PEKANBARU (RIAU lPOS.CO) – Yayasan Abdurrab mengelar syukuran milad ke-32 bersama Universitas Abdurrab milad ke-21, SMK Abdurrab milad ke-32, Abdurrab Islamic School (AIS) milad ke-14 di Susiana Tabrani Convention Hall (STCH), Jumat (28/8/2026).
Momen ini juga diisi syukuran milad Pembina Yayasan Abdurrab Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd, talkshow bahaya dampak kabut asap dan peresmian Klinik Darurat Dampak Karhutla Riau sebagai fasilitas pertolongan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Turut hadir Ketua Yayasan Abdurrab Dr. Ruza Prima Rustam, SpOG, Rektor Universitas Abdurrab, Prof. Susi Endrini, S.Si., M.Sc, wakil rektor, dekan, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, kepala sekolah SMP, SMA, dan SMK Abdurrab.
Baca Juga: Akhir Pekan, Bapenda Pekanbaru Tetap Buka Layanan PBB
"Selama lebih dari tiga dekade, Yayasan Abdurrab telah melewati berbagai tantangan dan perubahan zaman. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang dalam membangun institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Susiana Tabrani.
Dia menyampaikan rasa syukur atas terus berkembang institusi pendidikan di bawah naungan Yayasan Abdurrab dan memberikan kontribusi melalui berbagai bidang, khususnya pendidikan. Perkembangan ini harus selalu diiringi dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi utama Yayasan Abdurrab.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus yayasan, pimpinan dan civitas akademika Universitas Abdurrab, para guru, tenaga kependidikan, siswa serta mahasiswa yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Yayasan Abdurrab.
Baca Juga: Riau Dapat Perhatian Khusus Terkait Karhutla
Rektor Universitas Abdurrab, Prof. Susi Endrini, S.Si., M.Sc., Ph.D menilai perjalanan 32 tahun Yayasan Abdurrab dan 21 tahun Universitas Abdurrab merupakan proses panjang yang dibangun melalui perjuangan, dedikasi dan komitmen seluruh keluarga besar Abdurrab.
Menurutnya, seluruh capaian yang diraih hingga saat ini tidak terlepas dari konsistensi dalam mengimplementasikan nilai utama yang menjadi identitas institusi, yakni Rabbani, Amanah dan Beradab (RAB).
“Perjalanan ini bukan waktu yang singkat. Seluruh capaian ini merupakan manifestasi dari perjuangan, dedikasi serta komitmen yang konsisten dalam menginternalisasi core values kita, Rabbani, Amanah dan Beradab,” ujarnya.
Baca Juga: Salurkan Bantuan Anak Stunting, Plt Ketua TP PKK Hj Muniroh Berharap Kuansing Zero Persen
Rektor memaparkan memasuki tantangan global dan regional yang semakin kompleks, Universitas Abdurrab berkomitmen untuk tidak hanya berperan sebagai institusi akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) berbasis konsep Impactful Campus.
Melalui konsep tersebut, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari sejauh mana riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat mampu memberikan dampak sosial dan lingkungan secara nyata.
Salah satu bentuk implementasinya dilakukan melalui gerakan “Riau Merdeka Asap” yang mengoptimalkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara proaktif dan terukur.
Program tersebut mencakup edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat terkait bahaya paparan polusi udara, pengoperasian klinik darurat asap dengan mengintegrasikan kepakaran medis dan fasilitas kampus, serta berbagai bentuk solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Selain memperkuat kiprah sosial, Universitas Abdurrab juga terus melakukan akselerasi di bidang akademik. Kinerja riset, publikasi ilmiah, inovasi dan rekognisi program studi terus didorong agar semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Peningkatan capaian tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap Universitas Abdurrab. Ke depan, Universitas Abdurrab menargetkan akselerasi yang lebih kuat menuju reputasi internasional.
Resmikan Klinik Darurat Karhutla
Universitas Abdurrab (Univrab) kembali melakukan aksi nyata dalam upaya penanganan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau. Aksi nyata ini diwujudkan dengan mendirikan Klinik Darurat Dampak Karhutla Riau sebagai fasilitas pertolongan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap. Klinik yang terletak di Kampus 2 Universitas Abdurrab, Jalan Bakti, Pekanbaru ini diresmikan oleh Pembina Yayasan Abdurrab, Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd didampingi Rektor Universitas Abdurrab, Rektor Universitas Abdurrab Prof. Susi Endrini, S.Si., M.Sc., Ph.D, Jumat (28/8/2026)
Pembina Yayasan Abdurrab, Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd, mengatakan Klinik Darurat Asap menjadi bagian dari Gerakan Riau Merdeka Asap sekaligus bentuk kepedulian Universitas Abdurrab terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap. Klinik tersebut secara khusus disiapkan untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang mengalami sesak napas akibat paparan kabut asap.
“Kami ingin universitas Abdurrab bisa memberikan manfaat, apalagi saat ini masyarakat sedang menghadapi musibah. Karena itu kami menjanjikan ruangan untuk dijadikan klinik darurat,” ujar Susiana.
Baca Juga: Dampak Kabut Asap Sentuh Level Berbahaya, Polisi Tetapkan 40 Tersangka
Menurutnya, fasilitas yang disiapkan di klinik darurat tersebut cukup lengkap untuk memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat yang membutuhkan. Di antaranya tersedia nebulizer (nebu), oksigen serta sejumlah peralatan yang diperuntukkan bagi pasien, termasuk pasien lanjut usia.
Universitas Abdurrab juga menyiagakan dua bed serta dua tabung oksigen di klinik tersebut. Masyarakat yang membutuhkan layanan oksigen dapat memperolehnya secara gratis.
“Kami siapkan oksigen, semuanya gratis. Ini dari dana CSR alokasi khusus dari Yayasan Abdurrab. Kami juga menyiapkan petugas kesehatan yang standby di sana,” jelasnya.
Klinik Darurat Dampak Karhutla Riau tersebut beroperasi Senin hingga Jumat, pukul 09.00 sampai 16.00 WIB.
Mengancam Paru-paru Hingga Otak Anak
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat. Mulai dari gangguan pernapasan, kesehatan mata, hingga potensi dampak paparan polusi udara terhadap perkembangan otak, terutama pada anak-anak.
"Salah satu ancaman utama dari kabut asap adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Sebanyak 80 sampai 90 persen asap didominasi PM2.5. Partikel ini menyerang langsung paru-paru dan dapat mengganggu sistem pernapasan,” papar dosen FK Univrab Dr. dr. Uly Astuti Siregar, M.Biomed pada talkshow dampak karhutla di STCH, kemarin.
Uly mengingatkan, dampak paparan asap tidak selalu langsung dirasakan masyarakat. Paparan berulang dalam jangka panjang perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Baca Juga: Padam di Sungai Guntung Hilir, Menyala ke Desa Kuantan Babu, Karhutla di Inhu Masih Terjadi
“Efek bahaya dari kabut asap yang dihirup memang tidak terasa saat ini, tetapi dampaknya dalam jangka panjang bisa sangat terasa. Kabut asap bukan hanya asap, tetapi ada partikel yang berbahaya,” katanya.
Talkshow juga menghadirkan dr. Feriandri Utomo, M.Biomed, serta dr. Nur Afrainin Syah, M.Med.Ed., PhD, Sp.KKLP, Subsp. FOMC. dr. Feriandri Utomo mengangkat sisi lain dari dampak karhutla yang masih jarang mendapat perhatian. Yakni potensi pengaruh polusi udara terhadap kesehatan otak. Partikel polusi berukuran sangat kecil tidak hanya berpotensi mengganggu sistem pernapasan, tetapi juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan otak.
Ia menggambarkan buruknya kualitas udara yang dapat terjadi ketika karhutla melanda Riau. Menurutnya, kondisi kualitas udara di Pekanbaru pernah mencapai level sangat buruk saat karhutla besar terjadi.
“Pada 2019, saat karhutla, angka kualitas udara di Pekanbaru bisa mencapai 500. Sekarang ketika terjadi karhutla bisa berada di kisaran 100 hingga 200,” jelasnya.
Feriandri mengatakan, sejumlah penelitian eksperimental menunjukkan adanya kemungkinan partikel polusi masuk melalui saluran penciuman dan mencapai jaringan otak. Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian adalah stres oksidatif, ketika radikal bebas dapat memicu kerusakan pada sel.
Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap paparan polusi udara. Sistem pertahanan tubuh mereka masih berkembang dan frekuensi pernapasan anak relatif lebih tinggi.
Sementara itu, Dekan FK Abdurrab, dr. Nur Afrainin Syah menyoroti dampak kabut asap terhadap berbagai kelompok masyarakat. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis.
Menurutnya, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD), serta masyarakat dengan penyakit kronis lainnya.
“Kita perlu waspada,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau kualitas udara dan mengurangi paparan ketika kondisi udara memburuk.***
Editor : Edwar Yaman