PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut kembali melakukan penyesuaian harga berkala Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku efektif mulai 1 September 2026. Antrean kendaraan yang mengisi BBM subsidi solar pun tampak semakin mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Diketahui, untuk wilayah Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, pertamax turbo yang sebelumnya dijual Rp19.100 per liter menjadi Rp20.450 per liter, pertamina dex dari Rp22.100 per liter menjadi Rp26.300 per liter, dan dexlite dari Rp20.550 per liter menjadi Rp24.750 per liter.
Mahalnya dexlite, diduga membuat masyarakat memilih untuk mengunakan solar yang harganya dibanderol Rp6.800 per liter. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut tidak memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi dilakukan belum dijawab.
Di SPBU Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru, antrean panjang didominasi kendaraan yang hendak mengisi solar, Rabu (2/9). Truk, mobil barang, hingga kendaraan pribadi mengular hingga ke badan jalan dan sempat membuat arus lalu lintas di sekitar SPBU sedikit terganggu.
Baca Juga: Tembus 170 Lebih Bikers, New Vario Evo Night Ride Vol 2 Terangi Malam Pekanbaru
Seorang sopir truk bernama Darwin mengatakan, antrean solar tersebut sudah biasa terjadi. “Biasa sudah seperti ini ikut antrean solar. Informasinya hari ini (kemarin, red) solar masuk SPBU,” ungkapnya, Rabu (2/9).
Hal senada disampaikan Aswin, pemilik minibus yang turut mengantre untuk mendapatkan solar di SPBU Jalan Arifin Ahmad. Ia mengaku sudah hampir dua jam berada dalam antrean. “Sudah biasa ikut antrean, sudah hampir dua jam. Katanya solar ada, tetapi kok antrean tak bergerak jalan,” ujarnya.
Sementara itu, antrean kendaraan yang menggunakan BBM jenis pertalite maupun pertamax terpantau relatif normal. Sedangkan kendaraan yang hendak mengisi BBM nonsubsidi tidak terlihat mengalami antrean panjang seperti kendaraan yang mengisi solar. “Aman saja, ya antre biasa saja. Tak sampai berhenti seperti antrean solar,” ujar Danil, salah seorang pengendara.
Baca Juga: Janjian Kencan Diduga Sesama Jenis Berujung Curas, Korban Kehilangan Hp Rp18 Juta
Petugas SPBU Jalan Arifin Ahmad yang mengaku bernama Ris juga membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, antrean panjang lebih banyak terjadi pada kendaraan yang mengisi solar. “Solar ada, sudah antre sejak siang. Yang isi pertamax 98 sesekali, banyak isi pertalite, juga,” ujarnya
Antrean kendaraan mengisi solar juga terpantau terjadi di SPBU Jalan Soekarno-Hatta. Salah seorang pengendara, Vani, mengatakan antrean yang terjadi di SPBU tersebut lebih banyak disebabkan kendaraan yang hendak mengisi solar. “Antrie solar, kalau pertalite dan pertamax normal saja itu,” terang Vani.
Ia menyebut antrean kendaraan pengguna solar memang kerap terlihat ketika pasokan BBM tersebut masuk ke SPBU. Kondisi ini membuat kendaraan, terutama kendaraan yang menggunakan solar harus menunggu dalam antrean.
Pantauan di lokasi, kendaraan yang mengantre didominasi kendaraan besar dan kendaraan yang membutuhkan BBM solar. Sebagian kendaraan bahkan harus menunggu di sisi jalan hingga mendapatkan giliran mengisi BBM.
Antrean tersebut juga menjadi perhatian karena kendaraan yang mengular hingga tepian jalan berpotensi mengganggu kelancaran arus lalu lintas di sekitar SPBU.
Antrean truk-truk juga terlihat di SPBU pingiran kota. Yakni di SPBU Marpoyan di Jalan Kaharuddin Nasution dan SPBU Simpang Pandau di Jalan Pasir Putih, Siak Hulu, Kampar. Rabu (2/9), puluhan truk sudah berbaris teratur di Jalan Kaharuddin Nasution dari arah Simpang Kubang.
Truk-truk ini seakan berbaris menutupi pagar SMK Pertanian Terpadu Riau. Akibatnya jalan menyempit dan kerap memicu kepadatan lalu lintas di tikungan dekat halte yang berada di depan SMK tersebut. Seorang sopir truk ketika ditemui wartawan mengaku, sudah terbiasa pula dengan kondisi ini dan tidak bisa berbuat apa-apa. ‘’Sudah sering, sudah paham pula, disinilah harus antre,’’ ucapnya.
Kondisi tidak kalah memprihatinkan juga terlihat di SPBU Pandau. Di sini antrean truk tidak terlihat panjang. Tapi kemacetan yang diakibatnya lebih parah. Truk-truk antre solar sambil parkir di kedua sisi jalan. Kondisi sudah berlangsung berbulan-bulan dan seperti menjadi hal normal.
Tapi akibatnya, bukan saja kerap memicu kepadatan lalu lintas. Tanah pinggir jalan banyak berlubang akibat berjam-jam jadi tumpuan tronton. Bahkan pada salah satu sisi jalan, drainase roboh hampir sepanjang 50 meter. Permukaan tanah miring, hingga truk-truk yang tetap parkir di lokasi sama, berdiri dalam keadaan miring.
Seorang sopir yang ditemui di lokasi ini mengaku tidak punya pilihan lain jadi tempat antrean. Ia mengaku dipaksa kondisi. ‘’Di mana lagi? Di sana (di seberang truknya) penuh, banyak juga ditutup,’’ ujarnya.
Di Pelalawan, dampak naiknya harga dexlite, juga telah menyebabkan banyak pengendara antre beralih ke solar. Seperti di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633 Jalan Lintas Timur, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci, Rabu (2/9).
Pantauan Riau Pos, terlihat antrean panjang kendaraan, baik roda empat pribadi hingga kendaraan roda sepuluh baik truk hingga bus komersil di SPBU tersebut untuk mengisi solar. Sementara itu, di jalur pengisian BBM nonsubsidi, khususnya dexliteterpantau sepi peminat.
Supriadi, salah seorang pengemudi pikap L-300 yang berdomisili di Jalan Hangtuah SP 7 Simpang Perak Kecamatan Kanan Kabupaten Siak ini mengaku sebelumnya kerap menggunakan dexlite, namun kemudian beralih ke solar.
“Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang jalur solar ini. Jadi, siap-siap sajalah kalau mau ngisi BBM subsidi ini, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antrie terlalu lama,” paparnya, Rabu (2/9).
Menurutnya, efek domino dari migrasi konsumen dexlite ke solar tersebut, dikhawatirkan berpotensi terjadinya kelangkaan solar. “Saya khawatir solar nantinya akan semakin langka karena semua orang pindah ke BBM bersubsidi ini. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi, sehingga tidak dikeluhkan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Erwin A menambahkan bahwa, pihaknya membatasi kuota solar bagi pengendara. Yakni maksimal 80 liter. “Jadi, setiap kendaraan diberi jatah maksimal 80 liter,” ujarnya.
Dijelaskan Erwin bahwa, saat ini stok solar yang masuk sebanyak 16 ton. Sedangkan untuk stok dexlite sebanyak 8 ton. “Stok dexlite masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga,’’ ujarnya.
‘’Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 1 ton. Itu pun yang beli mobil pribadi dan truk lintas provinsi. Sedangkan untuk menyiasati agar pengendara bisa mendapatkan solar, maka jatah maksimalnya kita tentukan sebanyak 80 liter,” tambahnya.
Di Siak, SPBU14.286.136 Jalan Lintas Siak-Tumang, Kecamatan Siak, tidak menjual minyak subsidi sejak sepekan terakhir. “Saat ini kami menjual minyak subsidi, solar Rp6.800 dan pertalite Rp10.000,” ujar Operatur SPBU bernama Sudu. ‘’BBM nonsubsidi, jenis dexlite yang saat ini ada di harga Rp24.750, sudah lima hari belum masuk, sedangkan jenis pertamax sudah tiga hari kosong,’’ tambahnya.
Di Kuantan Singingi (Kuansing), di SPBU antrean kendaraan mengisi BBM juga sedikit bertambah. Di SPBU Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, antrean kendaraan sedikit lebih banyak di pagi hari, baik kendaraan yang mengisi pertalite maupun solar.
Dari arah Telukkuantan, antrean kendaraan hingga ke depan toko Damai. Sementara dari arah Pekanbaru, antrean kendaraan berbahan bakar solar hingga ke depan rumah mantan Wakil Bupati Kuansing Halim di Sungai Jering pada pagi hari. Sementara untuk pertalite, tidak ada antrean. karena pasokan pertalite uang sudah habis.
Bagian administrasi SPBU Sungai Jering, Mega Wahyuna menyebutkan, perubahan kondisi antrean kendaraan yang sedikit lebih ramai itu bukan dampak dari kenaikan harga baru BBM nonsubsidi. “Tak ada pengaruh dari kenaikan harga BBM nonsubsidi yang baru, mungkin karena SPBU kita berada di tengah kota,” ujarnya.
Antrean juga terjadi di sejumlah SPBU Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Pantauan di lapangan, Rabu (2/9), antrean terlihat di beberapa SPBU di wilayah Pasirpengaraian. Kendaraan yang mengantre didominasi mobil pribadi, angkutan, hingga dump truck yang hendak mengisi solar.
Fenomena ini sebenarnya telah berlangsung sekitar sepekan dan tidak hanya terjadi setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi. Di dua SPBU yang beroperasi di ibu kota Kabupaten Rohul, Kecamatan Rambah, antrean kendaraan untuk mendapatkan solar terlihat hampir setiap hari.
Salah satu titik antrean berada di SPBU Jalan Tuanku Tambusai, Dusun Pasir Putih, Desa Pematang Berangan. Kendaraan yang hendak masuk terkadang mengular hingga badan jalan sehingga mengganggu pengguna jalan yang melintas.
Kondisi serupa terlihat di SPBU Jalan Lingkar Pasirpengaraian. Pada waktu tertentu, panjangnya antrean membuat arus kendaraan di sekitar lokasi menjadi tersendat. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah kendaraan pribadi juga terlihat mengisi solar.
Salah satunya SUV mewah yang terlihat dilayani petugas saat melakukan pengisian. Pemandangan tersebut menjadi perhatian karena kendaraan pribadi tersebut tergolong kendaraan kelas menengah atas. Seorang sopir travel rute Pasirpengaraian-Pekanbaru bernama Ateng, mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi solar.
“Bukan hanya hari ini antreannya panjang. Hampir setiap hari seperti ini. Kami yang membawa penumpang tentu terganggu karena waktu banyak terbuang hanya untuk mengisi BBM,” keluhnya.
Ateng berharap pemerintah dan aparat penegak hukum memberi perhatian terhadap kondisi tersebut. Kepolisian, khususnya Polres Rohul, diminta meningkatkan pengawasan di SPBU yang mengalami antrean panjang.
“Kalau bisa polisi menempatkan personel di SPBU yang antreannya panjang. Bukan untuk mengganggu masyarakat yang memang membutuhkan Solar, tetapi untuk mengantisipasi adanya pelangsir,” katanya.
“Kalau memang ada yang melangsir atau menimbun, tentu harus dicegah. Tapi kami tidak bisa mengatakan itu penyebab antrean sekarang. Yang kami lihat, antreannya memang panjang dan terjadi hampir setiap hari,” tambahnya.
Senada diungkapkan warga lainnya bernama Firman. ‘’Diperlukan pengawasan dan evaluasi dari pihak terkait untuk mengetahui penyebab panjangnya antrean pengisian solar, termasuk memastikan ketersediaan pasokan dan kepatuhan konsumen terhadap ketentuan penggunaan BBM subsidi di SPBU,’’ ujarnya.
Diakuinya, antrean panjang kendaraan di SPBU jalan Lingkar Pasirpengaraian, Rabu (2/9), bukan kendaraan yang mengisi BBM nonsubsidi, tetapi kendaraan yang mengisi solar. ‘’Antrean kendaraan di SPBU Jalan Lingkar Pasirpengarain sudah sering terjadi,’’ terangnya.
Di Rokan Hilir (Rohil), aktivitas pengisian BBM di SPBU Batu Empat, Bagansiapiapi, berjalan normal. Pihak pengelola SPBU Batu Empat, Adharsam, mengatakan tidak terjadi peningkatan antrean yang signifikan setelah adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Alhamdulillah sampai saat ini kondisi masih aman dan lancar. Tidak ada antrean panjang seperti yang dikhawatirkan sebagian masyarakat. Pelayanan tetap berjalan seperti biasa,” ujar Adharsam, Rabu (2/9).
Ia juga memastikan ketersediaan BBM di SPBU Batu Empat masih dalam kondisi aman. Pihaknya terus melakukan koordinasi dan mengikuti mekanisme distribusi yang telah ditetapkan agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal.
Adharsam menambahkan, pihak SPBU juga terus mengimbau masyarakat agar tetap melakukan pengisian secara normal dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Hal tersebut penting untuk menjaga kelancaran distribusi serta ketersediaan BBM bagi seluruh masyarakat.(end/ilo/amn/mng/dac/epp/fad/das)