PEKANBARU (RIAUPS.CO) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengajukan penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis biosolar dan pertalite ke BP Migas. Ini dilakukan karena saat ini banyak antrean kendaraan terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terutama untuk pengisian biosolar.
Kepala Dinas ESDM Riau Ismon mengatakan, untuk kuota biosolar penambahan kuota yang diajukan sebanyak 99.700 kiloliter (kl). Sedangkan penambahan kuota pertalite sebanyak 99.556 kl. “Pemprov Riau telah mengajukan kuota BBM jenis biosolar dan pertalite. Saat ini tinggal menunggu persetujuan dari pusat dalam hal ini BP Migas,” ujarnya, Jumat (4/9).
Dengan adanya penambahan kuota tersebut, diharapkan dapat mengatasi antrean di SPBU. Apalagi memang biasanya, jelang akhir tahun konsumsi BBM mengalami peningkatan. “Namun realisasi pengajuan penambahan kuota BBM jenis biosolar dan pertalite tersebut tergantung pihak BP Migas. Karena realisasi penambahan kuota tersebut juga tergantung kemampuan APBN,” paparnya.
Terkait antrean yang banyak terjadi di SPBU belakangan ini, pihaknya juga sudah melaporkan kondisi tersebut kepada pihak Pertamina Patra Niaga. Di mana pihak Pertaminalah yang mengatur pendistribusian kuota BBM. “Kami terus melakukan koordinasi dengan pihak Pertamina Patra Niaga,” ujarnya.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Alami Kenaikan
Sementara itu, untuk stok pertalite dilaporkan hingga akhir tahun persediaannya masih aman. Namun pihaknya tetap mengajukan penambahan kuota untuk mengantisipasi kenaikan konsumsi jelang akhir tahun. “Kalau BBM jenis pertalite kemungkinan nanti saat libur Natal dan tahun konsumsinya mulai meningkat,” sebutnya.
Antrean panjang di lajur solar masih terjadi pada SPBU di Pekanbaru dan daerah lain di Provinsi Riau, Jumat (4/9). Bahkan, antrean lebih panjang terlihat di jalan lintas yang menjadi lalu lintas dari mobil angkutan barang dan sejenisnya.
Baca Juga: Pengguna Beralih ke BBM Subsidi, Konsumsi di Riau Meningkat
Terkait hal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus mengoptimalkan penyaluran BBM di Provinsi Riau seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap BBM subsidi.
Peningkatan kebutuhan tersebut dipengaruhi oleh adanya pergeseran konsumsi dari sebagian pengguna BBM nonsubsidi ke BBM subsidi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, letak Provinsi Riau yang berada pada jalur strategis Jalan Lintas Sumatera juga menyebabkan tingginya aktivitas kendaraan dari luar daerah yang melakukan pengisian BBM di sejumlah SPBU di wilayah tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, Pertamina terus melakukan berbagai langkah antisipasi agar peningkatan kebutuhan tersebut tidak berdampak pada ketersediaan BBM bagi masyarakat di Riau.
“Meningkatnya kebutuhan BBM di Riau dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adanya pergeseran konsumsi dari sebagian pengguna BBM nonsubsidi ke BBM subsidi serta tingginya aktivitas kendaraan yang melintasi jalur strategis Sumatera,’’ ujarnya.
‘’Oleh karena itu, Pertamina Patra Niaga terus mengoptimalkan penyaluran agar kebutuhan energi masyarakat, khususnya di Provinsi Riau, tetap dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Fahrougi.
Sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut telah meningkatkan realisasi penyaluran BBM di Riau. Hingga Agustus 2026, realisasi penyaluran BBM tercatat meningkat sekitar 27 persen dibandingkan April 2026, saat kondisi penyaluran masih berlangsung normal.
Peningkatan penyaluran tersebut dilakukan sebagai upaya mengakomodasi meningkatnya kebutuhan masyarakat sekaligus memastikan masyarakat Provinsi Riau tetap memperoleh layanan energi secara optimal.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus melakukan monitoring terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM, memperkuat koordinasi dengan BPH Migas, pemerintah daerah, Hiswana Migas, serta aparat terkait guna memastikan distribusi berjalan optimal.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan karena stok dan penyaluran BBM di Riau dalam kondisi aman.
Belakangan juga muncul dugaan terkait adanya truk pelangsir solar yang ikut mengantre. Menanggapi hal ini, Pertamina mengaku memperketat monitoring terhadap lembaga penyalur untuk memastikan BBM subsidi diberikan sesuai ketentuan.
“Pembinaan terus dilakukan terhadap SPBU yang memerlukan peningkatan kepatuhan, bahkan dengan memberikan rekomendasi pemberian sanksi tegas kepada operator SPBU, termasuk pemberhentian operator yang terbukti melanggar aturan penyaluran BBM subsidi,” lanjutnya. Pertamina juga menjalin koordinasi intensif bersama pemerintah daerah setempat sebagai upaya pengawasan sekaligus penindakan terhadap potensi penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan. Pertamina juga terus memperkuat sistem penyaluran BBM Subsidi melalui pemblokiran dan penghapusan barcode kendaraan yang terindikasi melakukan pengisian berulang maupun transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Evaluasi terhadap sistem barcode juga terus dilakukan dan hasil evaluasinya akan dikoordinasikan dengan pihak terkait di tingkat pusat sebagai bagian dari upaya penyempurnaan sistem pengawasan penyaluran BBM subsidi.(das)
Editor : Bayu Saputra