kemudian juga, pihaknya mengimbau untuk meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia,” katanya.
Selain itu juga perlu memastikan ketersediaan masker dalam melindungi diri dari polusi udara, khususnya masker yang dapat menyaring polusi udara. “Tenaga kesehatan kita di faskes diminta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan,” tuturnya.(amn/ilo/ali/sol/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian