PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hotspot atau titik panas di Pulau Sumatera masih tinggi. Pada Jumat (28/8), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi sebanyak 1.339 titik panas. Prakirawan BMKG Pekanbaru Mari Frystine mengatakan, titik panas tersebut tersebar di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 883, yang terbanyak di Sumatera.
Diikuti Jambi 113, Riau 174, Lampung 72, Bangka Belitung 71, Aceh 13, Sumatera Utara 5, Kepulauan Riau 4, Bengkulu 2, dan Sumatera Barat 2.
Di Riau, titik panas sedikit meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang terdeteksi 171 titik panas dan terakhir tercatat 173. Kabupaten Pelalawan masih mendominasi dengan 90 titik. Disusul Indragiri Hilir (Inhil) 45, Bengkalis 12, Siak 11, Indragiri Hulu (Inhu) 5, Kuantan Singingi (Kuansing), Rokan Hilir (Rohil) 3, Rokan Hulu (Rohul) 2, dan Dumai 1.
“Sejumlah daerah di Riau juga masih diselimuti kabut asap, dengan jarak pandang yang terbatas yaitu sekitar 3 kilometer (km) di Pekanbaru, Rengat (Inhu, red) 5 kilometer, Pelalawan 4 kilometer, dan Tambang (Kampar, red) 5 kilometer,” jelasnya.
Baca Juga: Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat, Karhutla Riau Masih Membara
Kualitas udara di Pekanbaru juga masih bertahan di kategori Tidak Sehat.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, kualitas udara Pekanbaru mengalami fluktuasi sepanjang Jumat (28/8) terpantau terjadi lonjakan Konsentrasi PM2.5 sejak pagi hingga petang. Dari yang sebelumnya berada di kategori sedang, kemudian meningkat ke kategori Tidak Sehat.
Terpantau sejak pukul 12.00 WIB, konsentrasi partikulat (PM2.5) di Pekanbaru menembus 60.8 µg/m3. di kategori Tidak Sehat. Kondisi ini semakin memburuk pada pukul 17.00 WIB. Konsentrasi PM2.5 melonjak hingga 145 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut membuat kualitas udara Pekanbaru masuk kategori tidak sehat.
Baca Juga: Riau Dapat Perhatian Khusus Terkait Karhutla
Konsentrasi PM2,5 yang tinggi menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan udara dengan kualitas sangat tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Dapat Perhatian Khusus Kemenhut
Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia, Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Jumat (28/8). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat kondisi terkini proses pendinginan yang masih dilakukan oleh tim gabungan di lapangan.
Menhut RI Raja Juli mengatakan Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus pemerintah dalam penanganan karhutla. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Riau yang memiliki hamparan lahan gambut sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih serius dan tidak cukup hanya dengan memadamkan api di permukaan.
“Riau menjadi salah satu provinsi prioritas karena kita lihat bersama tanah yang ada di sini merupakan tanah gambut. Pemadaman di tanah gambut ini tidak mudah sehingga diperlukan proses pendinginan seperti sekarang ini,” ujarnya, kemarin.
Dijelaskannya, asap yang masih muncul menjadi salah satu indikasi bahwa proses pendinginan harus terus dilakukan. Hal tersebut berguna untuk mencegah munculnya kembali titik api di bawah permukaan gambut. “Kalau dilihat, ini sudah tinggal asap. Tetapi jika tidak dilakukan pendinginan, bisa muncul kapan saja. Makanya, saya minta supaya semuanya tetap waspada,” jelasnya.
Raja Juli juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla di kawasan tersebut. Menurutnya, upaya pengendalian kebakaran membutuhkan kerja bersama karena karakter lahan gambut membuat proses pemadaman jauh lebih ekstra.
Ia menegaskan, penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat serta korporasi yang beraktivitas di sekitar kawasan rawan kebakaran.
Pencegahan harus dilakukan sejak dini agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.”Jadi sekali lagi, ini pekerjaan pemadaman yang berat sekali. Sehingga saya ingatkan kepada masyarakat ataupun korporasi yang masih bermain api mohon dihentikan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli juga menyoroti pentingnya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti menyebabkan atau melakukan pembakaran lahan. Ia menyebut langkah hukum harus berjalan beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Disampaikan Pak Kapolda sudah ada satu tersangka untuk daerah sini. Ya tetap seperti yang tadi sudah saya sampaikan ya, perintah Pak Presiden penegakan hukum harus jelas dan dilakukan tanpa pandang bulu,” terangnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto menuturkan keberhasilan penanganan karhutla tidak dapat dilekatkan hanya kepada satu institusi. Hasil yang dicapai merupakan buah dari keterlibatan seluruh unsur termasuk masyarakat. Sehingga semangat gotong royong harus terus dipertahankan dan diperkuat.
“Keberhasilan ini bukanlah milik perorangan atau bukan hanya keberhasilan TNI, Polri, dan pemerintah saja. Melainkan keberhasilan kita bersama seluruh elemen masyarakat Riau. Gotong royong merupakan hal paling mendasar dalam penanganan Karhutla di Riau,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau saat ini dapat mengatasi dampak kesehatan akibat kabut asap dapat tertangani dengan baik. “Dari data yang dirangkum Diskes Riau, mulai 19-27 Agustus, terdapat 3.293 kasus ISPA di Riau. Dengan kasus paling banyak ditemukan pada kemarin 27 Agustus yaitu 1.333 kasus. Angka ini meliputi penyakit asma, influenza dan lainnya,” kata SF Hariyanto.
SF Hariyanto menyebutkan, dari data tersebut, kasus terbanyak ditemukan di Kota Pekanbaru dengan 904. Disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak 650 kasus dan Kampar 361 kasus. “Kami memastikan bahwa ini dapat tertangani dengan baik. Terbukti dengan tidak adanya masyarakat yang harus dirawat atau membutuhkan rujukan ke rumah sakit. Semua pasien yang datang ke puskesmas, berkonsultasi, mendapatkan obat lalu kembali ke rumah,” ujarnya.
Pihaknya juga telah memerintahkan Dinas Kesehatan Riau untuk melakukan koordinasi dengan kabupaten kota dalam mencegah dampak kabut asap dan segera mengatasi permasalahan kesehatan akibat kabut asap. “Kita minta Diskes Riau koordinasi dengan daerah. Pastikan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjut melakukan penanganan terhadap keluhan kesehatan masyarakat akibat dampak kabut asap,” kata SF Hariyanto.
Dirinya juga meminta daerah untuk melakukan pemantauan ketersediaan logistik di FKTP dan FKTL serta menyiapkan kebutuhan logistik dan obat-obatan, terutama masker dan mendistribusikan kepada masyarakat. “Dan juga untuk menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan Emergency Medical Team (EMT) di daerah. Kami juga memastikan dapat memobilisasi tenaga cadangan kesehatan apabila dibutuhkan,” kata SF Hariyanto.
Kemudian, Plt Gubernur Riau juga meminta daerah untuk terus melakukan pemantauan perkembangan permasalahan kesehatan akibat karhutla, menyiapkan rumah singgah atau rumah mobil oksigen.
“Jika sudah ditetapkannya status siaga darurat bencana karhutla, maka seluruh upaya penanggulangan bencana dilaksanakan secara terkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pos Kesehatan dapat didirikan berdampingan dengan Posko BPBD di kabupaten kota,” ujarnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, terhitung mulai 1 Januari hingga 27 Agustus 2026 total luasan karhutla mencapai 16.474,15 hektare. “Dari data yang dihimpun dari 1 Januari hingga kemarin, terdapat total 16 ribu lebih luasan karhutla,” katanya.
Puskesmas Buka Jam Layanan Tambahan
Masih pekatnya kabut asap membuat sejumlah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) membuka layanan jam tambahan, Kamis (27/8). Salah satunya di Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Marpoyan Damai. Di Puskesmas ini masyarakat tetap bisa berobat meskipun jam operasional yang seharusnya tutup kini dilakukan perpanjangan.
Kepala Puskesmas RI Simpang Tiga Sri Elfida Basyar mengatakan, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho meminta seluruh puskesmas di Pekanbaru untuk menjadi posko utama terkait korban bencana asap. Puskesmas yang biasanya tutup pada hari libur atau tanggal merah diminta tetap beroperasi selama kondisi kabut asap masih mengancam kesehatan warga.
“Sesuai instruksi kami sudah menyiapkan sejumlah petugas kesehatan dan obat-obatan yang juga akan ditambahkan oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru,” katanya. Meskipun demikian selama sepekan terakhir belum terlihat adanya lonjakan terhadap kasus ISPA di Puskesmas Simpang Tiga.
“Belum ada peningkatan jumlah kasus ispa akibat kabut asap yang terjadi di Pekanbaru. Meksipun begitu kami tetap mengimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah dan membatasi aktifitas diluar ruangan. Jika terpaksa gunakan masker. Dan jika mengalami gangguan kesehatan segera datang ke faskes atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan layanan kesehatan,” tegasnya.
Di Kuansing, ISPA masih terus bertambah. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kuansing pada Kamis (27/8) sore bertambah 108 orang. Sebanyak 48 orang menyerang kelompok laki-laki dan 60 orang pria. Dari jumlah itu, kelompok balita sebanyak 21 orang, anak 13 orang, remaja 14 orang, dewasa 52 orang dan Lansia sembilan orang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kuansing Aswandi SKM melalui Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Helma Muliani menjelaskan, 108 orang yang terkena ISPA itu menyebar di hampir semua kecamatan. “Per tanggal 27 Agustus 2026 bertambah 108 kasus,” ujar Helma Muliani, Jumat (28/8).
Karhutla di Inhu Masih Terjadi
Tim gabungan masih harus berjibaku memadamkan karhutla dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Kali ini, tim gabungan berupaya melakukan pemadaman yang terjadi di Desa Kuantan Babu Kecamatan Rengat. Karhutla ini merupakan rembesan atas karhutla yang terjadi di Desa Sungai Guntung Hilir.
“Posisi api aktif sudah termonitor dan masuk ke wilayah Desa Kuantan Babu Kecamatan Rengat,” ujar Kepala DOPS Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Jumat (28/8). “Luas lahan yang terbakar di Desa Kuantan Babu masih dalam perhitungan,” ungkapnya.
Di Kampar juga demikian. BPBD bersama satgas gabungan terus melakukan penanganan di Kecamatan Tambang. Hingga Jumat (28/8) pukul 18.00 WIB, dua titik kebakaran lahan di wilayah tersebut dilaporkan sudah padam, namun masih mengeluarkan asap.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menjelaskan, kebakaran pertama terjadi di Jalan Keluarga, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang. Penanganan telah memasuki hari keenam.
“Api sudah padam, namun masih berasap. Tim di lapangan terus melakukan penyekatan, pendinginan dan pemblokingan di area lokasi untuk memastikan tidak terjadi penyebaran kembali,” jelas Adi Candra Lukita.
Sementara itu, kebakaran lahan kedua terjadi di Jalan Manunggal, Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang. “Untuk lokasi di Jalan Manunggal, kondisi api juga sudah padam dan masih berasap. Satgas darat gabungan melakukan penyekatan, pendinginan serta pemblokingan di area lokasi,” katanya.
Di Kuantan Singingi (Kuansing), empat hektare lahan terbakar di wilayah kawasan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling di Desa Sungai Paku Kecamatan Singingi Hilir. Kalaksa BPBD Kuansing lewat Kabid Penanggulangan dan Kesiapsiagaan Bencana Koko Mahyudi menjelaskan, dari laporan Camat Singingi Hilir, lokasi kebakaran jauh di bagian dalam hutan, tidak ada akses mobil yang bisa dilalui.
Dari informasi, api sudah jauh mengecil dan sebagian mulai padam. Untuk penyebab terjadinya kebakaran, Koko Mahyudi menyebutkan masih dalam penyelidikan. Kawasan hutan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling masuk dalam wilayah Kabupaten Kuansing dan Kampar. Sehingga sejauh ini belum bisa dipastikan apakah pelaku masuk lewat Desa Sungai Paku atau dari arah Lipat Kain Kampar.
Di Rokan Hilir (Rohil), Kalaksa BPBD Rohil H Syafnurizal SE mengatakan berdasarkan pemantauan satelit SPONGI, saat ini terdeteksi dua titik di wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika). Syafnurizal menyebutkan, kedua titik tersebut masih dalam penanganan petugas di lapangan.
Tim terus melakukan upaya pemadaman untuk memastikan api tidak kembali meluas. “Untuk hari ini (kemarin, red) berdasarkan pantauan SPONGI ada dua titik di daerah Palika. Rekan-rekan masih berada di sana dan Insya Allah bisa dipadamkan,” ujarnya.
Di Rokan Hulu, kabut asap masih terlihat cukup tebal di kawasan kaki Bukit Barisan, khususnya wilayah Kecamatan Rambah dan Rambah Samo, Jumat (28/8). Kalaksa BPBD Rohul Zulhendri mengatakan, berdasarkan pemantauan dan informasi yang diterima, Jumat (28/8) siang, terpantau Rohul tidak terdeteksi hotspot.
Kondisi tersebut menunjukkan tidak adanya indikasi titik panas baru yang terpantau. “Untuk hotspot saat ini nihil. Namun dari hasil pemantauan di lapangan, kabut asap masih terlihat, terutama dari arah kawasan kaki Bukit Barisan yang berada di wilayah Rambah dan Rambah Samo,” ujar Zulhendri, Jumat (28/8).
Menurutnya, keberadaan kabut asap yang masih terlihat belum tentu berasal dari kebakaran yang terjadi di wilayah Rohul. Asap dapat terbawa angin dari wilayah lain, terutama jika terdapat kebakaran hutan dan lahan di daerah sekitar. “Kita tetap melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi di lapangan dan mengantisipasi apabila ada potensi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Api Karhutla Dekati Rumah Warga
Karhutla kembali terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kali ini, api membakar lahan gambut di kawasan Parit 17 hingga Parit 19, Kelurahan Sungai Beringin, Tembilahan, dan mulai mendekati permukiman warga, Jumat (28/8).
Berdasarkan pantauan di lokasi, areal gambut yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare. Kobaran api berada cukup dekat dengan rumah penduduk, dengan jarak titik kebakaran terdekat diperkirakan hanya sekitar 30 hingga 50 meter.
Kondisi tersebut membuat warga bersama tim gabungan meningkatkan kewaspadaan. Upaya pemadaman dan pendinginan telah dilakukan sejak malam hingga Jumat pagi untuk mencegah api merembet ke kawasan permukiman.
Namun, proses pemadaman di lapangan tidak mudah. Minimnya sumber air di sekitar lokasi menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, kondisi lahan gambut yang kering membuat bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meski bagian atas lahan telah disiram.
Kondisi itu menyebabkan api berpotensi kembali muncul setelah dilakukan pemadaman. Karena itu, petugas bersama warga terus melakukan penyiraman dan pendinginan secara berulang, sekaligus menyekat areal yang terbakar agar api tidak menjalar ke arah rumah penduduk.
“Kami terus berupaya semaksimal mungkin agar api tidak sampai menjangkau rumah warga. Jaraknya sudah sangat dekat, jadi penjagaan dan penyekatan harus diperketat,” ujar salah seorang warga setempat, Amsari.
Tim gabungan juga terus melakukan koordinasi dan pengerahan personel di lokasi. Selain memadamkan kobaran api, petugas melakukan pendinginan pada lahan yang telah terbakar untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Kalaksa BPBD Inhil, R Arliansyah mengatakan, penanganan karhutla terus dilakukan bersama masyarakat. Menurutnya, kondisi gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.
“Kendala utama di lapangan adalah ketersediaan sumber air yang minim serta kondisi gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan. Namun, tim gabungan bersama warga terus berjibaku di lapangan untuk melakukan pendinginan secara intensif agar potensi kebakaran susulan dapat dicegah sejak dini,” tegasnya.
Hingga Jumat petang, petugas dan masyarakat masih melakukan pemantauan serta pendinginan di sekitar areal terbakar. Penyekatan juga terus diperkuat untuk mencegah api meluas dan semakin mendekati permukiman warga. (ayi/sol/ilo/dac/kas/kom/fad/epp/*2/das)
Editor : Bayu Saputra