
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kehadiran Artificial Intellegence (AI) membawa kemudahan bagi kehidupan saat ini. Tak terkecuali bagi dunia jurnalistik. Perkembangan AI memberikan kemudahan dalam mencari, mengolah dan menyajikan informasi.
Meski demikian, jurnalis tetap dituntut menjaga fakta sebagai fondasi utama pemberitaan. Hal itu dikatakan oleh Bendahara Umum AMSI Nasional, Gaib Maruto Sigit.
Menurutnya perkembangan jurnalisme tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Bahkan, perkembangan teknologi sering kali bergerak lebih cepat dari kemampuan media dalam mengantisipasinya.
Baca Juga: Karyawan Riau Pos Mustafa Alfa Edison Meninggal Dunia di Usia 54 Tahun
"Perkembangan jurnalisme tidak bisa berdiri sendiri, dia akan ikut perkembangan teknologi, bahkan teknologi lebih dulu dari yang kita pikirkan," ujar Gaib dalam workshop 'Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Produksi Konten Multimedia' yang digelar AMSI Riau bersama APHI Komda Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).
Menurut Gaib, kondisi tersebut membuat media harus terus bertransformasi. AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang dapat membantu jurnalis bekerja lebih baik.
"Tak semua media punya kemampuan itu dan AI membuat kerja kita lebih berat, tapi bukan berarti AI jadi musuh kita, tapi beri bantuan kita jadi lebih baik," ujarnya.
Baca Juga: Kasus ISPA Bertambah 101 Orang, Belum Ada yang Rawat Inap
Ia menilai jurnalis perlu memahami dan memanfaatkan AI karena teknologi tersebut sudah menjadi bagian dari ekosistem media.
"Ada istilah jurnalis tanpa AI akan kalah dengan jurnalis paham AI. AI adalah pilihan untuk kita dan tak bisa kita tolak dan harus diterima," katanya.
Gaib menegaskan, AI sudah berada di depan mata. Media yang tidak mulai beradaptasi dengan teknologi tersebut berisiko tertinggal.
"Bagi media AI ini sudah di depan mata dan kalau nggak kita pakai akan tertinggal. Kita yang mengatur AI, bukan sebaliknya," tegasnya.
Baca Juga: Semangat Persatuan Jaga Budaya Bangkitkan Ekonomi MasyarakatNamun, ia mengingatkan satu hal yang tidak boleh berubah, yakni fakta. AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi tidak dapat menggantikan proses jurnalistik dalam menemukan dan memastikan fakta.
"AI tak bisa meng-create fakta, fakta tetap ada pada kita, fakta itu kita yang buat dan AI olah fakta jadi luar biasa," ujarnya.
Menurutnya, AI kini juga mampu membantu masyarakat maupun jurnalis dalam mencari dan mengumpulkan informasi. Berbagai informasi dari media mainstream dapat dirangkum dan disajikan kembali sehingga memudahkan seseorang memperoleh gambaran awal mengenai suatu persoalan.
"Sekarang kita cari info di AI, itu sudah dirangkum semua, mengumpulkan informasi media mainstream dan menggabungkan dengan otak mereka. Karena itu penting buat kita jurnalis," katanya.
Meski demikian, Gaib menekankan AI tetap memiliki keterbatasan. Teknologi tersebut tidak bisa menggantikan jurnalis untuk turun langsung ke lapangan, melakukan wawancara, mengecek kondisi dan memastikan sebuah informasi benar-benar sesuai fakta.
"AI tak bisa turun ke lapangan, makanya kita yang turun. Faktanya itu dari kita," ujarnya.
Baca Juga: Capella Honda Riau Bagikan Tips Cari Aman Berkendara
Gaib juga mengingatkan adanya risiko ketika media tidak menjalankan proses jurnalistik dengan baik. Kesalahan yang diberitakan media dapat kembali muncul ketika informasi tersebut kemudian diproses oleh sistem AI.
"Kalau medianya salah memberitakan, maka AI akan membaca kesalahan semu itu. Ketika orang cari, itu yang keluar, yang salah," katanya.
Karena itu, keberadaan media yang kredibel menjadi semakin penting di tengah perkembangan AI. Media tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga harus mampu menyediakan informasi yang terpercaya dan terbebas dari hoaks.
"Makanya media mainstream berikan fakta, bukan bohong hoaks itu menjadi penting. Tak bisa semua AI benar atau salah,” tegasnya.
Menurut Gaib, media yang mampu menjaga kualitas informasi akan memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem informasi yang sehat. Informasi yang tumbuh dari proses jurnalistik yang benar dan terpercaya pada akhirnya juga akan memberikan manfaat lebih luas, termasuk bagi dunia usaha.
“Bisa tumbuh, berikan informasi terpercaya dan antihoaks, nantinya ini akan berguna bagi dunia usaha,” ujarnya.
Ia menilai sinergi antara dunia usaha dan jurnalisme menjadi semakin penting. Dunia usaha membutuhkan informasi yang akurat untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, sementara media membutuhkan sumber informasi yang kredibel untuk menghasilkan pemberitaan berkualitas.
"Kami sangat mengapresiasi APHI untuk kegiatan ini,” katanya.
Di sisi lain, Gaib mengungkapkan media saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan pola konsumsi informasi masyarakat dan dominasi platform digital.
"Media hadapi tantangan berat, 80 persen dikuasai platform, ada YouTube, TikTok, Instagram. Kenapa ke platform yang tidak produksi berita? 20 persen diperebutkan media, itu problemnya," jelasnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan bagi media untuk tetap relevan. Media tidak cukup hanya memproduksi berita, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan teknologi, memahami pola distribusi konten dan memanfaatkan AI tanpa kehilangan jati diri jurnalistik.
Dengan demikian, teknologi AI diharapkan tidak hanya membuat produksi konten menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi juga mendorong media menghasilkan informasi yang lebih berkualitas, terpercaya dan bertanggung jawab.
"Pada akhirnya, AI dapat membantu mengolah fakta, tetapi jurnalis tetap menjadi pihak yang harus menemukan, memverifikasi dan mempertanggungjawabkan fakta tersebut," pungkasnya.(azr)
Editor : Edwar Yaman